AKP Erna Romakia Polwan Pertama di Flores Timur

oleh
AKP Erna Romakia. (Foto: Dok. Pribadi/Design Florespost.co)

FLORESPOST.co, Larantuka Ajun Komisaris Polisi (AKP) Erna Romakia merupakan Polisi Wanita (Polwan) pertama di Kabupaten Flores Timur (Flotim).

Perwira pertama tingkat tiga di Kepolisian Republik Indonesia kelahiran Waiwerang, 16 Agustus 1960, putri pertama dari pasangan Hermanus Romakia dan  Ny. Maria Karolina Orias ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Flotim pada umumnya.

Bercita-cita jadi polisi adalah keinginan Erna sejak kecil, kebetulan ayahnya almarhum Hermanus Romakia saat itu adalah seorang polisi.

Di mata AKP Erna Rimakia, polwan adalah sosok wanita yang berwibawa, cantik, dan berkarakter. Itulah yang menjadi penyemangat dirinya untuk menjadi Polwan.

Namun, perjuangan Alumni SMA Surya Mandala Waiwerang ini menjadi seorang pengayom masyarakat, tidaklah selembut suaranya ketika bertutur.

Penolakan dari kakeknya menjadi halangan terberat oleh perempuan yang saat ini menjabat sebagai Kabag Ren Polres Flores Timur.

“Kakek saya tidak setuju karena saya masuk Polwan. Sempat kakek saya tidak teguran dengan ayah saya selama 1 minggu. Kakek saya marah karena menurutnya jika perempuan Adonara itu masuk Polwan maka gadingnya hilang atau “bala  gewete,” ungkap Erna Romakia kepada Florespost.co, Senin (4/6/2018).

Setelah resmi dilantik menjadi seorang Polwan pada tahun 18 Mei 1981, AKP Erna Romakia ditempatkan pertama kali di Mabes Polri menjadi Operator Siaga Ops.

Tahun 1992 dirinya dipindahkan ke kampung halamannya di Kabupaten  Flores Timur atas surat pengajuan dari almahrum ayahnya ke Kapolri.

Ini semua atas permintaan almarhum ayahnya  yang disampaikan ke Mabes Polri dengan alasan menjaga kedua orang tua yang sudah mulai tua.

“Saya pindah ke Flotim karena ayah saya menulis surat ke Kapolri meminta agar saya dipindahkan. Awal-awal bertugas di Flotim pasti suasananya berbeda. Saya pertama kali bertugas langsung ditempatkan di Lalu lintas,” urai Erna.

Jabatan-jabatan penting yang diduduki AKP Erna Romakia selama bertugas di Korps Kepolisian Republik  Indonesia seperti, Kanit Registrasi dan Identifikasi Polres Flotim, KBO Lantas, Kanit PPA, KBO Serse, PS Kasat Bimas, Kasubag Humas, Kasubag Info dok bit Humas Polda, Kasubag bin Ops, dan terakhir Kabag Ren Polres  Flotim.

Berjuang Menyuarakan Hak Perempuan Flotim

Meski di zamannya, budaya patriarki begitu kuat melekat, namun Erna kecil tampil percaya diri. Ia mampu membuktikan dirinya, menembus sekat budaya yang memandang perempuan adalah manusia kelas dua. Karena itu akses perempuan ke segala hal sangat dibatasi. Orang tua selalu menomorsatukan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Karena itu, tidak mengherankan ketika ia mengutarakan niatnya untuk menjadi Polwan, istri dari Simon SE, EMT ini mendapat tantangan dari kakeknya.

Polwan Erna meruntuhkan pandangan dan tradisi Lamaholot pada umumnya yang masih menempatkan kaum perempuan di “nomor dua” dan laki-laki di “nomor satu”. Sebagai wanita, sebagai ibu rumah tangga, sangat dihormati. Namun untuk urusan adat, untuk urusan kepemerintahan, untuk urusan publik, itu urusannya laki- laki, bukan urusan perempuan. Nah, kehadiran Polwan Erna mulai membalikkan pandangan itu.

“Kekerasan anak dan perempuan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dan ini yang saya selalu suarakan karena kebetulan saya asli Adonara, di mana di sana perempuan selalu di belakang. Bayangkan di sana jika ada acara-acara adat laki-laki makan jam 3 perempuan makan jam 5. Maka dari sini saya menyuarakan itu,” ungkap Erna.

Dirinya melanjutkan, waktu ada undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, waktu itu tambahnya Ia masih menjabat sebagai Kanit PPA. Ia melakukan sosialisasi di pulau Adonara, di sana menurutnya banyak masyarakat yang menentang.

“Saya menjawab sekarang inikan sudah zamannya emansipasi, kedudukan perempuan dan laki-laki kan sama, tetapi bukan berarti perempuan  menguasai laki-laki, tidak. Dalam hal-hal tertentu wanita pasti kembali ke kodratnya sebagai perempuan, sebagai istri dan ibu rumah tangga,” katanya.

Dirinya juga mengatakan perempuan di Flotim  saat ini masih banyak mengalami masalah, mulai dari pekerjaan, lingkungan, hingga kekerasan.

“Perempuan jangan hanya diam ketika mengalami atau melihat suatu kasus. Perempuan juga harus berani menjadi pengambil keputusan. Jangan hanya terus menjadi korban, terutama pelecehan seksual”, ujarnya.

Reporter: Stanis

Editor: Fransiskus Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *