Opini: Pilkada, Bukan Sekadar Menang dan Kalah

oleh
Foto: Ilustrasi (Istimewa)

Oleh: Dionisius Ngeta, S.Fil*

 

Gelanggang pentas Pilkada serentak 2018 memperebutkan hati masyarakat dan menggolkan kandidat jagoan makin seru bahkan makin asyik ditonton ala pertandingan sepak bola Barcelona. Politik dengan tiki-taka ala permainan “Barca” kian gencar menyerang bahkan masuk pada jantung pertahanan lawan. Strategi tiki-taka memperebutkan suara rakyat dan menggalang dukungan berbagai elemen masyarakat mengalir dan bergulir deras ke sentral-sentral aktifitas kehidupan masyarakat bahkan sampai pada ruang akal sehat dan nurani pemilik suara dan kedaulatan. Timses dan kandidat makin gigih memainkan tiki-taka politik. Tak perduli apakah tiki-takanya faktual-objektif atau subyektif-sentimentil.

Ada kesemaan nilai yang harus dijadikan pegangan, pedoman bahkan menjadi “goal” (tujuan) dan kultur pada setiap pertandingan, entah pertandingan politik seperti Pilkada atau partandingan lainnya seperti sepak bola. Nilai-nilai kebersamaan, sportivitas dan kejujuran merupakan kualitas dan keadaban kemenangan dari sebuah pertandingan.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berpesan kepada para atlet sebelum melepaskan kontingen penyandang disabilitas DKI dan Kontingen Santri Pesantren DKI menuju Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) VII: “Saya selalu katakan, saya tidak pernah berpikir untuk mengejar juara 1, bagi saya juara satu itu adalah excess (kelebihan) kita ketika tekun bertanding. Target kita bukan juara satu, tapi memupuk kebersamaan, sportivitas dan kejujuran,” (Detikcom, Selasa, 4/10/2016). Nilai-nilai tersebut mestinya menjadi kultur dan peradaban baru dalam berpolitik, bukan asal atau soal kalah atau menang.

Memperkuat Kebersamaan

Kebersamaan adalah rahim yang mengandung dan melahirkan eksistensi dan aktivitas politik. Eksistensi dan aktivitas politik tidak lain untuk kebaikan bersama (bonum communae). Politik lahir dari sejarah dan keseharian hidup manusia. Karena itu politik merupakan aktivitas manusia, terjadi dalam kehidupan bersama dengan manusia dan memiliki tujuan untuk kepentingan manusia, demikian Aristoteles. Dalam kebersamaan itu, manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk sosial dan makluk polis (zoon politicon). Kodratnya sebagai makhluk sosial dan makhluk polis diungkapkan dalam kebersamaan (communio) dan dalam kebersamaan itu pula tujuan politik bisa tercapai.

Sebagai sebuah pertandingan dengan berbagai macam selebrasi politik, Pilkada merupakan aktivitas kebersamaan. Sebuah aktivitas yang melibatkan manusia, dengan tujuan untuk kepentingan manusia yakni kebaikan bersama. Dalam konteks ini, Pilkada bukan sebuah pertandingan para elit politik dan partai untuk sebuah kemenangan tetapi sebuah kontestasi bersama untuk sebuah kepentingan bersama. Bagaimana dan apapun selebrasi politiknya, nilai dan kultur kebersamaan harus tetap dijaga agar tidak tercabik-cabik oleh nafsu untuk memperoleh kemenangan/kekuasaan.

Kemenangan bukan tujuan dari sebuah kontestasi politik tetapi hasil dari sebuah perjuangan dalam kebersaman sebagai makhluk sosial dan makhluk polis demi kepentingan bersama. Semua kontestan tentu sudah berjuang maksimal. Apapun hasilnya, setiap partai, kandidat dan tim pemenangan harus memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa untuk menerima dan siap menang atau kalah. Karena kalah-menang tidak ada yang abadi. Kalah menang bisa datang dan kemudian pergi. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, demikian pepatah klasik.

Siapapun atau kandidat mana pun yang menjadikan kalah atau menang sebagai tujuan maka ia sedang menjalani hidup yang palsu. Sejatinya, Pilkada bahkan hidup ini bukanlah soal kalah atau menang. Pilkada bukan perlombaan, bukan pula pertempuran. Pilkada bahkan hidup ini adalah sebuah pertandingan yang membutuhkan kebesaran hati dan kekuatan jiwa demi bonum communae. Hati dan jiwa yang membuat kita melampaui kalah atau menang dan mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi tanpa rasa takut karena bagaimana pun juga kita tetap bersama baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk polis. Tak perlu takut saat kalah tapi tak perlu sombong saat menang. Kita tidak bisa menang, kecuali jika kita belajar bagaimana untuk kalah.

Meningkatkan Sportivitas

Dalam Piala Dunia tahun 2014, Kroasia memang akhirnya kalah. Namun dunia mencatat bahwa mereka memiliki sportivitas yang tinggi. Kroasia meraih kemenangan moral, kemenangan tertinggi dalam persaingan! Sportivitas memang pahit karena ia mengharuskan kita untuk lebih menjunjung etika dan moral daripada hasil kemenangan. Muara sportivitas adalah keluhuran nilai. Etika dan moral mengorientasikan manusia pada proses menemukan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kepantasan. Dalam persaingan, etika dan moral menuntut kita untuk mengutamakan martabat dalam meraih kemenangan. Karena itu, orang tua kita mengatakan, “Untuk apa menang, sukses, dan kaya raya jika kamu tidak terhormat?”

Filsuf peraih hadiah Nobel, Albert Camus, menyebut sportivitas sebagai nilai yang membangun karakter manusia, tak ada hubungan secara langsung dengan kekalahan dan kemenangan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan. Sportivitas mengutamakan proses, mengajarkan manusia untuk menemukan nilai-nilai ideal berupa kejujuran dan keadilan yang bermuara pada martabat.

Kampanye hitam memang sangat menggoda bahkan dipandang sebagai mantra mematikan lawan. Karena itu, nilai-nilai etik pun kadang dilabrak. Orang menempuh berbagai cara, termasuk kampanye hitam yang sarat isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Kompetisi dalam Pilkada perlu dikembalikan pada kultur sportivitas, bukan kultur gladiator yang penuh kekerasan. Saling menghormati lawan menjadi keniscayaan dalam membangun demokrasi yang bermartabat. Basis persaingan harus dikembalikan pada visi, misi, dan program, bukan kebencian dan permusuhan. Visi bicara tentang cita-cita ideal perjuangan. Misi bicara tentang cara/tindakan mewujudkan cita-cita. Adapun program merupakan praksis dari visi dan misi.

Pilkada harus dipahami sebagai bagian dari kultur demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan kolektif. Kultur demokrasi selalu berbasis pada etika, moral, dan etos sehingga memberikan inspirasi dan pencerahan kepada publik. Inilah demokrasi yang bijak, cerdas dan visioner. Elite politik mestinya menjadi agen kebudayaan, bukan sekadar menjadi pemburu kemenangan dan kekuasaan yang mengorbankan peradaban dan kebersamaan.

Mewujudkan Kejujuran

Kejujuran dalam politik adalah peradaban baru yang mesti diwujudkan. Karena kejujuran dapat memberikan keselamatan bagi semua. Selain itu, kemenangan yang diraih dengan kejujuran akan lebih memberi ketenangan. Tidak semestinya rakyat ditipu lagi oleh fatamorgana yang tidak pasti sehingga mereka salah memilih pemimpinnya sendiri. Penyesalan rakyat yang berulangkali hanya akan menyebabkan mereka frustasi. Tentu ini harus dihindari karena bagi bangsa yang tengah dilanda krisis harapan adalah modal dasar yang memungkinkan mereka untuk bangkit. Jika harapan telah berganti dengan frustasi tentu sulit membayangkan sebuah kebangkitan akan terlahir kembali.

Memang tidak mudah menghadirkan kejujuran dalam politik karena politisi hari ini umumnya terlanjur memahami politik sebagai wilayah abu-abu. Wilayah yang penuh ketidakjelasan. Kebenaran sejati tidak mungkin ditemukan. Oleh karenanya politisi yang bersih dan peduli mestinya bertekad untuk melakukan perubahan terutama menjunjung tinggi nilai kebersamaan, sporitivtas dan kejujuran sebagai kultur dan peradaban baru dalam berpolitik. ***

Dionisius Ngeta (Foto: Dok. Pribadi)

*) Asal Bheda-Nangaroro-Nagekeo, Tinggal di Maumere.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Baca juga:

Opini: Melampaui Pemimpin Deseptif

Opini: Mencari Pemimpin Ideal (Pilkada di NTT)

Kristo Blasin : Kepemimpinan Menjadi Masalah Utama di NTT

Terkait Pilgub NTT, Herman Musakabe: Pilihlah Pemimpin yang Bersih dan Moralitasnya Bisa Diandalkan

Opini: Menolak Politik Uang dalam Pilkada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *