Beranda Opini Opini: Mengentas Kemiskinan dan Kesehatan di Wilayah Perbatasan Melalui Pendidikan

Opini: Mengentas Kemiskinan dan Kesehatan di Wilayah Perbatasan Melalui Pendidikan

106
0
Gordianus S. Jike Vancui, Mahasiswa IPB, Bogor. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Gordianus S. Jike Vancui*

 

Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dan tentu harus terus membenahi sistem pendidikan agar lebih berkualitas. Pendidikan merupakan suatu sarana yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena melalui pendidikan dapat membentuk karakter dan gagasan berpikir. Dengan kata lain pendidikan merupakan modal dasar urgen yang harus dimiliki manusia dalam kelangsungan hidupnya.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sejauh ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah berupaya mewujudkan pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia namun upaya tersebut belum terwujud secara maksimal. Ketimpangan pendidikan di wilayah perbatasan masih saja terjadi seperti halnya kondisi pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan langsung dengan Negara Democratik Timor Leste.

Keadaan pendidikan di NTT sebagai garda depan Bangsa Indonesia masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Proses belajar mengajar dengan fasilitas yang serba kekurangan, minimnya perpustakaan tentunya menjadi hambatan terbesar dalam mengakumulasi pengetahuan.

Cable News Indonesia (CNN Indonesia, Edisi 2 Mei 2016) merilis 5 provinsi dengan pendidikan tidak layak menempatkan NTT sebagai peringkat ketiga. Hal itu menunjukkan bahwa daerah-daerah perbatasan yang pada hakikatnya merupakan daerah terdepan sebagai cerminan Bangsa Indonesia menjadi daerah yang paling terbelakang dalam hal pendidikan yang akan berpengaruh pada kemiskinan dan kesehatan masyarakat.

Kenyataan tersebut tentu saja bertentangan dengan konstitusi yang ada karena sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 34 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Artinya, baik anak-anak di daerah perkotaan maupun anak-anak di daerah perbatasan mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Mengapa Harus Pendidikan  

Wilayah perbatasan pada umumnya masih tertinggal dalam berbagai aspek, seperti aspek kemiskinan dan kesehatan. Terlepas dari akses (infrastruktur) yang belum memadai, pendidikan sangat berperan penting dalam mengentaskan kemiskinan. Lewat pendidikan yang bermutu dan berkualitas membuka cakrawala berpikir dalam berwirausaha yang bisa melepaskan masyarakat perbatasan NTT dari kungkungan kemiskinan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, NTT merupakan provinsi termiskin ke lima dengan tingkat kemiskinan mencapai 23,03%. Penduduk di wilayah perbatasan ini juga memiliki kasus gizi buruk, angka putus sekolah dan pengangguran yang tinggi. Jumlah anak penderita gizi buruk di NTT mencapai 60.616 dari total 504. 900 balita yang ada.

Upaya penanggulangan kemiskinan secara komprehensif dan berkelanjutan dengan memberikan perhatian yang tinggi pada bidang pendidikan diharapkan mampu menempatkan manusia tidak saja sebagai sasaran, tetapi menenpatkan manusia sebagai aktor yang sangat penting peranannya dalam hal ini masyarakat pun harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk mewujudkan pendidikan.

Selain mengentaskan kemiskinan, pendidikan juga dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesehatan. Masyarakat yang memiliki SDM rendah memandang kesehatan sebagai hal sepeleh, rendahnya pengetahuan masyarakat akan pemenuhan gizi yang seimbang berdampak pada kemampuan berpikir jernih dalam mengambil keputusan.

Simpulan

Peran pendidikan sebenarnya sangat penting dalam pengentasan kemiskinan dan masalah kesehatan. Untuk itu seluruh stakeholders (pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda) harus memiliki komitmen yang sama dalam mengentaskan kemiskinan dan kesehatan melalui pendidikan.

Program-program pemerintah dalam upaya mewujudkan pemerataan pendidikan harus dirancang secara maksimal agar tepat sasaran dan membawa perubahan. Mengutip pendapat “Paulo Freire” seorang tokoh pendidikan Brazil ia mengatakan bahwa lewat pendidikan dapat merubah kehidupan seseorang. ***

*)Penulis adalah mahasiswa IPB, Bogor.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here