Bahagianya Oce Nabu Saat Pasungnya Dilepas

oleh
Direktur Medis Klinik Gangguan Jiwa Renceng Mose dr. M. Ronald Susilo (baju batik merah) dan Oce Nabu. (Foto: Adi Nembok/Florespost.co)

FLORESPOST.co, Ruteng – Kurang lebih enam bulan terakhir, Oce Nabu (28) hanya berdiam diri di rumah dan tidak bisa melakukan aktifitas apapun. Sebuah rantai besi mengikat kedua kakinya sehingga membatasi ruang geraknya.

Orang tua dan saudaranya bukan sedang menyiksa Oce. Keluarga melakukan itu demi kebaikan Oce, keamanan keluarga dan orang sekitar, sebab sebelum dipasung Oce kerap melakukan tindakan yang membahayakan keluarga dan orang-orang sekitarnya.

“Kami pasung dia bulan November tahun 2017 lalu. Kami lakukan itu karena kami lihat ada tindakannya yang bisa mengancam keselamatan kami dan orang-orang sekitar,” jelas ayah kandung Oce, Sabtu (12/5/2018) di kediamannya di Kelurahan Pau, Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai, NTT.

Baca juga: AJO Manggarai Beri Bantuan untuk Panti Renceng Mose

Informasi yang dihimpun Florespost.co, selama kurang lebih satu tahun terakhir, Oce mengalami gangguan jiwa. Sebelum dipasung, Oce kerap bepergian tak tentu arah tak terkecuali malam hari. Keluarga memutuskan memasung Oce, karena ada tindakan-tindakannya yang membahayakan keluarga dan orang lain.

“Pernah satu kali dia jalan kaki sampai di Lait Desa Kakor,” kata ayah Oce lagi.

Direktur Medis Klinik Gangguan Jiwa Renceng Mose dr. M. Ronald Susilo dan Oce Nabu (duduk menghadap kamera) dan kedua orang tua Oce (berdiri) saat memberikan keterangan pers. (Foto: Adi Nembok/Florespost.co)

Sebagaimana disaksikan Florespost.co, usai rantai di kakinya dilepas Oce terlihat bahagia. Bahkan Oce langsung mandi dan mengenakan pakaian dan sepatu sendiri. Didampingi dr. Ronal, petugas dari Renceng Mose dan utusan dari keluarga, Oce dihantar menuju pantai rehabilitasi untuk menjalani perawatan selanjutnya.

Kepada wartawan, dr.Ronal mengatakan, Oce diputuskan untuk  rawat di Renceng Mose atas kesepakatan dengan orang tuanya

“Sudah ada kesepakatan dengan pertemuan 4 kali dengan orang tua Oce,” jelas dr.Ronal.

Di klinik gangguan jiwa Renceng Mose, menurut dr. Ronald, Oce tidak langsung bergabung dengan pasien-pasien lainnya.

“Oce diisolisasi dulu di ruangan khusus selama dua minggu ke depan. Itu bertujuan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika langsung bergabung dengan pasien-pasien lainnya. Setelah stabil baru dia bergabung dengan pasien lainnya,” jelas Direktur Medis Klinik Gangguan Jiwa Renceng Mose ini.

Lebih lanjut dr. Ronald mengatakan, program bebas pasung adalah inisiatif Panti Renceng Mose serta ide darinya agar Manggarai bebas pasung.

“Manggarai bebas pasung ini artinya tidak boleh ada lagi orang-orang yang dipasung khususnya di wilayah Kabupaten Manggarai,” katanya.

Baca juga: Pemkab Manggarai Jajaki Kerjasama dengan Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose

Khusus wilayah Kabupaten Manggarai, sudah ada 14 orang yang bebas pasung dari program ini.

“Masih banyak yang belum tersentuh dari program ini seperti wilayah utara Manggarai,” ujar dr. Ronald.

Ia juga mengatakan, berdasarkan data ada 24 orang di Manggarai yang masih di pasung. Untuk melepas pasung juga bukan perkara mudah, sebab banyak tantangan yang dihadapi seperti tidak dijinkan keluarga, tetangga dan masalah ekonomi.

“Banyak sebetulnya alasan-alasan yang tidak masuk akal. Untuk masalah ekonomi, kami harapkan ada campur tangan dari Dinas Sosial untuk membantu biaya-biaya pokok selama rawat di panti ini,” harap dr. Ronald.

Reporter: Adi Nembok | Editor: FR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *