Ini Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara Pilgub NTT di Manggarai

oleh
Penyerahan salinan dokumen hasil rapat pleno rekapitulasi oleh KPU Manggarai kepada salah satu saksi pasangan calon. (Foto: Dok. KPU Kabupaten Manggarai)

FLORESPOST.co, Ruteng Hasil rekapitulasi perolehan suara setiap pasangan calon Pilgub NTT di tingkat Kabupaten Manggarai ditetapkan KPU Kabupaten Manggarai secara resmi pada hari Kamis, 5 Juni 2018, bertempat di Aula Asumpta, Katedral-Ruteng.

Total pengguna hak pilih sebanyak 138.740 pemilih, atau bekisar 71,9 persen dari wajib pilih sejumlah 192.919 orang dalam daftar pemilih tetap (DPT).

Berikut perolehan suara masing-masing pasangan calon (Paslon):

  1. Paslon Nomor Urut 1 (Ir. Esthon Leyloh Foenay, M.Si dan Drs. Christian Rotok) sebanyak 55.546 suara;
  2. Paslon Nomor Urut 2 (Marianus Sae, S.AP dan Ir Emelia Julia Nomleni) sebanyak 16.250 suara;
  3. Paslon Nomor Urut 3 (Dr Benediktus Kabur Harman, SH dan Drs. Benny Alexander Litelnoni, SH, M.Si) sebanyak 54.453 suara;
  4. Paslon Nomor Urut 4 (Viktor bungtilu Laiskodat dan Josef Adreanus Nae Soi) sebanyak 11.221 suara.

Kegiatan rekapitulasi perolehan suara tersebut berbentuk rapat pleno terbuka, yang berlangsung mulai pukul 11.00 siang dan berakhir pukul 19.30 malam.

Rapat pleno rekapitulasi dipimpin Ketua KPU Manggarai, Henry Dewanto Dao, didampingi empat anggota komisioner lain.

Hadirin kegiatan antara lain, seluruh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dari 12 kecamatan, jajaran Panwas Kabupaten, saksi dari tiga pasangan calon, perwakilan pemerintah daerah, perwakilan Polres Manggarai, dan Dandim 1612 Manggarai.

Apolonarius Rokefeler Soleman, Ketua Divisi SDM & Parmas KPU Kabupaten Manggarai kepada Florespost.co, Jumat (6/7/2018) mengatakan, mekanisme rapat pleno ini yakni PPK dari setiap kecamatan, secara bergilir, membacakan rekapitulasi di tingkat kecamatan sebelumnya yang tertuang dalam formulir model DA1-KWK.

“Formulir ini berisikan data jumlah pemilih, penggunaan Surat Suara, perolehan suara sah dan tidak sah dalam formulir Model DA1-KWK. Kemudian, setelah pembacaan hasil untuk kecamatan tertentu, Ketua KPU Kabupaten membuka forum penyampaian tanggapan atau keberatan dari peserta rapat,” jelasnya.

Menurut Apol, fakta elektoral atau perolehan suara setiap pasangan calon tetap utuh adanya atau tidak diproblematisir oleh peserta rapat.

“Pleno memakan waktu berjam-jam, ketika peserta rapat berkubang cukup lama dalam relung-relung kompleksitas data administrasi pemungutan dan penghitungan suara yang disusun KPPS maupun yang tercermin dari hasil rekapitulasi terdahulu di Kecamatan,” terangnya.

Selama proses tersebut, jelas Apol, Ketua Panwas Pemilihan Kabupaten, Marcelina Lorensia, memberikan sejumlah catatan rekomendasi perbaikan terhadap pencatatan administrasi di Model DA1-KWK dari sebagian besar kecamatan.

Ia menjelaskan, sorotan antara lain ditujukan kepada ketidaktelitian penulisan jumlah pemilih terdaftar dan pengguna hak pilih serta penggunaan surat suara. KPU Kabupaten segera menindaklanjuti rekomendasi tersebut dengan menuangkan perbaikan-perbaikan signifikan pada lembar dokumen yang ada.

Peserta saksi dan Panwas, terang Apol, sempat menyatakan ketidakpuasan dengan kualitas Model DA1-KWK yang disusun PPK Reok Barat. Antara lain lain akibat tercabiknya salah satu lembar halaman salinan yang diterima salah satu saksi di kecamatan tersebut.

“Juga mempermasalahkan tiadanya bubuhan cap stempel basah dan menyalahkan pemakaian Tipp-Ex untuk koreksi penulisan di Model DA1-KWK yang disebut sebagai dokumen negara,” jelasnya.

Merespons keberatan saksi dan Panwas tersebut, lanjut Apol, Ketua KPU Kabupaten kemudian melakukan penyalinan ulang Model BA1-KWK Reok Barat dan menyerahkannya kepada pihak-pihak tersebut.

“Setelah keberatan-keberatan di atasi dengan baik, dokumen rekapitulasi tingkat kabupaten (Model DB1-KWK) disusun dan ditandatangani lima komisoner. Hasil perolehan suara setiap pasangan calon di lingkup kabupaten dengan sendirinya disahkan,” jelasnya.

Terkait pemilih dalam DPT/DPPh (pemilih yang mendaftar untuk memilih TPS lain)/DPTb (Pemilih yang belum terdaftar di DPT tapi tunjukkan KTP el di TPS) se-Kabupaten Manggarai, menurut Apol sebanyak 194.746 orang.

“Pengguna hak pilih sebelumnya tidak terdaftar di DPT, tapi bisa menunjukkan KTP el, sebanyak 1.583 orang. Pemilih disabilitas/penyandang cacat yang terdaftar di DPT sebanyak 603 pemilih, dan yang akhirnya menggunakan hak pilihnya  sejumlah 140 orang,” urainya.

Sedangkan terkait jumlah surat suara tidak (akibat salah dicoblos/pencoblosan tidak bisa dinilai mengacu pada salah satu pasangan calon), tambah Apol, sebanyak 1.270 surat suara. Terbanyak di Kecamatan ruteng (218 surat suara) yang pengguna hak pilihnya berjumlah 18.287 orang.

“Hasil rapat pleno ini akan diteruskan KPU Manggarai ke forum rapat pleno tingkat Provinsi NTT di Kupang, pada tanggal 7 s.d 9 Juli 2018, bersama dengan 21 Kabupaten/kota yang lain,” pungkas Apol.

Penulis: Jefry Randut

Editor: Fransiskus Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *