Puisi: Lonceng Air Mata

oleh
Foto: Ilustrasi (Istimewa)

Oleh: Gerard N Bibang

 

lonceng gereja berdentang di awal pagi

laudes*) bagi sang Pencipta di tempat tinggi

tapi kita-kita para makhluk selalu iseng

terhadap sesama manusia mengucurkan darah meleleh

kita tidak serius terhadap nilai
terhadap Allah-pun kita telah bersikap setengah hati

 

cinta dan luka, kekal pada lonceng gereja yang berdentang
air mata dan perih telah abadi memecah udara

mestikah mencari Tuhan pada darah anak-anak tak bersalah

yang diajak untuk menghabisi nyawa sesama ciptaan-NYA

 

aku, manusia rapuh, hanya meneteskan air mata

merembesi rahim bumi hingga ke dasarnya lalu membentuk samudera

tak mampu menerima tapi dengan apa kutolak:

kebisuan
keheningan
kelemahan
semuanya membungkus jiwa yang bebas

melarungkan dosa-dosa berbuih di awan-awan. ***

*)Laudes (kata latin) = Pujian

(gnb:jkt:minggu:13.5.2018: ketika tersiar khabar serangan di tiga buah gereja di Surabaya)

Gerard N Bibang (Foto: DOK Pribadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *