Beranda Headline Puisi: Di Antara Gerimis dan Malam

Puisi: Di Antara Gerimis dan Malam

3218
0
Foto: Ilustrasi (marmax)

Puisi: Gerard N Bibang

 

1/
mungkin betul apa yang dikatakan oleh sebait baris puisi ini
ada sebuah rasa bergemuruh, datang dan pergi
serasa hampa di ujung barisnya
mengikuti tarik menarik di antara gerimis dan awal malam
denyut-denyut menderasi raga menuju klimaks
tapi tidak sampai-sampai juga
sebuah jalan tak bertuan terbentang di depan mata
akankan ziarah berdua dimulai sejak sekarang juga?

2/
di antara gerimis dan malam hari
kau tidak ada di sini
sekonyong-konyong membayang wajahmu di ujung jalan itu
mengingatkan sebuah frasa yang menitipkan segores pilu
jangan, jangan lebih dari tindakan ini, katamu
ya, kita adalah makhluk raga yang rapuh

3/
berkecamuk di dalam dada sesuatu yang ditindis gerimis di awal malam
entah kenapa tak seorang pun yang mampu menjelaskannya
dari kejauan terdengar riak sungai yang mengalir tanpa ketahuan di mana mata airnya
dan tidak ada yang mencari akan sampai di mana sungai itu bermuara
hanya satu yang pasti bahwa hujan ini turun diawali gerimis
tanpa diketahui titik-titik air itu tumpah dari angkasa mana dan dari ketinggian berapa
persis seperti rasa yang sedang membara
ke mana dan kepada siapakah ia mendesah tak pernah bisa diramalkan
ini sungguh sebuah takdir
misteri tak terselami

4/
kau terlalu lelah
biarlah kata-kata sebait puisi ini menyelimuti tubuhmu
percayalah tak’an dimintai apa-apa
mungkin hanya rahasia waktu
aku menitipkan narasi kita kepada malam
agar menemukan jalan lain menemuimu
mungkin sesudah gerimis melibas pekatnya malam

5/
bersama merenungi senyap malam itu
kita termangu
demi dahaga rindu yang memberontak dalam rongga
sebab musabab yang membuat suasana begini sudah sama-sama tahu
sementara gerimis di luar semakin deras titik-titik airnya
tanpa ada yang mengkonfirmasikan apakah itu limpahan runtuh dari langit ketujuh
ataukah sesungguhnya gerimis dari angkasa hati di dalam dirimu-lah yang turun
adalah rahasia waktu jualah
yang akan menyeret awan menuju peningkatan gerimis menjadi hujan lantas hujan menjadi hujan deras
dan ketika malam itu benar-benar terjadi
barulah kau tahu yang disebut cinta sejati memang tak terbagi

6/
titik-titik gerimis entah kapan selesai
hanya menutup ruang angkasa ke tempat mana kenangan kita akan membubung
tapi kita betah di sini
rayuan semilir malam menyapa tubuhmu
tubuhmu adalah rumah yang sejuk
tak perlu ke mana-mana harus mencari lagi
kita sudah putuskan untuk menjaga level cinta masing-masing
toh menyatu raga akan menemukan jalannya sendiri
mungkin melalui puisi, kata dan nada
galau dan rindu bersatu dalam jiwa
berkembara tak tentu kiblatnya ke mana

7/
sudut jalan itu sepi
titik-titik gerimis entah kapan berhenti
senja telah merapat ke perut malam
sebuah frasa penting telah kita petik dari siang
bahwa bathin kita telah matang
untuk lebih paham arti kehilangan

8/
kita pernah bersama
bertahan menunda lapar
demi dahaga yang sempurna
kita relakan bathin remuk
ngarai kelam tak terselami datang membentur-bentur
ini bukan huruf-huruf dalam bait puisi
melainkan kenyataan yang penuh presisi

9/
sepi terhampar di depan mata
ketika gerimis menghunjam atap dengan amat derasnya
kau tak ingin tersenyum
sebab mungkin kau terlanjur berprasangka buruk
bahwa cinta yang sudah dirawat sekian lama tak lain adalah imaji di balik prasangka
bagaikan cinta aneh menuju ke sebuah dermaga
sebelum hangus terbakar di penjara bayang-bayang

10/
sepanjang nadi berdenyut cinta
menghantar gerakan-gerakan yang sama-sama sudah tahu ke mana sasarannya
hanya gerimis deras malam berkata tidak ada apa pun yang akan menjelma
kesedihan dalam sukma memang hanya kilasan lanskap atau bayang-bayang gerimis yang tak bersahabat
kita berdua tetapi terasa sunyi
detak-detak menit di jarum jam menjadikan suasana kian miris
hujan deras pun turun, runtuh
tapi kesunyian ini tak mengutuk apa pun. ***
(gnb:tmn aries:jkt:minggu:29.4.2018)

Gerard N Bibang (Foto: DOK Pribadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here