Opini: Pilkada dan Imajinasi Demokrasi

oleh
Erick Ebot, Mahasiswa STFK Ledalero. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Erick Ebot*

 

Hidup manusia merupakan konstruksi ada yang belum selesai. Ia bukan proyek hidup yang asalan jadi namun sebuah proyek yang memakan waktu seumur hidup. Untuk alasan ini manusia selalu mencari dan terus mencari dalam hidupnya.  Gabriel Marcel, salah satu filsuf Katolik asal Perancis menyebut manusia sebagai Homo Viator, makhluk yang senantiasa mencari makna hidup.

Marcel menyebut manusia sebagai mahkluk pencari didasarkan pada kebutuhan dari manusia itu sendiri untuk senantiasa mengaktualisasikan dirinya sekaligus memenuhi dahaga keinginan yang tak pernah terbatas. Di tengah kemajuan perkembangan dunia, manusia sebagai homo viator lantas terus berikhtiar mencari hakikat adanya yang belum tuntas, belum sempurna untuk pribadinya sekaligus untuk kebaikan bersama.

Dalam konteks pemahaman ini, pada tataran kehidupan politik, demokrasi kita juga sedang dalam proses yang belum selesai, sempurna dan tuntas. Ada begitu banyak situasi dan kondisi ironi yang mencerminkan masih jauhnya ideal demokrasi dalam negara ini. Lantas dalam situasi ini kita mempersalahkan siapa? Para politisi, kita sendiri ataukah demokrasi yang memang tidak memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas kehidupan kita. Dalam ini kita perlu momentum untuk meruangkan refleksi dan redeskprisi guna mewujudkan demokrasi yang lebih baik lagi.

Praksis Demokrasi Kita

Demokrasi merupakan sistem politik yang sudah cukup tua dalam sejarah filsafat politik. Demokrasi itu sendiri sudah sekian lama diterapkan menjadi praksis sistem hidup bersama masyarakat Yunani kuno dengan tata kehidupan politik melalui polis mereka. Demokrasi dalam konsep mereka dapat menjadi wadah yang tepat untuk mengikat solidaritas sekaligus menggunakannya sebagai motivasi moral publik mewujudkan kebaikan dan kebahagian dalam komunitas polis. Konsep demokrasi kemudian berkembang seiring perkembangan zaman dan konsep-konsep filsafat yang menganalisisnya.

Namun konsep terkenal demokrasi yang dipakai sampai sekarang ini datang dari Abraham Lincoln. Presiden Amerika Serikat ini merangkum karakter demokrasi lewat satu kalimat dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kalimat ini menjadi prinsip demokrasi universal sekaligus imperatif etis yang harus dijalankan oleh pemerintah dalam pertanggung jawabannya terhadap masyarakat.

Demokrasi dalam bingkai konsep ini dimengerti sebagai usaha  bersama pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan kebaikan bersama. Usaha ini tentu mengandaikan adanya konsep bersama tentang kekuasaan politik dalam demokrasi. Bahwa seorang calon pejabat berkompetisi untuk merebut kekuasaan politik dalam pilkada bukan melulu usaha pribadi untuk kejar karir dan prestasi yang cemerlang tetapi lebih dari itu usaha bersama rakyat yang lahir dari pengalamannya terlibat dalam situasi dan masalah sosial dalam masyarakat itu sendiri.

Akan tetapi ideal ini sering kali menyimpang dalam kenyataan. Dalam masyarakat berkembang konsep bahwa kekuasaan demokrasi hanya milik para pejabat dan semakin kuat setelah ia menang. Ada celetuk yang mengatakan bahwa mereka yang punya uang saja yang bisa menang, atau paling kalau menang kita yang lain dilupakan. Kalimat-kalimat keluhan ini sering kali muncul menjelang pilkada yang memunculkan kesan kuat bahwa masyarakat tidak punya daya untuk mengontrol atau menghentikan konsep itu.

Konsekuensi lanjutannya bahwa konsep ini menyebabkan masyarakat kehilangan solidaritas dan keyakinan bersama bahwa mereka pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara. Ketiadaan kesadaran akan dua hal ini lantas mengekalkan konsep demokrasi serta-merta hanya milik pejabat. Ironi kehidupan kemudian muncul memiriskan nurani yang miskin terus jadi miskin, dan kaya terus menjadi kaya, di mana relitas kemiskinan, ketidakadilan dan banyaknya masalah kemanusiaan menindas HAM dan martabat manusia.

Kekuatan masyarakat sebagai civil society mati, daya kritis dan apatisme politik menguat tak terkontrol. Masyarakat sebagai sebagai kekuatan utama demokrasi dibuat lelap oleh konsep demokrasi sempit yang dikembangkan oleh pemikiran serta pengalamannya sendiri. Kelemahan ini memberi peluang bagi mereka yang terpilih dalam pilkada untuk terus mengembangkan secara kreatif politik kepentingannya. Korupsi dan masalah sosialpun terus terjadi. Usaha demokratisasi mandeg.

Pilkada 2018 dan Imajinasi tentang Demokasi

Satu kalimat bijak yang patutnya menginspirasi perjuangan kita dan memotivasi usaha demokratisasi dalam hidup di tengah realitas praksis demokrasi yang bobrok adalah: ada harapan yang bisa dicemooh tapi tak takut gagal. Perjuangan demokratisasi tidak pernah tuntas dan membuat kita putus asa. Walau berhadapan dengan kekuasaan yang korup, kita selalu punya harapan untuk belajar dari kenyataan yang ada dan mulai membangun imajinasi bersama tentang kehidupan demokrasi yang bermartabat dan berorientasi kepentingan bersama.

Imajinasi adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Ia adalah kecerdasan konstruktif yang mampu mewujudkan kumpulan berbagai pengetahuan atau gagasan menjadi satu hal baru, murni dan rasional. Ia adalah proses memecahkan masalah sosial tertentu oleh penggunaan simulasi jiwa.

Dalam konteks tulisan ini, menghidupkan imajinasi bersama tentang demokrasi yang baik adalah usaha alternatif yang membantu kita untuk mengaktifkan kembali daya kritis/kesadaran kita tentang realitas politik yang terjadi serentak mendorong kita untuk peka dan terlibat serius dalam membongkar apatisme politik kita. Imajinasi bersama tentang demokrasi adalah usaha konstruktif untuk menemukan kembali peran kita dan bagaimana peran itu seharusnya dijalankan.

Pilkada 2018 sebentar lagi dihelat dan hendaknya menjadi langkah awal untuk merefleksikan sekaligus redeskripsi atas praksis demokrasi yang kelihatannya tidak membawa bonum communae. Demokrasi adalah dunia kehidupan tempat kita terus mencari langkah-langkah kreatif guna mendukung ideal cita-cita demokrasi. Pilkada sebagai momentum perubahan dapat jadi medan realisasi imajinasi demokrasi kita.

Bagaimana mengkonkritkan imajinasi bersama tentang demokrasi yang baik? Hemat saya hal itu dilakukan dengan pertama-tama terlibat aktif dalam menilai secara kritis dan memeriksa kualitas calon yang ada. Apakah calon tersebut  mampu bekerja sama dengan rakyat atau tidak. Baca program para calon serta buat diskusi dan dialog kritis tentang para calon bisa jadi beberapa kemungkinan yang bisa diambil untuk merealisasikan imajinasi bersama tentang demokrasi yang baik.

Imajinasi bersama tentang demokrasi yang baik juga meniscayakan solidaritas dan kepercayaan  dalam masyarakat bahwa mereka adalah pemegang kekuasaan mutlak yang memberi legitimasi bagi kekuasaan para politisi dalam pemerintahan. Dalam demokrasi masyarakat punya hak dan kewajiban untuk mengontrol pemerintah jika mereka berjalan di luar praksis ideal demokrasi setelah mereka terpilih.

Selain itu keberadaaan masyarakat yang memiliki imajinasi bersama tentang demokrasi yang baik mampu menjadi kekuatan etis untuk merobohkan praktek pemerintahan yang kotor dan tidak memihak rakyat. Solidaritas masyarakat mendesak segenap elemen pemerintahan untuk  mewujudkan demokrasi yang lebih bermartabat dan manusiawi.

Kedua, imajinasi tentang demokrasi yang baik terwujud dalam solidaritas kita terhadap Yang Lain. Meminjam term Emanuel Levinas Yang Lain merujuk kepada kondisi para korban yang mengalami ketidakadilan, miskin dan menderita.  Rasa simpati terhadap mereka adalah bentuk praksis solidaritas kita serentak pula mesti jadi landasan etis atas sikap kritis kita untuk mewujudkan demokrasi yang ideal. Solidaritas sosial terhadap Yang Lain hendaknya di sini jadi motivasi moral untuk memilih para kandidat yang memiliki keutamaan, kapasitas intelektual yang mumpuni dan bukannya hanya pintar-pintar dan baik-baik, namun cerdas untuk menjadikan situasi ketakberdayaan itu sebagai inspirasi dan motivasi.

Idealnya Yang Lain adalah penampakkan situasi ketakberdayaan yang mengundang kita untuk merespon kehadiran mereka dengan memilih secara bertanggung jawab pemimpin yang punya integritas dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Pada akhirnya kita tentu tidak mau realitas demokrasi kita tidak terus jatuh dalam praksis politik kepentingan dan mengabaikan kebaikan bersama. Di sini kita perlu cari jalan alternatif untuk mengatasi persoalan ini dan mengembangkan imajinasi kreatif dalam rangka mengembangkan konsep bersama tentang demokrasi yang baik. Hanya dengan usaha ini usaha untuk mewujudkan demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat bisa terwujud. ***

*)Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Baca juga:

Opini: Menolak Politik Uang dalam Pilkada

Opini: Pilkada, Janji Vs Bukti

Opini: Pilkada, Tidak Sekadar Hasrat Berkuasa

Opini: Boni Hargens dan Problem Kepemimpinan NTT

Opini: Melampaui Pemimpin Deseptif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *