Opini: Memajukan Kebudayaan Melalui Kekuatan Pendidikan

oleh
Kamsudin Ridwan, M.Pd. Staf Pengajar SMPN Satap Tapobali Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Kamsudin Ridwan, M.Pd*

 

Berbicara tentang pendidikan dan kebudayaan berarti berbicara menyangkut manusia dengan segala problemnya. Pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena hanya manusialah yang layak mendapatkan layanan pendidikan dan hanya manusialah makhluk yang menciptakan budaya dan peradaban. Manusia dan pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang kedua-duanya  mesti ada. Sejak manusia mulai hadir di bumi maka ikhtiar pendidikan pun mulai dilakukan meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebagai sebuah proses, pendidikan terus menerus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Perubahan-perubahan itu terjadi disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat. Di satu sisi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu maju memberikan implikasi positif bagi kehidupan manusia namun di sisi lain juga  menghadirkan sejumlah masalah baru. Tak luput pula dunia pendidikan pun dapat imbasnya.

Perubahan-perubahan yang tak menentu itu hendaknya direspon oleh semua kita: orang tua, tenaga pendidik (guru), pemerhati pendidikan, pemerintah, dan stakeholder lainnya. Jika tidak, kita akan tertinggal dan tergilas oleh zaman. “Tak ada yang abadi di dunia ini, yang ada hanyalah perubahan itu sendiri”. Ungkapan filosofis ini mengandung makna bahwa kita tidak dapat mengelak dari perubahan itu.

Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan sebagai proses transmisi budaya memainkan peran strategis dalam memajukan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa. Ini berarti kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu negara sangat tergantung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada pada suatu negara tersebut. Cepat atau lambat berkembangnya kebudayaan dan peradaban suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh SDM yang disiapkannya.

Oleh karena itu, membangun SDM melalui penguatan pendidikan adalah keniscayaan yang tak terbantahkan. Pemerintah melalui berbagai regulasi dan kebijakan telah melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan pendidikan Indonesia yang berkualitas. Indikator mutu pendidikan di Indonesia diukur berdasarkan 8 standar nasional yang dikenal dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagaimana yang diatur dalam PP Nomor 19 Tahun 2005.

Salah satu SNP di antara 8 standar tersebut adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang perlu mendapat perhatian prioritas. Untuk meningkatkan mutu pendidikan maka salah satu komponen penting pendidikan yang harus mendapatkan perhatian utama adalah guru. Kita boleh berasumsi bahwa guru yang berkualitas pasti akan melahirkan siswa yang berkualitas pula. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru merupakan keharusan.

Salah satu upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia adalah memberlakukan sertifikasi guru bagi guru yang belum memiliki sertifikat pendidik. Semakin banyak guru yang memiliki sertifikat pendidik (sertifikasi), mestinya kualitas/mutu pendidikan di sekolah semakin meningkat. Namun kondisi riil di lapangan berbanding terbalik. Pemberian sertifikat pendidik belum mampu menghadirkan pendidikan berkualitas.

Alasan yang mendasar pemberian sertifikat pendidik belum sanggup menyumbangkan pendidikan berkualitas adalah dana tunjangan sertifikasi guru semestinya dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan profesonalisme guru seperti: pengadaan laptop sebagai alat penunjang dalam pelaksanaan tugas; pengadaan buku-buku bacaan untuk guru bersangkutan sehingga dapat memicu budaya baca dan menambah wawasan guru; dan masih banyak lagi kebutuhan guru lainnya yang terkait dengan peningkatan profesionalisme guru namun kenyataannya dana tunjangan tersebut masih banyak pemanfaatannya untuk keperluan pribadi guru bersangkutan seperti diperuntukkan untuk membiayai kuliah anak; membiayai pesta keluarga; dan masih banyak lainnya yang tidak terkait langsung dengan peningkatan profesionalisme guru.

Kualitas pendidikan Indonesia, masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Contoh saja Jepang sebagai salah satu negara maju, mereka menaruh perhatian yang sangat tinggi terhadap pendidikan. Kita masih ingat bukan? Pasca Kota Nagasaki dan Hirosima dibom atom oleh Sekutu, Jepang tidak memiliki apa-apa lagi, akan tetapi mereka dengan segera keluar dari keterpurukan itu. Hal pertama yang mereka pikirkan adalah mencari guru untuk membenahi pendidikan mereka sehingga pada akhirnya Jepang dapat membangun kembali kebudayaan dan peradaban mereka pasca peristiwa tersebut.

Manusia sebagai makhluk yang berbudaya karena  dilengkapi dengan kekuatan akal-pikiran, jasmani-rohani sehingga ia mampu mengembangkan peradabannya. Sebagai makhluk yang berbudaya, manusia terus mengembangkan dirinya seiring dengan laju perkembangan pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat pengetahuannya maka semakin cepat pula tingkat kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa sehingga tingkat kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya.

Pada zaman dahulu sebelum manusia mengenal tulis-baca (prasejarah), kebudayaan dan peradaban manusia berkembang relatif lambat, pola hidup dan pola pikir mereka masih sangat terbatas, ketergantungannya terhadap alam sangat tinggi, kehidupan mereka masih berpindah-pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat lain, pola mengumpulkan makanan pun masih bersifat food gathering.

Hal demikian juga turut memberikan pengaruh terhadap pola pendidikan mereka. Mereka melakukan pendidikan dengan pola yang sangat sederhana sebatas memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup (survive) seperti mengajarkan bagaimana cara berburu dan bagaimana cara menangkap ikan. Semua ini dilakukan dengan cara dan alat yang sederhana.

Dewasa ini, laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, ikut mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Tak luput juga aspek pendidikan dan budaya. Untuk itu, kedua aspek ini mesti mendapat perhatian khusus. “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaaan” merupakan tema yang menarik untuk dikaji dan sekaligus menjadi tantangan masa depan bagi bangsa Indonesia.

Sudah saatnya Indonesia harus bangkit dari ketertinggalan dan keterbelakangan dengan memperkuat aspek di bidang pendidikan, terus melakukan pembenahan sistem pendidikan. Negara yang tingkat pendidikannya maju maka dapat dipastikan tingkat kebudayaan dan peradabannya pun akan semakin maju. ***

*)Penulis adalah Staf Pengajar SMPN Satap Tapobali Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *