Kepsek SMPK Immaculata: Tidak Ada Pemecatan, Dua Guru Telah Selesai Masa Kontrak

oleh
Sr Veronika Meo, M.Pd, Kepsek SMPK Immaculata Ruteng (Foto: Adi Nembok/Florespost.co)

FLORESPOST.co, Ruteng Kepala Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Immaculata Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, Sr. Veronika Meo, M.Pd mengklarifikasi soal pemberhentian Thomas Didimus Darmin Dagung dari jabatan sebagai guru di SMPK milik Yayasan Dian Yosefa tersebut.

Dalam jawaban tertulisnya yang diterima Florespost.co, Kamis (7/6/2018), Sr. Veronika menjelaskan, SMP Immaculata berada di bawah Yayasan Dian Yosefa. Sistem rekrutmen guru dilakukan oleh yayasan dengan masa kontrak 3 tahun. Setelah menyelesaikan masa kontrak, guru-guru kontrak harus membuat lamaran baru ke pihak yayasan.

Yayasan memiliki wewenang untuk menerima/melanjutkan kontrak ataupun menolak / menghentikan kontrak. Tahun ini ada dua guru kontrak yang telah menyelesaikan masa kontrak dan tidak diperpanjang, salah satunya adalah Thomas Didimus Dagung.

“Jadi sama sekali tidak ada pemecatan apalagi tidak ada sama sekali korelasi antara ketidaksetujuan Thomas terhadap sanksi yang diberikan kepada siswa siswi kelas VIIIB dengan berahkhirnya masa kontrak yang bersangkutan. Sampai saat ini pun orang tua masih berdatangan ke sekolah untuk memberikan dukungan kepada pihak lembaga,” tulis Sr. Veronika.

Baca juga: Diberhentikan Secara Sepihak, Guru SMPK Immaculata Ini Merasa Kecewa

Berkaitan dengan siswa siswi yang menggelar ujian di alun-alun sekolah, pada pagi hari setelah selesai berdoa bersama, saya selaku kepala sekolah telah memberikan pengumuman kepada seluruh siswa dan siswi maupun Bapak Ibu Guru bahwa jika ada kelas yang ribut pada saat pelaksanan ujian maka kelas tersebut akan mengerjakan ujian di luar kelas dan pada hari itu Kamis 31 Mei 2018 Pukul 07.30 Thomas Didimus Dagung terlambat masuk kelas  untuk mengawas ujian jadi siswa/i di kelas tersebut ribut sehingga saya menyuruh mereka untuk duduk di alun-alun sekolah agar tidak mengganggu kelas lain yang sementara ujian.

Di jam yang sama ada kelas lainnya juga yang mendapat sanksi yang sama. Sanksi ini tidak berlangsung lama, 30 menit kemudian siswa/i dan pengawas diminta masuk kembali ke dalam kelas.

Berkaitan dengan sanksi sink kepada siswa/i kelas VIII B, Sr.Veronika menjelaskan, sebagai kepala sekolah, dirinya ingin memberikan yang terbaik kepada siswa siswi SMP Immaculata. Siswa/i tidak hanya diajarkan pengetahuan tetapi juga dididik dan dibina secara mental, spiritual dan kepribadian. Siswa siswi yang melakukan pelanggaran akan dibina dan jika terus menerus melakukan pelanggaran yang sama, maka akan diberikan sanksi. Sanksi yang diberikan diharapkan akan menimbulkan efek jera kepada siswa siswi.

Baca juga: Opini: PAUD dan Peran Guru Laki-Laki

“Berkaitan dengan sanksi membawa seng terhadap siswa siswi kelas VIIIB pada bulan Desember 2017, saya telah menegur kelas ini berulang-ulang karena selalu membuat keributan sehingga mengganggu kelas-kelas lainnya. Setelah 10 kali melakukan pembinaan tetapi tetap saja melakukan pelanggaran maka saya memberitahukan kepada mereka bahwa jika kalian tetap ribut akan diberi sanksi membawa seng,” jelas Sr. Veronika.

“Peringatan ini saya lakukan 3 kali dan saya juga menegaskan bahwa siswa siswi dilarang keras untuk minta uang pada orang tua untuk membeli seng, tetapi setiap hari wajib sisihkan seribu atau dua ribu rupiah uang jajan untuk dikumpulkan membeli seng. Sanksi ini juga tidak bersifat memaksa sampai hari inipun masih ada siswa siswi yang tidak membawa seng tersebut. Bahkan ada orang tua yang menelpon dan menanyakan apa betul anak mereka mendapat denda 1 seng dan saya menjawab betul mama dan orang tua mengatakan bahwa bukan hanya 1 lembar nanti kami suruh dia bawa 3 lembar supaya dia tobat dan tidak nakal lagi. Saya tekankan bahwa tidak ada pemerasan ataupun pungli,” tambah Sr. Veronika.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Thomas Didimus Darmin Dagung diberhentikan secara sepihak dari jabatannya sebagai guru di SMPK Imaculata Ruteng oleh Yayasan Dian Yosefa Ruteng.

Surat pemberhentian yang dikeluarkan Ketua Yayasan Sr. Mektilde T. Nahas, SSpS, pada tanggal 31 Mei 2018, dengan no surat 976/DYD/ Up/V/2018, perihal Jawaban Lamaran Perpanjangan kontrak juga sudah diterima Tomi.

Baca juga: Opini: IGI Flotim (Sagusaku) dan Perannya dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru

Kepada wartawan di kediamannya di Cuncalawar, Kelurahan Satar Tacik, Kecamatan Langke Rembong, Selasa (5/6/2018) sore, Tomi mengaku tidak tahu pasti alasan yayasan memecat dirinya.

Tomi menduga, pemberhentian sepihak tersebut masih ada kaitannya dengan kejadian pada bulan Januari 2018. Saat itu, anak walinya di kelas VIII B membuat keributan dalam kelas. Lalu Kepala Sekolah Suster Veronika Meo, M.Pd memerintahkan salah seorang murid VIII B untuk memanggil dirinya yang saat itu sedang mengajar di kelas E.

“Saat saya sampai di kelas B, Kepala Sekolah bilang, Pa Tomi, lihat anak wali ribut. Spontan saya jawab, memang saya wali kelas mereka, tapi sekarang bukan jam mengajar saya. Saya menduga, ini persoalan utama sehingga saya diberhentikan,” kata Tomi.

Reporter: Adi Nembok

Editor: Yos Syukur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *