Beranda Headline Opini: Sepak Bola, Salah dan Kita

Opini: Sepak Bola, Salah dan Kita

80
0
Foto: Mohamed Salah (Istimewa)

Oleh: Yulius Ebot*

 

Sindhunata mengatakan bahwa sepak bola dan musik merupakan bahasa universal. Keduanya mampu membahasakan perdamaian dunia secara baik dan diterima secara luas oleh masyarakat dunia.

Sebelum laga final Champions edisi kali ini nama Mohamed Salah atau Mo Salah jadi headline media. Kiprahnya sebagai pemain bola di Eropa bersama Liverpool sungguh memikat para  Liverpuldian, sebutan untuk fans Liverpool. Saking memikatnya seorang Salah di mata para fans, mereka menyanyikan chant (nyanyian suporter) khusus untuk Salah.

Selain itu, mereka juga memberikan dukungan moril kepada Salah saat ia tidak menyelesasikan pertandingan karena cedera pada pertandingan leg pertama babak perempat final Liga Champions melawat Manchester City. Para fans fanatik The Reds menunjukkan simpati yang mendalam. Ada yang mengatakan bahwa mereka akan pergi ke semua Masjid untuk mendoakan kesembuhan Salah.

Salah tidak hanya dicintai oleh rekan-rekan di timnya, pun oleh para suporter fanatik Liverpool. Ia juga dicintai oleh semua orang. Siapakah Mo Salah dan kenapa sosoknya begitu fenomenal di mata orang banyak?

Mengenal Mo Salah

Mo Salah atau Mohamed Salah, lahir pada 15 Juni 1992. Berasal dari keluarga miskin di sebuah desa kecil di Mesir, Nagrig. Dikenal sebagai seorang yang pendiam dan disiplin. Di desa kecil itu hanya ada satu lapangan bola. Di lapangan berdebu itulah Salah kecil biasa bermain sepak bola bersama teman serta ketiga saudaranya. Dia merupakan anak tertua dari empat bersaudara.

Bakat Salah memang sudah terlihat sejak kecil. Dia dikenal sebagai pemain kidal yang lincah. Kemampuan Salah mulai terdengar keluar Nagrig saat dia bermain dalam Liga Pepsi ketika masih berusia 14 tahun. Salah langsung mendapat undangan dari salah satu klub Mesir, El Mokawloon, untuk bermain di Kairo yang berjarak 200 mil atau sekitar 321 kilometer dari Nagrig. Rintangan harus 5 kali berganti bis dari desanya ketika sang ayah tak bisa mengantar tak menyurutkan tekad pria yang kerap disapa Hadi, pendiam dalam bahasa Arab, itu.

Salah kecil merupakan anak kecil dengan keinginan keras yang mengorbankan segalanya demi bermain sepak bola. Dia juga pendiam, penurut dan juga penuh disiplin. Dia rajin Shalat dan kemudian tidur lebih cepat.

Salah mengawali karir profesionalnya di salah satu klub Mesir El Mokawlon pada 2011. Di tahun 2012 FC Basel meminang Salah. Hanya butuh satu tahun bagi Salah untuk menarik minat klub-klub Eropa lainnya. Dari Basel dia pindah ke Chelsea, Fiorentina, dan Roma serta Liverpool. Liverpool hanya membayar 42 juta euro atau sekitar Rp 705,8 miliar, harga yang murah jika melihat torehan 30 gol yang telah dia buat musim ini.

Tak hanya di level klub, Salah juga sukses bersama Timnas Mesir. Dia sukses membawa Negeri Piramida itu ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Itu merupakan keikutsertaan pertama kali Mesir sejak terakhir Piala Dunia 1990. Salah mencetak 5 gol dan dua assist dalam kualifikasi.

Di luar dan di dalam lapangan Sosok Mohamad Salah rupanya tetap sama. Dia tak pernah melupakan desa yang menjadi asal muasalnya. Dia masih sering berkunjung ke desa tersebut dan membangun sebuah pusat kebugaran di balai desa. Dia juga membangun sebuah lapangan sepak bola yang layak untuk sekolah tempat dia dulu menimba ilmu, Mohamed Ayyad Al-Tantawy.

Banyak Fans yang menyukainya, karena ketika dia datang dia selalu sabar memberikan tanda tangan, berfoto bersama. Mohamed Salah juga kerap memberikan sumbangan kepada pasangan muda miskin yang tak memiliki biaya untuk menikah. Bahkan, dia pernah memberikan uang kepada seseorang yang membobol rumah ayahnya. Salah juga membantu si pencuri itu untuk mencari pekerjaan.

Mohamed Salah dan Kita

Menarik menelusuri kiprah Mo Salah. Dari situasi kemiskinan ia mengais rejeki lewat Sepak Bola. Dia memulai segalanya dari bawah. Dia seperti kita, orang biasa-biasa, dengan karir naik turun, tidak stabil. Berapa kali Salah berganti klub. Pelatih menolak bahkan menyiakan bakatnya bermain bolanya.

Akan tetapi usaha keras tak kenal serta selalu setia dengan proses memberi Salah jalan untuk menaklukkan ketatnya kompetisi di Eropa. Bersama Liverpool, Salah jadi top skor liga, mendapatkan sepatu emas plus menghantar Liverpool sampai ke puncak final Champions Eropa tahun ini.

Apa yang kita pelajari dari kesaksian hidup Salah adalah nilai kehidupan tentang proses yang tidak akan mengkhianati hasil. Kemiskinan bukan merupakan realitas yang terberikan begitu saja kepada kita. Terlepas dari kemiskinan sebagai produk ketidakadilan sistem serta struktur yang sewenang-wenang, situasi kemiskinan mesti dilihat sebagai peluang. Seperti Salah, kita tidak boleh menyerah begitu saja dengan nasib. Kemiskinan meninggalkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk kita berusaha mengembangkan diri, bakat serta kemampuan sambil berusaha membebaskan diri dari situasi kemiskinan yang membelenggu.

Selain merupakan pesepak bola yang pernah alami situasi miskin, Mo Salah juga merupakan seorang Muslim yang tetap mempertahankan jati dirinya sebagai Muslim sejati. Di tengah arus zaman yang identik dengan budaya glamor dan sekularisme, Mo Salah, tidak seperti kebanyakan pemain bola lain, tetap menjadi seseorang yang beragama dan percaya karena iman dia mampu mencapai sukses yang hari ini didapatkan. Mo Salah bahkan tak segan-segan menunjukkan ekspresi imannya dengan berdoa serta sujud di atas lapangan.

Ekpresi iman Salah tidak hanya nampak di lapangan. Dia juga mengekspresikan imannya di luar lapangan dengan tindakan konkret menyumbang untuk kemanusiaan. Di tahun 2018 ia pernah memberikan gajinya untuk membiayai warga Mesir yang mengidap kanker tulang. Ia juga menyumbang untuk 70 pasang pasangan kawin massal di Mesir. Di tahun 2017, Ia juga memberi bantuan dana kepada para mantan pemain nasional Mesir yang mengalami masa sulit pasca pensiun. Karena tindakannya ini, di Mesir Salah dijuluki pahlawan kemanusiaan.

Hari ini penghayatan agama kita saya yakin tidak setaat serta sebaik Salah. Sering kali berhadapan dengan budaya glamour serta globalisasi yang masuk dalam kehidupan, penghayatan agama kita alih-alih menawarkan budaya tanding (alternatif seturut ajaran agama), malahan jatuh dalam kompromi dengan arus budaya global yang ada dalam bentuk privatisasi iman. Iman yang harusnya diterjemahkan dalam tindakan kasih dalam bentuk karya karitatif dan perjuangan untuk keadilan, tidak berperan banyak, di hadapan situasi kemiskinan masyarakat di sekitar kita.

Bahkan dalam konteks kita yang sering membenturkan perbedaan agama, sering kali kita menkomersialisasikan agama demi kepentingan politis atau ekonomis tertentu. Dengan tindakan seperti itu, kita mempermasalah perbedaan agama dan memunculkan konflik serta kekerasan antar agama.

Mo Salah melampaui segala kecendrungan beragama seperti itu. Sebagai figur publik yang populer dan berpengaruh bagi kehidupan banyak orang, Salah menunjukkan sebaliknya, beragama yang baik di tengah arus zaman mesti diekspresikan tanpa kemunafikan.  Beragama yang baik harus membuat kita dicintai dan diterima semua orang. Dengan Kehadiran dan kesaksian hidupnya, Salah membongkar sekat-sekat ideologi atau penghayatan agama yang sempit.

Final Champions

Final Champion Eropa 2018 adalah mimpi  terbesar untuk setiap pemain sepak Bola Eropa, tak terkecuali Salah. Semua Pemain ingin bermain di sana, apalagi mengingat jalan menuju partai puncak tidak mudah. Banyak hal sudah dikorbankan, untuk sampai ke level itu.

Hari ini saya walau adalah pendukung MU, rela bangun pagi untuk nonton laga final ini. bukan karena Liverpool, tapi karena sosok Mo Salah. Pemain ini, seperti halnya fans bola lainnya, berhasil memikat hati saya. Bagi saya  penting untuk mendukung Salah mengingat inspirasi kehidupan yang ia hadirkan. Selain itu, saya berharap, kerja kerasnya terbayar dengan menjuarai Champions bahkan jadi pemain terbaik agar dapat merusakkan dominasi membosankan Messi dan Ronaldo.

Jauh panggang dari api. Harapan saya untuk Salah, berakhir tragis di tangan Madrid. Tragis, karena Salah mendapatkan cedera ligamen bahu yang mengharuskan dia lebih awal keluar dari lapangan. Berat. Apalagi ketika melihat kembali perjuangan yang begitu panjang nan berat yang Salah telah lakukan untuk sampai ke level tertinggi seperti ini.

Akan tetapi hasil tidak bisa diubah. Salah dan Liverpool harus menerima kekalahan dengan lapang dada. Yang tersisa dari kekalahan, adalah ruang untuk perubahan. Salah sudah sering mengalami jatuh bangunnya kehidupan sebagai pesepak bola, maka sudah pasti bahwa berhadapan dengan situasi yang sama, ia pastinya mampu mengubah atau menata kembali kehidupannya. Suksesnya hidup bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena selalu bernyali  untuk bangun dari kejatuhan dan terus berlangkah jadi lebih baik .

Salah lahir dan besar dari tradisi religius yang kuat serta kesetiaannya terhadap proses, maka saya percaya ia  akan terus besar dan jadi yang terbaik di dunia. Untuk saya, final Champions hari ini bukan saja tentang Madrid  yang berhasil juara atau Liverpool yang kalah, tapi tentang belajar nilai-nilai universal dari sepak bola dan dari kisah hidup Mo Salah untuk kehidupan kita. ***

Yulius Ebot (Foto: Dok. Pribadi)

*)Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here