Opini: Liga Desa, Ide Liar bagi Kemajuan Sepak Bola NTT

oleh
Evan Lahur, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan Desa STPMD “APMD” Yogyakarta, Anggota ICI Regional Ruteng, Flores NTT. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Evan Lahur*

 

Sepak bola Indonesia mulai bergejolak. Hal ini ditandai oleh beberapa poin penting pertama gelaran Liga 1 musim 2018-2019 menghadirkan gairah baru bagi perkembangan sepak bola nasional. Kedua, kembalinya tiga tim tradisional Indonesia di kancah Liga 1 musim baru ini yakni Persebaya Surabaya, PSIS Semarang dan PSMS Medan. Ketiga, generasi emas timnas U-19 mulai terjun ke kancah profesional baik era Evan Dimas dkk maupun Egi M. Vikry dkk. Keempat, lepas dari persiapan menuju Asian Games, stadion kebanggaan Indonesia Gelora Bung Karno mulai meniti jalan menuju salah satu stadion terbaik di dunia.

Jika kita memilih membicarakan perkembangan sepak bola NTT, angin perubahan positif telah bertiup ke provinsi paling selatan Indonesia ini. Perlahan, Provinsi NTT mulai meniti jejak sebagai provinsi penghasil pemain berbakat dari wilayah Indonesia Timur. Meski masih jauh dari pencapaian saudara tua yakni Papua dan Maluku (Tulehu), toh provinsi NTT mulai bergejolak. Beberapa nama beken mulai mengisi daftar nama pemain di klub Liga 1 NTT seperti Yabes Roni Malaifani (Bali United), Alsan Sanda (Bhayangkara FC), Alfonsius Kelvan (Persebaya Surabaya) maupun Yulius Mauloko yang merumput di Australia. Belum lagi jika kita mengikuti perkembangan para pemain yang berkiprah di Liga Timor Lesta, banyak yang berasal dari NTT. Lebih lanjut, di tubuh kepengurusan PSSI sendiri, putra NTT mengirim dua wakilnya yakni Fary Francis dan Lambert Tukan. Beberapa fakta ini sudah mampu menjelaskan adanya geliat perkembangan sepak bola di tingkat regional, NTT.

Toh geliat sepak bola NTT ini belum didukung sepenuhnya oleh sebuah inovasi terbaru dari Asosiasi Provinsi (Asprov) NTT maupun dari Asosiasi Kabupaten (Askab). Program kerja rutinitas yang selalu diadakan biasanya penyelenggaraan El Tari Memorial Cup dan pelatihan wasit. Bagi penulis, peran KONI NTT lebih khususnya Asprov masih minim atau bahkan bisa dikatakan berjalan di tempat. Belum ada program kreatif yang mengarah kepada perkembangan sepak bola NTT. Untuk mengatasi hal ini, penulis mencoba menawarkan satu terobosan baru tentang Liga Desa.

Liga Desa ini berbeda dengan Liga Desa Nusantara yang tahun lalu pernah diselenggarakan oleh Kemenpora. Liga Desa ini didesign khusus untuk tim-tim yang berasal dari desa-desa di NTT. Idealnya ialah Liga Desa ini diadakan untuk satu pulau dulu sebagai percobaan misalnya untuk Liga Desa se-Pulau Flores. Peserta yang berpartisipasi dalam liga ini merupakan juara dan runner up dari setiap kabupaten. Tentunya untuk mendapatkan dua tim dari setiap kabupaten, setiap kabupatennya wajib mengadakan sejenis turnamen intern di kabupaten masing-masing. Setiap desa dapat mendaftarkan tim dari desa mereka masing-masing. Askab kabupaten wajib menjadi operator dari penyelenggaraan turnamen ini. Juara dan runner up akan mewakili kabupatennya untuk mengikuti Liga Desa antar kabupaten. Setiap tim yang akan mengikuti Liga Desa ini akan bertanding melawan desa-desa lainnya perwakilan dari setiap kabupaten.

Konsep liga di tingkat yang lebih tinggi (antar kabupaten) ini sudah masuk dalam tataran profesional. Tentunya dikemas dalam pengelolaan liga yang mengacu pada standar PSSI. Dalam penyelenggaraan ini, Asprov wajib menjadi operator utama yang kemudian mewajibkan askab menjadi panitia pertandingan. Setiap tim harus memiliki stadion atau lapangan sebagai kandang. Sehingga sistem pertandingan ialah home away. Setiap tim akan saling bertemu dengan tim lainnya hingga pada akhirnya akan mendapatkan juara dari perolehan poin terbanyak. Artinya ialah Liga Desa mulai mengarah kepada penyelenggaraan liga yang semi profesional. Artinya klub-klub tersebut harus memiliki manager, tim pelatih dan kepengurusan yang jelas. Lepas dari itu semua, askab pun akan berpikir serius dalam mengelola Liga Desa ini minimal sebagai operator, pengelolaan Liga ini mulai mengarah ke tingkat semi profesional. Pendanaan klub bisa menggunakan sebagian dari dana desa namun tidak membebankan dana desa sepenuhnya. Dana desa hanya sebatas pemicu untuk menghasilkan keuntungan dari keberadaan klub-klub tersebut sebagai klub semi profesional semisal dari sponsor dan sumber keuntungan lainnya.

Ada pun manfaat yang bisa didapatkan dari kehadiran klub-klub yang berlaga di Liga Desa ini ialah pertama, lahirnya klub-klub baru dengan status semi profesional. Tentunya status klub-klub semi profesional ini akan mengarah kepada status sebagai klub profesional. Dengan struktur kepengurusan klub yang semi profesional setidaknya klub-klub ini mulai belajar untuk mandiri. Baik itu dari segi pendanaan maupun pengelolaan di sektor lain.

Kedua, sebagai bagian dari pembinaan pemain muda. Liga Desa ini setidaknya menjadi wadah pengembangan pemain muda di setiap kabupaten. Adanya turnamen atau liga yang rutin ini setidaknya membantu askab kabupaten untuk menyeleksi para pemain muda yang bisa memperkuat tim kabupaten dalam ajang El Tari Memorial Cup. Toh asprov pun akan semakin mudah menyeleksi pemain yang akan bertarung di Pra Pon.

Ketiga, ajang ini pun akan membangkitkan sektor lain misalnya sektor ekonomi. Adanya liga ini akan menumbuhkan para wirausaha baru misalnya pengusaha baju klub, sewa kendaraan maupun penjual makanan dan minuman di sekitar stadion atau lapangan pertandingan. Dari segi sosial pun akan terasa manfaatnya yakni semakin berkurangnya permasalahan sosial di kalangan anak muda. Ketika liga ini bergulir, anak muda memiliki wadah lain untuk mengekspresikan diri. Bisa melalui keikutsertaan dalam seleksi pemain tim desa maupun ikut bergabung sebagai suporter tim. Belum lagi jika anak muda ini diarahkan untuk menangkap peluang menjadi wirausaha di gelaran Liga Desa ini.

Keempat, jika gelaran Liga Desa ini mulai ditata lebih baik lagi dan mengarah ke situasi profesional, penulis yakin para pengusaha (pemilik modal) tidak akan menutup mata untuk menginvestasikan modal di tim-tim peserta Liga Desa. Kelima, tentunya bagi desa, ajang ini bisa menjadi ajang promosi desa. Bagi desa-desa yang ingin mengembangkan produk usaha desa mereka masing-masing bisa memanfaatkan ajang ini untuk promosi.

Ide ini masih mentah untuk disantap menjadi sebuah kebijakan. Akan tetapi ide liar ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku sepak bola di daerah lebih khusus yang duduk di kepengurusan asosiasi kabupaten. Memang harus diakui, alasan dana selalu menjadi alasan klasik yang mengeruak ke permukaan tak kala kita membahas permasalahan sepak bola NTT. Namun dengan kerja sama berbagai pihak misalnya desa dan kabupaten dalam hal ini pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), penggunaan dana desa bisa dialokasikan untuk membiayai penyelenggaraan liga ini. Setidaknya desa-desa bisa melakukan perjanjian dengan pihak terkait agar penggunaan dana desa ini untuk tujuan pemberdayaan pula. Dan tentunya bisa diberi batas waktu sampai kapan penggunaan dana desa ini akan berakhir.

Harapannya alokasi dana desa ini bisa menghantar klub-klub pada sebuah relasi yang harmonis antara klub dan pihak swasta. Penulis yakin, para pemilik modal tidak akan menutup mata akan geliat sepak bola di daerah. Selamat mencoba, semoga perkembangan sepak bola NTT bisa digerakkan dari berbagai lini. Mari kita menggocek ide ini agar bisa disarangkan dalam bentuk gol yakni kemajuan sepak bola NTT. Forza sepak bola NTT. ***

*)Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan Desa STPMD “APMD” Yogyakarta, Anggota Inter Milan Club Indonesia (ICI) Regional Ruteng, Flores NTT.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *