Beranda Headline Puisi: Kepada Langit Biru

Puisi: Kepada Langit Biru

7854
0
Ilustrasi: Langit biru (Foto: Istimewa)

Puisi-Puisi Gerad N Bibang

 

kepada langit biru

 

hanya bersamaan dengan memandang langit biru

berdesir angin bersama kenangan yang lalu-lalu

 

langit biru begitu tenang pagi ini

ingin rasanya rindu ini memiliki sayap-sayap kasuari

untuk terbang bebas tanpa hambatan

bersama angin berbagi kisah di atas sana

 

langit biru tidak memberi isyarat

ketika ditanya ke mana rasa yang terpendam menemukan sang surya

apakah rindu ini memang tak beralasan

 

namun setitik embun pagi menyejukan imanku kepada cinta

dari dan kepadanya kudapati ketentraman jiwa

ke mana jika bukan kepada senyuman langit biru tanpa kata

tentang bahasa cinta yang lebih konkrit

esensi cinta yang adalah takdir

 

bunga-bunga pun kembali segar

langit biru begitu cerah

aku dan kau kembali semula

kepada yang biasa-biasa

 

syukurku kepada langit biru  atas anugerah ilmu tentang bagaimana mencinta selama di dunia

untukmu yang di sana

kepadamu hanya kerinduan untuk berjumpa. ***

(gnb: senin:2.7.2018: tmn aries, jkt, ibukota kembali ramai sesudah liburan panjang)

 

Ilustrasi: Langit bolong (Foto: Istimewa)

langit bolong

1/

coba tebak apa yang perempuan itu sembunyikan di pikirannya

kobaran cahaya bintang tak ia hiraukan

mungkin ia sedang kesal panjang yang tak pernah mengenal kata maaf

ia merasa langit telah bolong

menderukan gaung dalam bathinnya untuk segera kembali ke titik nol

2/

di langit yang dikiranya bolong itu

terlihat bayangan wajah kekasihnya

kebenaran memang tidak pernah menipu

sekali mencinta tetap mencinta

apa pun langitnya: entah bolong, entah biru

3/

perempuan itu mengernyit

teringat tentang kisah ketika ia sedang berdua

apakah waktu itu langit bolong sedang iri

pertanyaan itu ia ajukan diam-diam

namun senyum dan tutur kata kekasih yang begitu indah

yang tidak dibuat-buat

adalah jawaban atas apa yang sudah dan barusan ia pikirkan

4/

kunang-kunang musim panas kelap kelip di bawah cahaya langit bolong

ini bukan keajaiban yang diminta untuk dikagumi

kunang-kunang itu terbang dan terbang

mungkin dengan gagah perkasa, mungkin dengan sempoyong

namun ada yang harus dipercayai oleh penduduk bumi:

selalu ada jalan lain menuju batas

sebuah jalan yang bukan lagi urusan pikiran dan apa-apa yang dihasilkannya

makhluk di bumi dipanggil hanya untuk melakukan perjalanan

5/

lalu perempuan itu duduk dan mulai menulis puisi

dahinya lagi-lagi mengernyit

teringat ia akan pesan sang kekasih:

“ jika kau menulis puisi, pahamilah, ada aku di antara huruf, titik, koma dan tetanda baca lainnya

maka, berhati-hatilah agar apa yang kau tulis tak membuatku terluka

langit di atas sana tetap akan terus bolong

agar huruf-huruf yang tertulis tidak terkelupas dalam ember bocor”. ***

(gnb:tmn aries:jkt:senin:2.7.2018)

Gerard N Bibang (Foto: DOK Pribadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here