Kita Juga Perlu Sejenak Berhenti! (Setelah ‘Badai’ Pilkada Berlalu)

oleh
Albert K. Efendi, Staf Panwaslu Kabupaten Manggarai. (Foto: Dok. Pribadi)

Esai.

Oleh: Albert K. Efendi*

 

Berkatilah kami ya Tuhan, bila kami berjaga…

Lindungilah kami bila kami tidur,

Semoga kami berjaga bersama Dikau,

Dan beristirahat dalam damai…

Di suatu senja yang beranjak gelap, seperti biasa, setelah menyelesaikan banyak aktifitas harian yang cukup melelahkan saya melaju bersama kaum urban yang lain meninggalkan Ruteng yang sebentar lagi sepi untuk kembali ke rumah. Sebagaimana hari-hari kemarin, meski tak ada kemacetan seperti yang saban hari dinikmati oleh para pejuang rupiah Jakarta, tetap saja selimutan kabut tipis membuatku menikmati jalanan pulang dengan sedikit menggigil…ah Ruteng..kelak ini situasi yang  selalu dirindu ketika bukan langitnya lagi yang menjadi atapku mengejar impian.

Pada sebuah titik yang biasa dipakai untuk rehat sejenak oleh orang-orang yang meninggalkan Ruteng, di tikungan terakhir setelah Wae Garit, saya memutuskan untuk berhenti. Sebuah bukit kecil dekat sebuah stand sederhana milik seorang penjual bakso menjadi tempat favoritku untuk mengaso.

Dari situ pemandangannya cukup unik. Kelok Delapan Wae Garit, begitu saya menyebutnya, dilatari bukit berhutan tropis dengan balutan kabut yang nyaris abadi, menjadi dekorasi yang indah untuk kota kecil  di kaki Golo Lusang ini. Dan, oh Mamma Mia…what the wonderful!!!! Saya baru menyadarinya…indah sekali lukisan Tuhan ini. Beberapa saat terbersit tanya, mengapa saya baru menyadarinya hari ini? Bukankah saya telah melewatinya berbulan-bulan?? Apa karena saya jarang berhenti????

Saya mencoba membuka kembali kepingan ingatan yang bertumpuk. Ada begitu banyak hal yang mengisi jam-jam aktifitas belakangan ini. Hiruk-pikuk Pilkada dengan segala tetek bengeknya menyita perhatian dan waktu serta banyak hal lain bagi orang-orang yang terlibat langsung di dalamnya.

Betapa tidak, kurang lebih 6 bulan terakhir ini, energi banyak orang  di daerah yang menyelenggarakan Pilkada terkuras habis-habisan. Penyelenggara Pilkada di tiap tingkatan, partai politik, pasangan calon kepala daerah dan tim suksesnya masing-masing sibuk dengan aktifitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Semua orang nampak sibuk, berpacu dengan waktu, berlomba dengan pergerakan mentari yang terbit-meninggi-terbenam, berkutat dengan aneka jenis pekerjaan.

Kelihatannya, hampir semua orang tenggelam dalam kerja demi akurasi data, popularitas, dukungan publik, mengumpulkan rupiah atau apalah….Sampai-sampai seorang teman kerja saya pernah  ‘nyeletuk’, “itu yang namanya liburan sejenis makanan atau apa ya???”

Di saat badan dan jiwa kita membutuhkan istirahat setelah aneka kesibukan, hal-hal lain yang melelahkan seringkali justru datang menyapa. Televisi yang dirancang utuk menjadi sarana hiburan justru tidak jarang menyimpang dari tujuannya. Berita-berita tentang korupsi yang menghiasi layar kaca amat menjemukan; kisah kriminal-pembunuhan membuat miris, kekacauan keluarga para selebritis yang tidak berguna diketahui menghabiskan banyak kesempatan di layar kaca, sinetron sederhana dengan alur membosankan, talk show dengan format hampir sama di beberapa stasiun televisi, acara-acara reality show bernuansa gaib dan sebagainya malah semakin menyumbang kepenatan.

Tayangan piala dunia yang dianggap bisa menyelamatkan situasi justru baru bisa ditonton dengan biaya yang lumayan mahal untuk kaum menengah ke bawah (mesti membeli alat khusus yang menangkap siarannya). Selain itu waktu tayang world cup tidak bersahabat untuk orang yang telah lelah seharian bekerja.

….Renunganku terhenti. Sayup-sayup kumandang adzan yang menjadi nada dering ponsel seorang yang juga ikut mengaso di dekat saya terdengar lembut mendayu di ruang pendengaranku. Saatnya bersembah sujud di hadapan sang Khalik bagi saudara-saudara yang Muslim. Namun, detak jalanan tidak ikut berhenti. Kendaraan yang datang dan berlalu belum juga berhenti.

Sontak kuteringat pada suatu masa dulu… kala itu, beberapa saat setelah berlalunya  waktunya shalat magrib, aku bersama teman-teman senasib bersimpuh-hening di ruang doa untuk sebuah ritual yang bernama ibadat sore. Alunan nyanyian mazmur dan pujian di sela-sela keheningan meditasi membawa kami pada kesempatan untuk istirahat sejenak dari semua aktifitas melelahkan seharian. Saat itu, meski singkat, digunakan untuk merenungkan kembali apa yang telah dilakukan sepanjang hari, berkeluh kesah atau sekedar menentramkan hati dalam diam.

Ketenangan seperti itulah yang sulit kita dapatkan di kota super-sibuk seperti Jakarta. Betapa tidak, aktifitas tidak pernah berhenti selama 24 jam. Pabrik-pabrik, alat-alat transportasi, tempat-tempat hiburan hingga angkringan nasi goreng nampaknya tidak pernah berhenti beroperasi.

Akibatnya, orang menjadi kehilangan waktu untuk melihat kembali semua yang telah dilakukannya. Orang juga hampir tidak sempat lagi merefleksikan hidup yang dijalaninya sehari itu. Celakanya, situasi itu perlahan dan hampir pasti akan mendatangi ruang hidup kota-kota kecil semisal Ruteng ini.

Plato, si filsuf Yunani pernah bilang,”hidup yang tidak pernah direflkesikan itu tidak layak dihidupi.” Merefleksikan hidup atau merenungkan kembali semua yang telah kita jalani dan laksanakan adalah cara kita untuk memaknai semua aktifitas hidup kita. Bukankah kita sejatinya bekerja atau melakukan apa saja agar hidup kita yang sementara ini menjadi lebih bermakna???

Sekali lagi, kita sendiri justru sering menyusahkan badan dan jiwa kita sendiri. Mata yang penat bekerja di depan komputer atau laptop, malah di waktu senggang kerap kali  diarahkan ke depan televisi, menatap tulisan-tulisan kecil dalam gadget, hp dan sejenisnya atau langsung tidur melepas lelah.

Banyak hal di atas membuat kita (aku, tepatnya) lupa kalau ada banyak hal lain di luar dinding rumah kita yang disediakan alam secara gratis untuk dinikmati. Jarang terlintas di benak untuk sejenak keluar rumah menikmati purnama yang tiap  bulan datang menyapa, mencoba menghitung bintang atau sekedar menyapu cakrawala dengan tatapan santai… Sadar atau tidak kita menghalangi diri sendiri untuk menikmati hidup yang sementara ini dengan kesibukan yang sesungguhnya tidak terlalu menyumbang banyak untuk perkembangan hidup ini.

Lalu…? Akhirnya saya coba mengutip (dengan sedikit perubahan) kata-kata Ustad Jefry beberapa tahun silam,

pada akhirnya..

semuanya akan menemukan yang namanya titik jenuh..

Dan pada saat itu.. Kembali atau istirahat adalah yg terbaik..

Kembali pada siapa..??? Kepada “DIA” pastinya… ***

*) Penulis adalah Staf Panwaslu Kabupaten Manggarai.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *