Opini: Kemiskinan dan Gereja di Flores

oleh
Yulius Ebot, Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Yulius Ebot*

 

NTT menjadi salah satu provinsi yang paling malang di Indonesia. Bagaimana tidak menurut survey Badan Pusat Statistis (BPS) 2016, NTT menjadi provinsi ketiga paling miskin. Banyak faktor yang mempengaruhi munculnya kemiskinan di NTT, khususnya Flores salah satu faktor yang paling menonjol yakni korupsi. Kemiskinan dan korupsi di NTT memiliki hubungan kausalitas (sebab-akibat) sehingga harus diakui bahwa korupsi-lah yang menyebabkan tingkat kemiskinan semakin tinggi di NTT, khususnya Flores.

Hal yang paling membuat saya sering kali heran dan bertanya-tanya kenapa NTT, lebih khusus Flores masih jadi provinsi sudah paling korup tambah lagi dengan paling miskin. NTT, khususnya Flores adalah daerah dengan 1001 Gereja. Orang bilang ada Gereja maka ada keselamatan? Keselamatan adalah kosa kata religius, tapi maknanya sepadan dengan kesejahteraan dalam konteks sekular. Tapi pertanyaannya apakah Gereja sudah berhasil wujudkan kesejahteraan yang dimaksud atau tunduk menyerah di hadapan hasil survey yang dilakukan Heather Marquette, penulis asal Inggris, yang menyatakan bahwa korupsi dan kemiskinan justru cenderung tinggi di negara-negara religius, termasuk di Indonesia.

Realitas Kehidupan Gereja di Flores

Dalam kesempatan kuliah Analisis Sosial bersama di ruang kelas Teologan di STFK Ledalero, kami membahas tentang masalah yang dihadapi Gereja Flores hari ini. Dua hal yang kami temukan dalam diskusi ini yakni tentang Gereja Flores yang belum mampu memberi inspirasi bagi perjuangan sosial kemasyarakatan dan Gereja, dalamnya figur publik, yakni para klerus, biarawan-biarawati belum mampu memberikan teladan tentang nilai-nilai Kristiani kepada umat.

Dua realitas yang dialami Gereja Flores ini memberikan pengaruh pada peran Gereja sebagai sakramen yang membawa dan memperjuangkan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat. Dengan kondisi seperti ini Gereja terkesan bungkam di hadapan realitas kemiskinan dan korupsi yang terus saja merusakkan tatanan kehidupan bersama. Hal ini jauh dari ideal Gereja universal yang dipanggil untuk ambil bagian dari misi Yesus untuk memaklumkan kerajaan Allah dalam mana nilai solidaritas, kesetaraan, keadilan, kebenaran serta HAM menjadi fondasi kehidupan bersama.

Dalam pandangan penulis, Gereja di Flores belum banyak “berbuat” untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Korupsi, kemiskinan serta berbagai persoalan kemasyarakatan lain masih terus merajalela adalah indikator bahwa suara profetis Gereja yang bagai macan ompong.

Karl Marx pernah mengkritik Feurbach dengan pernyataan ini “filsuf hanya menafsir dunia dengan berbagai rupa cara, tetapi tidak pernah mulai mengubah dunia. Kritik Marx juga adalah kritik terhadap Gereja terhadap cara hidup kita yang terlampaui individualis. Gereja yang terwakili dalam diri kita yang sering kali, dalam bahasa Paus Fransikus, menyibukkan diri dengan berbagai olah kerohanian yang rumit dan memberi kenyamanan tapi tidak mendorong orang membuat dunia jadi lebih baik melalui evangelisasi. Atau kita yang lagi belajar di ruang kuliah yang sibuk menafsirkan kitab suci dengan kata-kata indah nan puitis tapi lupa “mendengar” rintihan sakit dan luka dari luar biara.

Gereja kita hari ini sering kali rasa hebat berkhotbah dari mimbar dan berhasil buat umat tertawa. Kita kira bahwa dengan semua itu kita sudah berkontribusi dalam menyembuhkan masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat. Nyatanya tidak, hidup masyarakat kita jauh dari kesejahteraan. Gereja gagal karena kita terlalu egois dan mementingkan kepentingan pribadi kita sendiri. Cara hidup mewah dan terlalu mementingkan urusan pribadi atau biara, sehingga lupa cara bergaul dengan umat.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana upaya profetis Gereja dihadapkan dengan situasi kemiskinan masyarakat?  Bagaimana Gereja juga dapat mempertanggungjawabkan statusnya sebagai masyarakat alternatif atau menunjukkan model budaya tanding? Apakah Gereja sudah menjadi sumber inspirasi bagi perjuangan masyarakat Flores? Ataukah Gereja juga sadar atau tidak ikut ambil bagian sebagai institusi yang ikut menindas masyarakat lewat korupsi serta kebijakan pastoral yang tidak kontekstual dan membebankan umat.

Jadi Gereja yang Tawarkan Solusi

Gereja yang kontraproduktif dihadapkan dengan situasi negatif masyarakat memang bisa saja akan disebut Gereja yang gagal. Akan tetapi sejarah tidak pernah mengisahkan Gereja yang gagal lalu gagal terus dan hilang. Justru Gereja berkembang hingga saat ini, karena ia selalu mau belajar dari kegagalannya dan berkomitmen untuk terus hidup dan hadir sebagai inspirasi bagi masyarakat.

Karena itu beberapa ajakan penulis kiranya dapat membantu kita untuk merefleksikan diri dan mengambil langkah untuk berkomitmen dalam mewujudkan Gereka yang membebaskan. Pertama: Gereja mesti merumuskan kembali caranya mengikuti Yesus. Di tengah lemahnya peran sosio-politis Gereja saat ini, penting untuk Gereja menyadari nasehat John Sobrino, salah seorang teolog pembebasan asal Spanyol yang mengajak Gereja menobatkan konsep dan gaya hidupnya saat ini dan kembali memaknai cara  hidup dan model pelayanan Yesus.

Sobrino juga membuka kesadaran kita sebagai pengikut Kristus dengan imperatif moralnya yang menggugat keberimanan kita. “Kita orang beriman yang tahu Allah seharusnya berarti bersikap dan bertindak seperti Allah sendiri. Kita yang tahu kebenaran berarti harus lakukan kebenaran, mengetahui Yesus berarti mengikuti Dia, mengetahui dosa berarti menghapuskannya, mengetahui penderitaan berarti membebaskan dunia dari penderitaan, mengenal Allah berarti menghadap-Nya dalam keadilan.”

Di hadapan situasi ketidakadilan serta kemiskinan, Gereja seperti Yesus mestinya berjuang bersama masyarakat akar rumput. Dalam konteks ini, Gereja sudah seharusnya menginisiasi advokasi bagi kaum miskin, membangkitkan daya kritis mereka serentak mendorong gerakan bersama untuk mengubah situasi penderitaan dalam kehidupan bersama.

Langkah konkret yang bisa diambil Gereja adalah bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat atau NGO tertentu untuk menyadarkan masyarakat tentang situasi mereka serentak mendorong mereka untuk bersama berjuang merombak tatanan sosial dan struktur yang tidak adil dalam masyarakat, mengecam aturan-aturan yang legalistis, kaku dan menindas kaum lemah secara  bersama-sama. Dalam hal ini Komunitas Umat Basis (KUB) mesti jadi tempat utama dan pertama memulai sebuah transformasi dan perubahan sosial dalam masyarakat.

Salah satu langkah kreatif yang bisa saya tawarkan adalah Gereja Flores bisa bekerja sama dengan institusi kreatif tertentu untuk memberdayakan masyarakat. Penulis, saat ini sedang magang sebagai relawan di bank sampah. Di sana kami dilatih untuk membuat sampah jadi barang seni yang dapat hasilkan uang. Dari pengalaman berharga ini, saya pikir Gereja bisa bekerja bersama dengan bank sampah selain untuk mengkonkretkan peran profetisnya terhadap lingkungan juga bisa memberdayakan masyarakat untuk dengan usaha sendiri bisa hasilkan uang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun untuk bisnis yang bisa meningkatkan perekonomian. Sehingga dengan peran ini Gereja tidak hanya menjadi institusi yang hidup dari umat, tapi menghidupi umat dengan usaha kreatif nan berdaya guna bagi perkembangan Gereja dan masyarakat sendiri.

Kedua: Gereja harus memproklamirkan diri sebagai Gereja kaum miskin. Pilihan untuk memprioritaskan kaum miskin berarti juga pilihan untuk menjadi miskin. Konsekuensinya harus nampak dalam gaya hidup Gereja dalamnya kaum klerus jadi tokoh-tokoh publik yang harus menampakkan kesederhanaan, berkecukupan dan tidak boros.

Di tengah masifnya perkembangan budaya negatif seperti individualisme, hedonisme serta semangat konsumerisme yang kuat mengaburkan nilai-nilai budaya dan kristiani kehidupan masyarakat hari ini, Gereja mesti jadi budaya tanding yang menawarkan solusi bagi masyarakat. Sebagai budaya tanding, Gereja seharusnya menunjukkan bahwa orang bisa hidup bahagia  tanpa memiliki banyak hal dan tanpa menindas yang lain. Gereja, seperti kata Uskup Romero, tidak menginginkan banyak hal tapi harus bercita-cita lebih banyak untuk kesejahteraan umatnya

Budaya korupsi yang memiskinkan sekaligus membudaya dalam masyarakat kita adalah dampak tidak langsung dari semakin berkembangnya budaya modern dalam dunia kehidupan masyarakat. Berhadapan dengan fenomena merebaknya korupsi dalam kehidupan bersama, Gereja selain berperan mengupayakan budaya tanding atau masyarakat alternatif, juga seharusnya menampilkan diri sebagai inspirator bagi masayarakat. Hal ini dimulai dari komitmen Gereja untuk mewujudkan institusi yang bersih. Gereja atau biara, dalamnya para klerus bebas dari korupsi dapat menjadi kekuatan sendiri untuk mengugat budaya korupsi yang ada dalam masyarakat.

Yesus memilih berpihak pada orang miskin dan pilihannya itu konsisten dengan kesaksian hidupnya. Kisah pertemuan dengan Zakheus, si Kaya adalah kisah bagaimana kehidupan, ajaran dan tindakannya menjadi inspirasi bagi pertobatan orang yang pernah menjadi penindas dan tukang korup ulung pada zamannya.

Pada akhirnya, Gereja di NTT, lebih khusus Flores tidak bisa diam terhadap kenyataan kemiskinan dan juga masalah korupsi yang membuat NTT betah dan jadi satu dari dua provinsi lain yang paling miskin dan korup di Indonesia.

Agar perjuangan Gereja lebih konstruktif dan transformatif Gereja mesti menjadi pelopor pembebasan bagi masyarakat. Ia harus seperti Yesus yang serius bersama orang miskin dan menjadi seperti mereka dalam memperjuangkan keadilan, kebenaran serta kesejahteraan hidup masyarakat. ***

*)Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Baca juga:

Opini: Memotong Mata Rantai Kemiskinan Desa

Opini: Pembangunan dari Pinggir Sebuah Tantangan: Kasus Peternak Ayam Potong Skala Kecil di Manggarai Raya

Jokowi: Kebijakan BBM Satu Harga Harus Diterapkan Demi Kesejahteraan Rakyat

Korupsi Merambah Dalam Lingkungan Gereja? Ini Kata Peter C. Aman

Perkawinan Lamaholot Banyak yang Dilanggar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *