Beranda Headline Opini: Literasi dan Kebiasaan Membaca Buku

Opini: Literasi dan Kebiasaan Membaca Buku

4057
0
Mulia Donan, Jurnalis, Tinggal di Manggarai Timur, NTT. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Mulia Donan*

 

Dilihat dari pengertiannya literasi adalah, kemampuan individu mengolah dan memahami informasi saat membaca atau menulis. Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis, oleh karena itu, literasi tidak terlepas dari ketrampilan bahasa yaitu pengetahuan bahasa tulis dan lisan yang memerlukan serangkaian kemampuan kongnitif, pengetahuan tentang gendre dan cultural.

Meskipun literasi sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefenisikan dengan bragam cara dan sudut pandang, namun hakekatnya kemampuan baca tulis seorang merupakan dasar utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih dalam.

Berbicara tentang literasi, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah alternatif yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain. Alternatif-alternatif rupanya menjadi lingkaran hitam yang tidak kunjung putih sebagai pembahasan yang diidamkan.

Dengan demikian kata literasi adalah, bagian dari membaca dan menulis. Dengan membaca seseorang dapat memperluas cakrawala berfikir yang kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan (Dahlan, 2008:21). Membaca juga dapat dijadikan sebagai media informasi, kenyataannya saat ini beberapa masyarakat Indonesia masih minim dalam mengimplementasikan budaya literasi.

Menumbuhkan budaya literasi di dunia pendidikan kita saat ini khususnya siswa memang tidaklah mudah. Dibutuhkan keseriusan pihak tenaga pendidik untuk melakukannya. Inti dari literasi yaitu membaca, berpikir, dan menulis sangat diperlukan siswa untuk menyelesaikan studi, memasuki dunia pekerjaan dan belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat.

Apabila literasi dijadikan metode pengembangan kegiatan pembelajaran di sekolah berarti aktivitas pembelajaran yang dirancang  guru bertumpu pada kegiatan membaca, berpikir dan menulis dan kegiatan yang biasa menyertainya, seperti berdiskusi, memecahkan masalah, mengembangkan proposal kegiatan, meneliti dan melaporkannya. Literasi seakan mutlak dimiliki oleh setiap individu yang hidup di tengah kencangnya arus globalisasi tak terkecuali masyarakat Indonesia.

Menurut survey yang lakukan oleh UNESCO minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, cuma satu orang yang rajin membaca.

Riset lainnya bertajuk “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara soal minat membaca.

Ini artinya, Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung pembaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Ia menilai rendahnya budaya literasi Indonesia, salah satu penyebabnya karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum termasuk dalam Kurikulum 2013. Memang hal ini menjadi  masalah yang sangat kompleks ketika minat baca orang Indonesia baik di kalangan pejabat Indonesia sudah sangat rendah dan berkurang sebagaimana dicatat dalam penelitian UNESCO di atas.

Indonesia sebagai salah satu negara, telah berhasil mengurangi angka buta huruf. Data UNDP tahun 2014 mencatat bahwa tingkat melek huruf masyarakat Indonesia mencapai 92,8% untuk kelompok dewasa, dan 98,8% untuk kategori remaja. Capaian ini sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesia telah melewati tahapan krisis literasi dalam pengertian melek huruf.

Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut tidak serta merta menjadikan masyarakat Indonesia berbangga diri, karena nyatanya tantangan yang saat ini dihadapi adalah rendahnya minat baca sehingga menjadi salah satu tugas pemerintah dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat.

Upaya pemerintah dalam meminimalisir rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yakni dengan mengeluarkan suatu kebijakan seperti yang tertuang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, menggunakan 15 menit waktu sebelum pembelajaran dimulai untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Hal tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Minat baca bagi orang Indonesia harus dimulai dari diri sendiri juga harus segera ditanamkan sejak dini  karena dengan menimbulkan dan menanamkan kebiasaan baca pada diri, maka secara tidak langsung keterampilan membaca kita akan semakin terasah.

Keterampilan membaca yang dimiliki dapat mendorong kita untuk bisa  memahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif. Oleh karena itu, bagi generasi muda khususnya di kalangan pendidikan baik  di tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK  yang ada di Indonesia sudah mulai bergerak dan menerapkan budaya literasi (baca tulis) hampir secara keseluruhan.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menjadi salah satu langkah pemerintah dalam menanamkan serta menumbuhkan minat baca. GLS selain bertujuan untuk membangun karakter peserta didik juga bertujuan untuk menjadikan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan membaca dan menulis (literasi). Kebijakan mengenai GLS telah banyak diimplementasikan di dunia pendidikan kita saat ini.

Tanpa melakukan upaya perbaikan terhadap tingkat pendidikan baik di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK harus lebih serius lagi. Dan tingkat literasi akan sangat sulit bagi Indonesia untuk dapat menurunkan angka kemiskinan dan menurunkan tingkat kesenjangan.

Oleh karena itu kunci dalam meningkatkan produktivitas bangsa dan menurunkan angka kemiskinan serta menurunkan tingkat kesenjangan terletak pada keberhasilan kita dalam meningkatkan literasi itu sendiri. ***

*)Penulis adalah seorang Jurnalis, Tinggal di Manggarai Timur, NTT.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Baca juga:

Bumikan Gerakan Literasi di Tingkat Sekolah

Didik Kelola Uang Sejak Usia Dini, BPR BUD Larantuka Selenggarakan Edukasi dan Literasi Keuangan

Gregorius Batafor: Bapak Literasi Lembata

Perluas Wawasan, SMA Arnoldus Mukun Giatkan Budaya Literasi

Rumah Literasi Cermat Gelar Pelatihan Jurnalistik di Kampus Undana Bajawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here