Cerpen: Sebuah Rumah Yang Kehilangan Rejeki

oleh
Ilustrasi – Rumah, Landscapes (Foto: Tabor)

Oleh : Feliksianus Ama*

 

“Mak, jika merantau adalah satu-satunya jalan dan cara untuk mengubah kehidupan rejeki rumah tangga  kita, maka ijinkan aku pergi sebentar ke tanah orang untuk merantau.” Kataku pada seperempat malam untuk malam yang kesekian kalinya setelah makan malam.

Malam hening. Aku terdiam sesaat menanti jawaban dari istriku. Di luar angin menampar daun-daun kelapa yang tumbuh tinggi condongnya mengarah ke atap rumah. Gesekan bambu-bambu yang telah mengering seperti membangkitkan bulu kuduk. Lolongan anjing dan gaduh kucing di belakang rumah entah merebut apa. Lampu pelita di tetangga rumah sudah padam. Yang tersisa hanya asap yang mengepul dari tungku perapian yang bertahan dari sisa-sisa arang sebelum jadi abu. Bulan semakin tinggi dan cahaya redup menyelimuti jagat raya. Lampu pelita yang tergantung di tiang rumah ini sumbunya semakin pendek. Asapnya mengepul menempel ke langit-langit rumah atau yang lainnya menghitam di tiang rumah.

Anakku sedari tadi duduk di sampingku seperti ketakutan dan mendekat di hadapanku. Aku membenarkan posisi duduk dan memangkunya pada belahan pahaku. Sesekali ia menggelitik dagu dan bulu dadaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ia memainkannya sesuka hatinya dan ketika lolongan anjing atau ngaung kucing dari belakang rumah terdengar di telinganya, seketika itu juga ia memeluk tubuhku dan menyembunyikan kepalanya dalam lenganku dan semakin dalam ke dalam dekapan dadaku.

Ketakutannya semakin kuat dan tangannya mengeratkan tubuhku semakin kencang ketika semuanya bertubi-tubi menghantam malam. Hanya kepada tubuhku yang kurus ini ia mendapatkan perlindungan. Aku merangkul tubuhnya sambil mengelus-elus rambutnya yang halus. Aku berusaha memberikan kenyamanan pada rasa takutnya dan kami di antara ketakutan malam dan keresahan hidup.

“Jangan takut, nak. Papa ada di sini denganmu. Bersama ibu.” Kataku menenangkannya.

Istriku masih pada posisi duduk yang sama. Berseberangan meja denganku. Ia beranjak dari duduknya dan merapikan piring-piring kotor sisa makanan kami. Anakku yang ada di pangkuanku, masih dalam pelukannya mendongakkan kepala kepada ibunya dan meminta mainan.

“Mak, belikan mainan buat Anto, ya!” Pintanya dengan sisa-sisa rasa takut dan kepalanya kembali terbenam di dadaku.

“Nanti papa belikan ya, Nak.” Jawabku membuat janji dengannya.

“Papa janji ya!” katanya memperingatkanku, sebab sekali waktu aku pernah berjanji membelikan mainan untuknya, namun sampai saat ini belum sempat terpenuhi.

“Iya, sayang. Besok papa akan belikan.” Kataku berat sambil melepas kecup pada keningnya  dan sesekali membuatnya tertawa geli. Dengan begitu aku bisa mengusir rasa takutnya akan malam dari lolongan anjing atau ngaung kucing. Sebab yang terbayang di kepalanya saat-saat ketika lolongan anjing dan gaduh kucing adalah saat di mana para hantu datang dengan jubah hitam, di tangannya kapak dan tombak serta kuku-kuku yang tajam dan mata yang merah menyala dengan taring-taring yang panjang dan berdarah siap menerkamnya. Sepertinya cerita neneknya sebelum pergi beberapa bulan yang lalu masih mengganggu dan bergejolak dengan ketakutannya.

Setelah merapikan semuanya yang ada di atas meja makan, istriku kembali duduk. Kali ini ia merapatkan kursinya tepat di sampingku. Ia merangkul lenganku dari belakang dan hendak beradu kepala dengan anaknya, satu-satunya anak yang kami sayangi. Mereka beradu kepala untuk mendapatkan sandaran yang nyaman pada belahan dadaku.

Seketika itu juga, anakku menarik rambut ibunya dan hendak mencium pipi ibunya. Setelah mendapatkan beberapa helai rambut ibunya yang tergerai berantakan di dadaku, ia hendak meraih tangan ibunya dan berusaha mendapatkan tempat pada pangkuan ibunya. Ibunya menerimanya dengan kecupan. Barangkali ia merasa lebih nyaman bersama ibunya meskipun kasihku padanya pun tak pernah berkesudahan. Memang cara kami membagi kasih kepadanya, kepada anak satu-satunya yang kami sayangi memang berbeda.

Malam semakin pekat dan tebal. Bulan beranjak semakin tinggi dan redup. Kepulan asap pelita yang tergantung di salah satu tiang rumah mengeluarkan asap semakin banyak. Mungkin minyak di dalamnya mulai habis dan panasnya mulai memakan sumbu untuk menjaga nyalanya tetap terang. Sarang laba-laba  yang menempel di langit-langit rumah semakin hitam, kayu pembatas kuda-kuda rumah pun turut berubah warna.

Anakku telah lelap dalam pelukan ibunya, dengan janji yang terus ditagihnya. Kadangkala dalam tidurnya, ia seolah bermain dalam mimpinya sendiri dan memanggil-manggil temannya. Mungkin karena keinginannya bermain tak mencapai kepuasannya sampai-sampai ia terus menagihnya dalam mimpi atau ia hanya melanjutkan permainan yang belum selesai karena petang telah menamatkan episode permainan mereka. Ia bergerak seperti melakukan sesuatu dalam tidurnya. Ibunya menenangkannya.

Aku menatap dalam-dalam wajah istriku.  Aku memeluknya dan merangkulnya erat-erat. Tak ada kata yang terucap kali ini. Bibirku hanya menjaga kata dari lidah dan hati yang ingin mengutarakan sesuatu. Barangkali untuk saat ini tidak perlu ada kata yang keluar dari bibir untuk menghakimi atau sekedar memohonkan sesuatu. Barangkali sunyi yang akan menjawab dari tanya yang terpendam. Aku mengeratkan pelukan dengan kecupan pada keningnya.

Berulang-ulang aku membelai rambutnya dengan sulaman jariku. Dahinya berkerut dan matanya sejurus tertuju padaku. Tanganku yang kasar berangsur-angsur merapikan kerutan pada keningnya. Barangkali tanganku terasa kasar baginya, tapi yang jelas telapak yang telah mengeras karena parang dan tali ternak yang menjadi pegangan setiap hari tetap membelai dengan mesranya.

“Mak, jika waktu tak merestui harapan dan rejeki rumah tangga kita, aku akan merantau sebentar, mencari rupiah yang menjadi ukuran nilai kehidupan kita dan kehidupan semua orang ini. Aku tak tahu, mak, dunia macam apa saat ini. Semua hanya diukur dengan uang.” Kataku memecah kesunyian seraya memohon dengan sulaman jariku yang masih bertahan menyisir pada rambutnya.

“Jika musim yang selalu datang membawa hujan mengawini tanah dan memberi kesuburan pada tanaman kita dengan air hujan, aku tak mungkin merantau, mak. Atau barangkali tanah garapanku, peninggalan kakek dan warisan satu-satunya dari ayah merestui kerja keras papa, papa tidak akan pergi. Tahun lalu, hasil panen memburuk karena curah hujan kurang baik. Kita tidak bisa memastikan apakah tahun ini musim akan bersahabat dengan kita dan curah hujan menyuburkan tanaman kita, atau sebaliknya melawan kehidupan kita, kita tak tahu, mak.”

Istriku masih tak menjawab apa-apa. Ia masih terdiam dalam lamunannya yang tak mampu kujangkau. Mulutnya masih kaku untuk bicara. Aku berusaha memahami perasaannya. Barangkali hatinya ingin bicara namun lidah dan bibirnya berkelu. Aku berusaha memahami diamnya. Ia menggeleng berkali-kali saat kubujuk. Aku merasakan kegelisahan dari dalam hatinya yang terpancar pada air mukanya.

Barangkali ia tak akan rela aku merantau ke negeri  jiran, negeri yang katanya memberikan kemakmuran dan kelimpahan rejeki bagi siapa saja yang merantau ke tanahnya. Tapi rejeki kan urusan Tuhan. Kadangkala hal semacam ini aku tak banyak menaruh perhatian. Yang terpenting adalah bagaimana bekerja keras untuk bisa menghidupi keluarga.

Rasa traumatik masih terbayang jelas di kepalanya. Air matanya perlahan-lahan bersarang pada pelupuk mata dan tumpah mengairi pipinya. Aku mendengar air matanya berbisik kepadaku perlahan-lahan sambil menuding kepadaku dengan puing-puing kisah yang terjadi ketika itu. Tapi istriku masih dalam diamnya. Dan dalam derai air matanya aku merenung kembali semua kisah pahit itu. Ketika itu terjadi penyelundupan gelap ratusan imigran dari Indonesia bagian timur, di antaranya adalah aku bersama istri dan beberap teman yang lainnya. Yang lainnya lagi entah dari mana aku tak tahu, tapi yang pasti dari paras muka dan bentuk tubuh yang kekar, hitam legam dan kriting, menandakan kami semuanya berasal dari Indonesia bagian timur. Perkenalanku dengan istri juga bermula saat penyelundupan gelap itu terjadi.

Dengan speed boat milik nelayan yang digunakan untuk mencari uang sampingan pada imigran gelap, kami diselundupkan dari perairan Indonesia menyeberangi masuk ke perairan Malaysia. Kami semuanya kira-kira dua puluhan orang jumlahnya. Saling tumpang tindih kami di dalamnya bagaikan barang yang tak berharga. Berharga atau tidaknya kami sebagai manusia, kami tetap tenang agar bisa terhindar dari Polisi Air Malaysia dan tiba di darat dengan selamat. Rupa-rupanya kebanyakan Polisi Air Malaysia banyak yang main mata atas ketidakadilan. Memang sulit menjadi imigran gelap karena tak punya paspor. Belum sempat menepi di bahu pelabuhan atau barangkali di pesisir pantai, kami dipaksa untuk melompat ke perairan tersebut yang dalamnya semua kami tak tahu pasti. Mungkin dalamnya kira-kira di bagian telinga manusia yang tingginya 175 cm. Mereka yang tingginya tidak lebih dari itu terpaksa harus berenang. Celakalah bagi mereka yang tidak bisa berenang. Ketika itu bencana di depan mata.

Berbahagialah mereka yang punya paspor dan berdukalah bagi mereka yang tidak punya apa-apa. Banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Bagaimana mungkin, ketika masuk ke Malaysia, mengurus paspor ongkosnya bukan main. Seukuran dua bulan bekerja di sana. Rumit memang. Tapi demikian aturannya  jika harus masuk ke negara lain. Harus mematuhi aturan yang ada. Aku pernah berpikir pada saat itu, apakah lebih baik melaporkan diri ke kedutaan saja. Kata teman-teman, urusannya akan panjang jika kita ke kedutaan. Aku berpikir sejenak. Lalu, apa fungsi Kedutaan Indonesia untuk Malaysia? Kuurungkan niatku untuk menghadap kedutaan dan terpaksa menjadi imigran gelap selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Jika tertangkap oleh Kepolisian Malaysia harus menjalani hukuman dan terpaksa dipulangkan paksa ke negeri asal.

Sebagai imigran gelap di negeri asing itu, aku bekerja di perkebunan kelapa sawit bersama dengan teman-teman yang lainnya sementara istriku hanya bekerja sebagai tukang masak dan tukang cuci. Upah yang kudapatkan tidak seberapa, yang penting bisa mencukupi kehidupan kami. Aku menyewa sebuah kontrakan milik teman kerjaku ketika putraku lahir. Kami hanya hidup dari upah kerjaku dan upah kerja istriku.

Aku, istriku dan anakku yang masih berumur 1 tahun 6 bulan serta beberapa teman yang lainnya akhirnya tertangkap ketika berjalan-jalan ke kota membeli segala sesuatu termasuk oleh-oleh Natal, karena ketika itu menjelang perayaan Natal. Aku bersama istri membeli barang-barang rumah tangga dan oleh-oleh buat keluarga di kampung halaman dengan perencanaan akan merayakan Natal bersama sanak keluarga di kampung halaman.

Dengan pertimbangan anakku masih kecil maka bersama istriku mereka langsung dikirimkan kembali ke negara asal tanpa menjalani hukuman kurungan penjara. Sementara aku, karena belum memiliki surat nikah yang sah bersama istriku, maka berdasarkan aturan di negara sana aku tidak diakui sebagai suami yang sah atas istri dan anak-anakku. Aku dan teman-teman yang lainnya menjalankan masa kurung selama kurang lebih satu setengah tahun setelah itu dipulangkan paksa ke negara asal tanpa membawa apa-apa. Hanya biaya sewa ongkos sampai ke tepat tujuan dan uang 50.000 untuk biaya makan selama perjalanan.

Aku membangun sebuah rumah kecil dan sederhana di atas tanah milik bapak yang tersisa. Tanah ini rencananya akan digadaikan oleh bapak untuk menebus masa tahananku di bui. Rumah ini disusun dari batako murahan namun hanya sebagian dan sebagiannya lagi disambung dengan dinding dari bambu namun masih berlantai tanah. Atapnya terbuat dari daun alang-alang. Meski ukurannya tidak terlalu besar namun kamarnya dibagi dua pada bagian depan untuk kamar keluarga dan kamar tamu. Sementara sisanya lagi untuk ruangan makan. Di ruangan makan ini pula kami sekarang berada, dengan pelukan dan air mata istriku serta anakku yang telah lelap.

Kata istriku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak mau, Pak. Aku khawatir akan terjadi apa-apa denganmu lagi. Kejadian yang lalu-lalu terus menggangguku. Karena itu aku tak akan mau lagi kamu merantau ke sana. Tuhan pasti punya rencana yang lain untuk keluarga kita.”

Aku hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin belum saatnya istriku membuka hatinya dan membiarkan aku merantau ke Malaysia. Biarlah waktu menghapus kenangannya dan ketika tiba waktunya kesusahan menghimpit di dalam keluarga kami, satu-satunya jalan yang bisa kami tempuh adalah istriku membuka hatinya dan memberi jalan bagiku untuk merantau. Tokh saat ini rejeki keluarga kami pas-pasan namun kadangkala hampir saja terpuruk.

“Ia, mak. Mungkin Tuhan punya rencana untuk keluarga kita.” Kataku datar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *