Opini: Alangkah Lucunya Asosiasi Provinsi (Asprov) NTT

oleh
Kondisi lapangan (sumber foto Ridwan - WAG MasGibol NTT)

Oleh: Evan Lahur*

 

(Cerita di balik kondisi lapangan di gelaran Piala Gubernur NTT 2018)

Hiruk pikuk Piala Dunia 2018 di Rusia akan mencapai titik akhir. Saat anda membaca tulisan ini, finalis Piala Dunia telah diketahui. Sebentar lagi, hingar bingar gelaran sepak bola terbesar di dunia ini akan berakhir. Mungkin saja pasca berakhirnya Piala Dunia, Rusia sebagai tuan rumah akan kembali merasakan “kesepian” setelah kurang lebih sebulan terakhir merasakan suasana penuh kegembiraan. Toh kita semua pun akan merasakan dampaknya serupa. Tidak lagi begadang hingga larut malam maupun perdebatan panjang di status media sosial.

Lepas dari itu semua, publik sepak bola NTT boleh berbangga karena menjelang berakhirnya Piala Dunia, turnamen Piala Gubernur NTT tahun 2018 baru saja dihelat. Selasa (10/7) kemarin, pertandingan pembuka telah dimainkan. Persim Manggarai dibantai habis-habisan oleh PSN Ngada. Selamat datang di gelaran Piala Gubernur NTT 2018 di Kupang.

Turun Kelas

Jika pembaca mengikuti informasi seputar gelaran Piala Gubernur tahun 2018 bahkan menyaksikan pertandingannya secara langsung, tentu mengetahui pula kualitas lapangan yang digunakan oleh panitia (baca; Asosiasi Provinsi – Asprov), yakni lapangan TNI AU, Kupang. Saya sendiri belum melihat secara langsung namun dari foto yang beredar di media sosial, saya harus akui lapangan ini menyimpan cerita yang sangat menarik. Betapa tidak, lapangan ini jauh dari harapan publik sepak bola NTT. Bagi saya, kesan minimalis tersirat dalam penggunaan lapangan ini secara khusus untuk gelaran turnamen sepak bola regional NTT.

Dari foto yang beredar, kualitas rumput jauh dari harapan dan para pemain di jeda babak pertama harus beristirahat di bawah pohon. Hal ini menunjukkan pula kiprah sepak bola NTT khususnya di bidang infrastruktur lapangan sepak bola turun kelas.

Saya memiliki argumen sederhana. Mari kita urutkan dari awal. Stadion Utama Gelora Bung Karno menjelang gelaran Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang terus dipercantik. Tingkatan pusat, gairah perhatian terhadap lapangan sepak bola telah ada. Meski tidak adil jika dibandingkan dengan persiapan Asian Games, namun bagi saya kata kuncinya ialah gairah perhatian.

Kita beralih ke wilayah kita NTT. Gelaran El Tari Memorial Cup (ETMC) tahun 2017 di Ende menunjukan keseriusan Ende sebagai tuan rumah. Stadion Marilonga direnovasi dengan begitu megah. Rumput di stadion ini begitu berkualitas bahkan ETMC 2017 akan tercatat sebagai salah satu ETMC yang menggelar pertandingan di malam hari. Tak pelak, pasca gelaran ETMC 2017 di Ende, ada standar tinggi yang secara tersirat telah ditetapkan dalam penggunaan lapangan dan stadion di berbagai gelaran turnamen atau liga sepak bola di NTT yang di tahun-tahun berikutnya. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi tuan rumah ETMC tahun 2019 yakni Kabupaten Malaka.

Pertanyaannya ialah apakah kabupaten bungsu NTT ini mampu menyamai bahkan melebihi standar tinggi ini? Kabupaten Malaka sedang menjawab tantangan ini. Bupati Malaka Dr. Stef Bria Seran, sehari setelah mengikuti seremonial pembukaan ETMC di Ende tahun 2017, langsung pulang ke Betun dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan stadion berkapasitas 30.000 penonton. Belum lagi informasi tentang renovasi stadion Kobalima di Malaka. Stadion mininalis ini didesain lengkap dengan area “play ground“, lampu stadion, serta area parkir yang memudahkan pengunjung bisa menikmati suasana alam bebas, pantai dan pepohonan yang memikat hati. Kabupaten Malaka tentu ingin melebihi standar tinggi yang telah disiratkan pada ETMC tahun 2017 di Ende.

Lantas, fakta stadion Gelora Bung Karno, stadion Marilonga Ende dan pembangunan stadion milik Kabupaten Malaka ini ternyata belum cukup untuk membuktikan adanya geliat perhatian terhadap lapangan sepak bola berkualitas di NTT.

Pertumbuhan Sekolah Sepak Bola (SSB) di NTT pun setali tiga uang menjadi fakta penegas bahwa cerita buruk lapangan sepak bola di masa lalu sudah berakhir. Apakah para pembaca pernah membaca artikel atau melihat foto lapangan dan aktivitas sepak bola di lapangan SSB Bali United Kristal Kupang dan SSB Bintang Timur Atambua? Jika belum, saya mengusulkan segeralah mendapati informasi dua SSB ini termasuk SSB lainnya di kota Kupang, pulau Flores, Pulau Alor dan Pulau Sumba.

Dua SSB ini memiliki lapangan yang berkualitas. Kualitas rumput di dua SSB ini selalu terjaga. Ada perhatian dari pemilik SSB ini terhadap pemikiran bahwa rumput lapangan yang berkualitas berbanding lurus dengan capain hasil pada diri siswa-siswa SSB. Sederhananya, akurasi passing, crossing dan teknik sepak bola lainnya akan terserap begitu baik dan benar melalui kualitas lapangan (baca rumput) yang berkualitas pula. Hal ini dibuktikan oleh kedua SSB ini. Beragam prestasi dan apresiasi mengalir di SSB milik David Foe (SSB Kristal Bali United) dan Farry Francis (SSB Bintang Timur, Atambua).

Namun sayang seribu sayang, gelaran Piala Gubernur NTT tahun 2018 kali ini memberi satu kenyataan bahwa perkembangan sepak bola NTT harus turun kelas lagi. Parahnya lagi, gelaran Piala Gubernur NTT menjadi agenda Asosiasi Provinsi (Asprov) NTT. Tak pelak, ini merupakan tamparan keras bagi Asprov.

Tamparan itu mengarah kepada keteladanan yang absen pada tubuh organisasi Asprov dalam menyelenggarakan gelaran sepak bola tingkat NTT. Keteladanan dalam menyajikan kualitas turnamen yang mumpuni bagi tim-tim perwakilan askab se-Provinsi NTT. Sekali lagi, keteladanan paling sederhana ada pada kualitas lapangan yang digunakan.

Tim PSN Ngada saat jeda babak pertama (foto Ridwan – WAG Komunitas MasGibol NTT)

Apa yang terjadi?

Bagi saya yang menghabiskan waktu mengikuti perkembangan sepak bola melalui Mingguan BOLA, membaca portal online berita sepak bola semisal Panditfootball.com, Kumparan, Bola.com maupun diskusi lepas antar sesama peminta sepak bola Manggarai, dapur sepak bola di Asprov yang menjadi kendali perkembangan sepak bola NTT tidak saya ketahui. Seperti apa perencanaan, pengorganisasian maupun evaluasi perkembangan sepak bola NTT.

Bagi kami masyarakat sepak bola NTT, indikator sederhananya ialah kualitas turnamen sekelas ETMC maupun Piala Gubernur, medali emas cabang sepak bola PON maupun pembenahan infrastruktur sepak bola semisal stadion, wasit, suporter maupun perangkat pertandingan.

Gelaran Piala Gubernur NTT 2018 yang sedang dihelat ini menegaskan bahwa Apsrov NTT gagal dalam menjalankan tugasnya. Pertanyaan klasiknya ialah mengapa hal ini bisa terjadi? Bagi saya, satu alasan yang bisa merangkul kenyataan ini ialah ketidakmampuan Asprov NTT dalam menggerakan berbagai kekuatan sepak bola NTT.

Bagi saya sederhana, kekuatan sepak bola tersebut ada di level Askab, SSB dan masyarakat sepak bola NTT (komunitas sepak bola di kabupaten). Perihal lapangan yang digunakan di gelaran Piala Gubernur kali ini, mengapa tidak penyelenggaraan Piala Gubernur tahun 2018 diadakan di Kabupaten Ende; merujuk keberadaan Stadion Marilonga?? Atau di Atambua merujuk keberadaan SSB Bintang Timur Atambua.

Saya meyakini, pikiran saya ini bisa jadi akan dihadapkan jawaban klasik yakni keterbatasan dana. Jika iya, bagi saya tambah satu lagi hal menarik yang patut ditertawai oleh kita. Apakah Piala Gubernur NTT baru digelar tahun ini? Saya meyakini, para pengurus Asprov bukan orang kemarin sore di sepak bola NTT. Toh kepengurusan Asprov pasti diisi oleh orang-orang penting sepak bola NTT. Mengapa harus mengorbankan dana sebagai faktor penyebab. Jika benar terjadi, saya pun dapat membalikkan logika keterbatasan dana ini. Apakah gelaran Piala Gubenur kali ini hanya sekadar formalitas untuk menghabiskan dana tanpa memperhatikan kualitas penyelenggaraannya?

Bagi saya jelas, lima tahun terakhir perkembangan sepak bola NTT sudah mengarah ke arah yang lebih baik. Bahkan bagi saya, jika insan sepak bola Indonesia menyebut mutiara dari Timur, NTT salah satunya. Hanya sayang, gelaran Piala Gubernur NTT tahun 2018 kali ini menampilkan cerita yang berbeda.

Berbenah

Piala Gubernur NTT 2018 akan terus berlanjut. Kita akan menanti juara di tahun ini. Semoga saja, juara Piala Gubernur 2018 bisa mewakili NTT di Putaran Nasional Liga 3 Indonesia. Bagi saya, harapan ini terasa lengkap jika Asprov NTT pun berkeinginan berbenah. Proses pembenahan ini setidaknya dimulai dari tubuh organisasi Asprov sendiri.

Begitu banyak perkembangan positif yang telah terjadi di beberapa kabupaten. Setidaknya Asprov NTT bisa memaksimalkan berbagai perkembangan positif ini. Kelayakan stadion menjadi pekerjaan utama Asprov dalam menyelenggarakan turnamen serupa di waktu-waktu yang akan datang. Toh memilih Kabupaten Atambua sebagai tuan rumah turnamen regional NTT bukan persoalan berat bagi tim-tim kabupaten lain. Karena di sana ada lapangan yang berkualitas, tentunya berbanding lurus dengan capaian kualitas pada diri para pemain yang bertanding.

Sekali lagi, semoga Asprov mau berbenah diri. Jika memungkinkan untuk merombak struktur kepengurusan, kenapa tidak. Toh, tahun 2012 Davor Suker terpilih sebagai ketua PSSI (nya) Kroasia. Davor sendiri merupakan legenda sepak bola Kroasia dan top score Kroasia di Piala Dunia 1998 di Prancis. Lihat hasilnya, Kroasia sudah berada di final Piala Dunia 2018. Berkaca dari pengalaman ini, saya berpikir ada peluang jika Asprov NTT diisi oleh orang-orang yang betul-betul fokus mengurus sepak bola. Hal ini kembali kepada niat baik pimpinan tertinggi KONI NTT. Mari kita tunggu kabar selanjutnya. Jangan sampai saya atau anda kembali menertawai Asprov NTT. Sekian.

Evan Lahur (Foto: Dok. Pribadi)

*)Penulis adalah Anggota Komunitas Masyarakat Gila Bola (Masgibol) Manggarai, Anggota ICI Moratti Regional Ruteng.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *