Beranda Diaspora FKPPM-BTT Makassar Siap Menjadi Pelestari Budaya Lokal Lamaholot

FKPPM-BTT Makassar Siap Menjadi Pelestari Budaya Lokal Lamaholot

59
0
Antonius Hubertus Gege Hadjon, Bupati Flores Timur, saat membawakan materi dalam seminar Budaya Lamaholot di Makassar. (Foto: Syaiful Ahmad)

FLORESPOST.co, Makassar Organisasi kedaerahan Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Boleng Tika Timu (FKPPM-BTT) Makassar menyelenggarakan acara seminar Budaya Lamaholot yang bertemakan “Refleksi Peran Pemuda Terhadap Eksitensi Budaya Lokal”.

Seminar yang berlangsung di Gedung Badan Diklat Kota Makassar, Minggu, (27/05) menghadirkan tiga narasumber yakni, Antonius Hubertus Gege Hadjon sebagai Bupati Flores Timur, Silvester Hurit S.Si. sebagai Budayawan Flores Timur dan Paskalis Kopong S.Pd. sebagai Koordinator Dewan Penasehat FKPPM-BTT.

Dalam acara yang dipandu Nur Rahima Jalal M.Hum tersebut, Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan jika budaya adalah identitas maka sudah semestinya kita memberikan perlindungan ekstra agar kita tidak kehilangan arah gerak dalam berkehidupan sosial, mempertahankan budaya artinya kita mempertahankan identitas.

(Foto: Syaiful Ahmad)

Menyadari akan pentingnya budaya, terangnya, maka dalam visi misi kami pun tidak lupa menjadikan budaya sebagai landasan dalam membangun daerah sebab budaya itu adalah warisan dari para leluhur yang sudah sekian puluh tahun dipertahankan. Oleh karna itu, sudah saatnya kaum muda dan birokrat pemerintahan harus duduk bersama membahas apa yang kita akan berikan kepada masyarakat luas.

“Pintu rumah jabatan selau terbuka untuk siapa saja, jadi kelak adik adik mahasiswa pulang, sempatkanlah waktunya untuk berdiskusi di kediaman kami agar kita bisa menyatukan ide dan konsep untuk membangun daerah secara bersama,” tutup politisi PDIP ini.

Paskalis Kopong, dalam pemaparannya mengatakan bahwa peran pemuda dalam pelestarian budaya lokal sangatlah vital. Di saat budaya kita dicengkram oleh globalisasi dan westernisasi maka pemuda harus membangun kepekaan sosialnya sebagai agen kontrol sehingga nilai nilai budaya yang sudah diwariskan oleh leluhur mampu kita sanubarikan di dalam hati dan mampu kita ejawantahkan ke dalam kehidupan kita sehari hari.

“Upaya yang dapat kita lakukan untuk menjaga eksitensi budaya antara lain, melakukan sosialisasi, melakukan festival budaya tahunan dan ikut mengawal peraturan pemerintah yang mengatur terkait dengan kebudayaan,” ungkapnya.

(Foto: Syaiful Ahmad)

Namun, tambah Paskalis, kontribusi dan peran pemuda ini belumlah cukup dalam pelestarian budaya, jika tidak didukung oleh kebijakan Pemerintah Kabupaten Flores Timur maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya agar ada regulasi atau kebijakan yang mampu melindungi nilai budaya ini sendiri.

“Makanya ke depan kami harapkan pemerintah kabupaten agar memberi ruang ekstra terhadap pemuda agar mampu mengekspresikan seni budaya itu sendiri,” pungkas Paskalis yang juga sebagai guru di kota daeng ini.

Sementara itu budayawan Flores Timur, Silvester Hurit dalam pemaparannya mengatakan bahwa belajar seni dan budaya berarti kita belajar tentang jati diri dan kebenaran dari kehidupan sosial itu sendiri.

“Ketika kita mengetahui esensi budaya maka dalam waktu yang bersamaan kita tahu tentang kekuatan daerah kita. Budaya dan seni mengajarkan kepada kita norma kesopanan, saling menghargai satu sama lain sehingga dalam berpolitik sekalipun kita harus memegang teguh prinsip budaya itu sendiri,” ungkapnya

Ditambahkannya, kita tidak boleh buta dengan ciri khas kita sendiri, ketika kita mengenakan pakian adat maka orang sudah tahu asal muasal kita dan itulah identitas setiap daerah.

Yohanes Geriok Sina, Ketua Umum FKPPM BTT Flotim Makassar, mengungkapkan bahwa follow up dari acara seminar hari ini adalah dengan mengadakan Pentas Seni Budaya Lamaholot di tanah Flores pada bulan tujuh nanti.

Hal senada juga ditegaskan oleh Muh. Natsir, salah seorang senior dari BTT. Ia mengatakan acara ini tidak sampai di sini saja tapi akan dilanjutkan nanti di kampung halaman dalam bentuk pementasan.

“Percuma acara ini hanya habis hari ini tanpa ada pesan dan nilai yang kita ambil. Muara kegiatan ini yang paling vital adalah penentuan hari budaya untuk Kabupaten Flores Timur sebagai pesta rakyat tahunan dan Perbub dan/atau Perda terkait budaya ini, hal ini untuk mempertahankan eksistensinya agar tidak punah sampai kapan pun,” beber alumnus Sarjana Hukum Universitas 45.

(Foto: Syaiful Ahmad)

Sederet tokoh masyarakat dari Lamaholot yang bermukim di Makassar hadir dalam acara ini, di antaranya, Benny Beda SH., Petrus Mangu Malen dan Tomas Ola Padak S.Pd..

Selain itu, hadir pula sejumlah perwakilan organisasi kedaerahan lain seperti: Kerukunan Pelajar Mahasiswa Islam (KEPMI Flotim Makassar), Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Adonara Barat-Adonara Tengah (IKAPPEM-ABAT), Himpunan Pelajar Mahasiswa Kedang (HIPMIK Lembata), Himpunan Mahasiswa Lamaholot (HIMALA), Keluarga Besar Pencinta Alam Lamaholot (KASPALA), Ikatan Keluarga Lama Mengi Makassar (IKLIM), Ikatan Pemuda Mahasiswa Solor (IPMAS Solor), Gerakan Mahasiswa Nusa Tenggara Timur (GEMA NTT) dan Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Flores Timur (HIPPMALAFTIM).

Jurnalisme Warga: Syaiful Ahmad (Simpatisan FKPPM-BTT dan Peserta Seminar Budaya)

Editor: Fransiskus Ramli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here