Cerpen: Dupan

oleh
Ilustrasi: Gadis (Foto: Ractapopulous)

Oleh: Lian Kurniawan*

 

Ia selalu datang setiap senja tiba. Saban hari. Ketika matahari tak lagi menebarkan gerah. Tetapi dengan satu pengecualian. Kalau hujan mengguyur kampung kami, ia pasti tidak akan datang. Kalau lagi cerah, selalu aku perhatikan, ia pasti tiba ketika separuh pelupuk mentari telah tenggelam ke dalam peraduan.

“Waktu keberangkatanku dari rumah selalu ditentukan oleh bunyi seekor burung.”

Ia menggantung pernyataannya bikin penasaran. Tanpa ada penjelasan.

“Aku tak mau ada sesuatu pun yang dirahasiakan di antara kita!” tegasku berpura-pura mengancam, sekedar mengkodekan rasa penasaran atas burung yang ia maksudkan.

Terserah, katanya, sepanjang itu tidak memisahkan kita, itu adalah rahasia suci. Ia membalas, tak kalah tegas.

“Maksudmu?”

“Ada dua macam rahasia. Rahasia bernoda dan rahasia suci!”

Saya terdiam oleh rasa bingung.

“Yang bernoda harus dibuka. Sedang yang suci, harus dijaga.”

“Ah, bijak musiman.”

“Maksudmu aku seperti sedang berkampanye politik, gitu?”

“Bukan!”

“Lantas?”

“Kau selalu seperti bidadari yang turun dari kayangan!”

Ia tersenyum. Lubang hidungnya kembang kempis, terhanyut oleh tulusnya pujianku.

“Ngomong-ngomong, berapa lama engkau akan tinggal di sini?”

“Selamanya!”

Maksudku sebenarnya seberapa lama ia akan tinggal bersamaku hari itu. Sebab aku tidak mau kena resiko bila ada orang kampung mendapatinya sedang bersamaku di hutan ini. Di sebuah pondok peninggalan ayahku. Kedua orang tua atau salah satu keluarganya bisa-bisa mengubur aku hidup-hidup.

Dan ia menjawab, hingga malam tiba. Itu saja. Tanpa ada alasan terucap. Dan selalu begitu.

***

Namanya Dupan. Seorang wanita sederhana nan anggun. Ia cantik dalam balutan rambut halus sebahu yang disisir belah dua. Hidungnya tak terlalu mancung, tetapi amat manis terlihat dengan  rambut hitam legamnya yang selalu dibiarkan tergerai bebas. Sebebas prinsip hidupnya.

Dupan kini berkerja sebagai guru SD di kampung kami. Guru honorer.

Semenjak pertama benih cinta tumbuh di antara kami berdua, aku selalu dibuatnya seperti seorang Sherlock Holmes-oleh sifatnya yang misterius itu. Aku bak seorang detektif yang sibuk membaca semua isi lautan pikirannya yang amat dalam dan luas.

Ya, misterius. Entahlah frasa apa yang tepat untuk menggambarkan sifat samar seperti itu dalam konteks cinta. Bagiku, misteriuslah yang tepat; suatu hal yang membuat benih cintaku senantiasa bertumbuh dangan suburnya dari waktu ke waktu. Aneh memang, kehadirannya membuatku memaknai cinta sebagai sebuah proses panjang untuk saling memahami.  Pada saat yang sama apa yang dinamakan kesetiaan bukan lagi sekedar sebagai sebuah teori kosong, melainkan suatu hal yang penuh tanggung jawab.

Saya pun harus bertanggung jawab atas rasa cinta itu. Salah satu wujudnya adalah dengan selalu belajar memahaminya; dengan tulus dan sabar. Hingga benar-benar bisa menyatu dengannya. Sambil membelai semua rintangan hidup yang datang dengan mesra, dan dengan penuh cinta itu sendiri.

“Terkadang aku merasa seolah-olah waktu sedang mengejek dan mempermainkanku!” pancingku memecah kesunyian sembil menatap langit di ufuk barat yang sedang menguning.

Ia yang masih duduk manis di sampingku berbalik dan menatapku dalam-dalam.

“Aku juga. Tapi aku selalu mengejeknya balik. Toh hidup untuk dinikmati, bukan untuk dipikirkan.”

“Bagaimana engkau menikmati hidup tanpa berpikir?”

Ia diam sejenak. Mungkin mengerti arah pemikiranku, ia lalu memelukku erat. “Maksudku jangan suka berpikir aneh-aneh bagitu!” Diam lagi, lalu melanjutkan: “aku mencintaimu apa adanya kok!”

Dupan adalah anak keluarga kaya di kampung kami. Orang tua hingga dirinya yang semata wayang itu begitu dihormati oleh segenap warga. Termasuk aku. Dalam banyak hal. Satu kata perintah saja, misalnya, dari sang ayah bisa membuat warga seantero kampung terpontang-panting menjalankannya. Bayangkan saja!

Aku menyadari bahwa seseorang bisa dihormati sedemikian itu bukan terutama oleh kekayaan yang dimiliki. Tetapi juga oleh konsistensi menjaga sikap dan perlaku dalam kehidupan sosial. Termasuk di dalamnya adalah soal kebijaksanaan dalam mengelola kekayaan menjadi sumber pertolongan bagi sesama, bukan malah menjadi alasan kesombongan. Dan itulah yang dimiliki oleh keluarga Dupan. Terbukti, sebagai anak, Dupan pun hingga sejauh ini masih menjadi seorang wanita yang sederhana dalam segala kekayaannya.

Di sisi yang lain, saya selalu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa kebijaksanaan yang sama tidak bisa diterapkan dalam urusan percintaan anaknya. Adakah titah ilahi untuk saling mencintai atas dasar kesetaraan klasifikasi ekonomi? Ah, sudahlah, Matius. Kamu harus tahu diri! Bisikku dalam hati.

Lantas aku kembali sadar dari lamunan panjang dan menyadari bahwa aku hanyalah anak sepasang petani tulen yang tak tahu diuntung. Ayahku mati terbunuh dalam perang tanding merebut tanah di perbatasan dengan kampung sebelah. Saat hendak membalas dendam, nyawa dua orang kakakku juga terenggut atas nama dendam yang tak terbendung. Niat hati untuk membalas, tetapi senyata-nyatanya malah menambah parah luka yang ada.

Sehari berselang ibuku juga meninggal lantaran merasa tak sanggup menyaksikan kepergian ketiganya yang kian tragis itu.

Kini hanya aku seorang diri yang tersisa.

“Waktu itu, kami semua warga merasakan duka yang teramat dalam. Hingga sekarang. Luka itu tak pernah sembuh. Bara dendam senantiasa membara dalam dada.” Jelas om Yoakim kepada saya suatu ketika.

“Tetapi toh, mereka tidak akan hidup kembali dengan cara membalas kekejaman yang sama. Lihatlah akibatnya yang telah terjadi pada kedua kakakmu.” hiburnya melihat aku yang termangu mendengarkan dengan berlinangan air mata. “Jalani saja hidupmu dengan ikhlas, nak. Tuhan pasti punya rencana terindah untukmu!” lanjutnya.

Kejadian tragis itu terjadi beberapa tahun silam. Kala itu saya sedang kuliah di Jakarta. Makanya saya luput. Satu hal yang selalu aku syukuri sekaligus cemasi hingga saat ini adalah budi baik om Yoakim, saudara ibuku itu. Iya membiayai kuliah saya yang memang tinggal setahun kala itu hingga selesai. Tetapi hingga sekarang kebaikannya belum sempat aku balas lantaran keadaan.

Semenjak tamat, saya memilih untuk tinggal di pondok peninggalan orang tuaku. Di sebuah kebun sawah dan ladang jagung di pinggir hutan. Bak pertapa ulung, aku lalui hari sendiri dalam sunyi. Berteman suara-suara binatang penghuni hutan dan nyanyian requem yang selalu terngiang dalam relung jiwa.

Ketimbang menjadi guru honorer dengan gaji sekali dalam tiga bulan, seperti Dupan, saya lebih memilih untuk berternak babi sambil menanam dan merawat padi saja. Sekaligus untuk mengikuti jejak kedua orang tua saya.

“Dupan, sudah cukup lama aku dihantui oleh perasaan bersalah. Aku selalu merasa bahwa mencintaimu seolah-olah melibatkan orang baik-baik sepertimu ke dalam segenap luka dan dendam yang ada.”

Sejenak aku berpikir menyusun kata-kata agar tidak membuat dirinya tersinggung.

“Apa sih sebenarnya yang engkau harapkan dari aku yang malang ini? Sedang orang tuamu benar-benar tidak setuju.”

Belum sempat ia menjawab, gerimis datang. Gelap tipis juga perlahan menyelimuti. Ia lantas buru-buru pamit dan berjanji untuk menjawab aku di lain hari. Aku hanya mengangguk sambil menatapnya berjalan menyusuri pohon-pohon jagung yang lagi hijau itu. Sungguh wanita yang misterius dan seru! Gumamku dalam hati mengiringi kepergiannya. I love you!

***

Hanya berselang kurang dari satu jam, di kejauhan saya melihat sorotan senter persis ke arah pondok saya. Awalnya saya menduga itu pasti warga kampung yang sedang mencari kodok. Saya terus mengamatinya. Cahaya senter itu hilang tertelan rimbunan pepohonan, lalu muncul kembali. Kini semakin dekat dengan pondok. Samar saya mendengar suara obrolan mereka. Ada suara wanita tua terdengar.

“Matius…………….?”

Saya tersentak. Mengamat-amati sang pemilik suara itu. Menutup mata dengan tangan untuk menghalau cahaya senter yang tersorot tepat di wajahku. Saya lalu berdiri.

“Om Yoakim? Tanta Tina?” suaraku terbata-bata, “ada apa datang malam-malam?”

Tanta Tina langsung memelukku dengan erat dan isak tangis yang menusuk kalbu. Sedang om Yoakim sejenak terhanyut dalam tangisan sang istri lalu meminta kami masuk ke dalam pondok. Ada hal penting yang ingin dibicarakan, katanya.

“Sekarang kamu ganti pakaian. Kita harus segera ke kampung sekarang.” kata om Yoakim tanpa basa-basi. “Tadi sore, ibu Riana (ibunya Dupan) berteriak di rumahnya. Entah kenapa, namamu disebut-sebut. Warga kampungpun kaget dan berdatangan ke rumah mereka. Termasuk saya.”

“Mendengar itu, sebagian keluarganya mengancam hendak membunuh kamu. Paling tidak, kamu akan diusir dari kampung ini.” Jelasnya panjang.

“Nak, tanta sudah berkali-kali bilang, cari wanita lain saja” potong tanta Tina, masih terisak.

“Malam ini seorang polisi yang bertugas di kecamatan itu, bersama keluarganya datang meminang Dupan. Tetapi tadi sore Dupan menghilang dan ternyata ada yang beri tahu kalau Dupan datang ke sini.” Lanjut om Yoakim.

“Sekarang kita harus cepat-cepat ke rumahnya untuk meminta maaf atas segala kesalahan kamu.”

“Tapi……” potong saya.

“Sudahlah, orang kecil seperti kita tidak akan punya kesempatan untuk berargumentasi!”

Saya lalu berkemas diri. Menuruti semua apa yang diperintahkan om Yoakim. Mengenakan pakain rapi dan kain songket. Selain itu, saya diminta untuk menyiapkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah sebagai landasan dari setiap permohonan maaf secara adat Manggarai. Juga untuk membeli tuak atau sebotol beer.

“Saya sudah dekati nenek Yakobus selaku tua gendang untuk memediasinya.”

Sebelum beranjak ke rumah Dupan pun kami mampir ke rumah nenek Yakobus terdahulu. Berbagai nasihat dari beliau juga membekali saya sekaligus membuat hidup ini terasa semakin berat. Aku mengaku telah terlampau menyatu dengan Dupan. Jiwa maupun raga, dengan segenap kenangan dan jutaan harapan yang telah kami rajut bersama. Tetapi toh, dalam keadaan ini saya dipaksa untuk merelakan semuanya begitu saja. Waktu telah membuktikan bahwa aku memang tidak pantas untuk menikahi Dupan. Dalam banyak hal, keadaanku sungguh tak sanggup menyandingi kemapanan keluarganya.

Baca juga:

Cerpen: Cinta Tak Harus Dimiliki

Cerpen: Semestinya Kita Tak Bercumbu di Bawah Purnama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *