Opini: Pemimpin Terpilih Harapan Rakyat

oleh
Yono Paing CMF, Penghuni Wisma Skolastikat/ Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Yono Paing CMF*

 

Sejumlah daerah di Indonesia telah melewati sebuah masa untuk menentukan siapa pemimpin mereka. Rakyat kecil hingga masyarakat elit telah menaruh sejuta harapan pada pemimpin terpilih. Semua harapan dan jawabannya akan terjawab dalam masa kepemimpinan mereka selama 5 tahun.

Meski demikian, rivalitas politik terus mempengaruhi penolakan dari sebagian pihak yang kalah dalam pertarungan pilkada. Mereka merasa pemimpin yang menjadi pemenang tak layak untuk memimpin daerah atau bukanlah sosok yang tepat. Lalu siapakah pemimpin yang cocok? Apakah calon yang kita dukung juga cocok? Bagaimana ideal pemimpin yang menjadi harapan rakyat? Semua pertanyaan dan pernyataan akan saling timpang tindih dalam akal sehat kita.

Dalam tulisan ini, penulis mengajak elit politik, rakyat dan pembaca untuk meninggalkan masa kampanye; di mana kita memiliki perbedaan ide, visi-misi, sosok pemimpin idaman dan lain sebagainya. Kini kita telah mendapatkan pemimpin baru dan bersama-sama berkarya demi sebuah kesejahteraan dan kebaikan. Lupakan semuanya. Tentunya, penulis menyadari akan adanya orang atau pembaca yang tidak menyetujui pendapat saya. Ini hanya sebuah harapan dari penulis.

Eksistensi Pemimpin

Keberadaan pemimpin dalam sebuah tataran masyarakat atau kehidupan bersama adalah suatu yang sangat dibutuhkan sekaligus urgen. Pemimpin dipahami sebagai sosok yang sangat penting dan sentral bagi sebuah kelompok masyarakat. Ia merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan (sine qua non) dalam kehidupan sebuah daerah dan bangsa.

Dalam KBBI, pemimpin berarti seseorang yang mengepalai, mengetuai, memegang tangan seseorang untuk membimbing, mendidik, melatih, mengajar agar dapat mengerjakan sendiri. Hemat penulis, pemimpin adalah orang-orang baik yang terpercaya dan siap memimpin tanpa siprit “do ut des” atau memberi untuk menerima. Dia adalah pribadi yang beradab dan berkeutamaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Ia tidak sekadar orang yang pandai berkecimpung di lingkungan pemerintah atau “istana” dalam bahasa penulis, tetapi juga “berkotor tangan” bersama rakyat. Artinya, ia tidak hanya diam dan menjadi penonton dalam situasi rakyat, tetapi mengalaminya secara langsung. Ia dipilih bukan untuk menjadi penguasa atau atasan seperti dalam sebuah perusahaan, melainkan untuk mengayomi rakyat menuju bonum commune.

Berbagai arti menunjukkan betapa kaya dan banyaknya dimensi penting yang harus dihidupi dalam diri seorang pemimpin yang telah terpilih. Itulah peran-peran yang semestinya dihidupi oleh setiap orang yang dipercayakan  rakyat. Harapan rakyat akan pemimpin yang baik dan jujur sangatlah besar.

Ironisnya, banyak pemimpin tak bergeming terhadap persoalan dan harapan rakyatnya. Kepentingan diri telah menghipnotis hati mereka untuk mendahului keinginan dan kepentingan pribadi daripada bonum commune. Banyak yang enggan beranjak dari kemapanan untuk sekadar menengok rakyat kecil yang menjadi korban keegoisannya dalam mengambil keputusan dan kebijakan.

Rupanya pemimpin masa kini telah mencungkir-balikan makna pemimpin yang sebenarnya. Mereka mengartikan pemimpin secara superfisial sebagai penguasa dari pada arti lain yang sebenarnya menyentuh dasar pemaknaan seorang pemimpin masyarakat. Akibatnya muncul sesanti bahwa “pemimpin tetaplah penguasa dan pemenang, sedangkan rakyat adalah ketiadaan;” meskipun kekuasaan sesungguhnya milik mereka. Hemat penulis, makna pemimpin telah melebur dalam hawa nafsu, hedonis dan narsistik (cinta diri) mereka.

Figur Harapan Rakyat

Di tengah krisis kepemimpinan dan kepercayaan yang kian menjadi-jadi, kebutuhan akan figur harapan tak terelakan lagi. Lalu pemimpin macam apakah yang dapat dipercaya dan dibutuhkan saat ini? Memang pertanyaan ini menggelitik dan membingungkan rakyat akan sosok yang tepat. Tetapi yang pasti, sosok yang diharapkan adalah pemimpin elegan dan memiliki kualitas dalam dirinya. Pertama, semacam apakah pemimpin elegan? Elegan berarti anggun, menarik dan hebat. Rasa-rasanya sosok pemimpin elegan cocok untuk menjawabi pertanyaan siapakah pemimpin harapan rakyat.

Figur elegan adalah sosok yang mampu mengambil kebijakan dan menghayati semua makna atau dimensi pemimpin sebabai utusan rakyat. Pemimpin elegan memiliki integritas diri, namun bertipe sederhana. Ia tidak hanya berbahasa indah atau “manis di bibir” dalam bahasa penulis, tetapi dibuktikan dalam tindakan nyata. Dengan kata lain, sosok pemimpin elegan itu tidak sekadar talk active, tetapi talk dan act. Mereka bukan masuk dalam barisan NATO (No Action Talk Only).

Pemimpin elegan berkapasitas sebagai penuntun arah atau jalan yang handal. Lebih tepatnya ia berjiwa seorang gembala. Gembala yang baik selalu memahami domba-dombanya dan berada dekat dengan mereka. Ia siap mati bila domba gembalaannya terancam oleh musuh. Dengan demikian, spiritualitas gembala sangat cocok untuk pemimpin elegan dengan mengingat betapa sulitnya menemukan pemimpin sejati.

Kedua, pemimpin yang memiliki kualitas dalam dirinya. Model kepemimpinan yang diharapkan rakyat selain elegan adalah pemimpin yang berkualitas. Seperti apakah pemimpin ini? Dia memiliki kualitas-kualitas tertentu dalam dirinya. Pertama, kualitas animator. Pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menganimasi atau memberi semangat kepada rakyat yang pimpinnya untuk mencapai bonum commune.

Kedua, kualitas inovator. Pemimpin yang memiliki jiwa memperbarui keadaan kehidupan masyarakat dengan sejumlah program dan kebijakan yang mendorong ke arah perubahan yang lebih baik.

Ketiga, kualitas reformator. Seorang pemimpin yang memiliki karakter pemimpin reformator (perubahan). Ia menjadi reformator tanpa harus melalui suatu revolusi.

Keempat, kualitas karimastik. Karisma seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap masyarakat sehingga mendorong masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu.

Kelima, kualitas partisipatif. Salah satu kualitas yang paling disukai rakyat. Di mana ia hadir dan ada bersama rakyat. Ia mengikuti irama hidup dan mengambil bagian secara aktif dalam hidup bersama. Dengan demikian, kehadiran seorang pemimpin sudah merupakan suatu modal dasar untuk mempengaruhi masyarakat yang dipimpinnya.

Popularitas tanpa kualitas adalah suatu bentuk pemalsuan diri (false identity) yang pada prakteknya menimbulkan banyak kejanggalan dalam kepemimpinannya. Jadi, pemimpin adalah pribadi yang memiliki kualitas dan kecakapan serta aura yang menggerakkan orang lain untuk suatu tujuan bersama tanpa tabur pesona dirinya.

Akhir kata, selamat kepada para pemimpin baru yang terpilih. Kita tinggalkan perbedaan dan rivalitas selama kampanye dengan bersama membangun daerah kita tercinta. ***

*)Penulis adalah Penghuni Wisma Skolastikat/Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *