Pemdes Benteng Kuwu Gelar Sosialisasi Daya Tangkal Bahaya HIV/Aids dan Narkoba

oleh
Sekretaris Camat Ruteng dan Kasubag Kesos serta ketiga pembicara sedang memberikan materi tentang HIV/AIDS dan Narkoba kepada masyarakat Desa Benteng Kuwu. (Foto: Jivansi Helmut)

FLORESPOST.co, Ruteng Dalam usaha meningkatkan pengetahuan dan menangkal adanya bahaya HIV/AIDS dan Narkoba, Pemerintah Desa (Pemdes) Benteng Kuwu dalam kerja samanya dengan Kasubag Sosial, mengambil inisiatif dengan menggelar sosialisasi tentang daya tangkal bahaya HIV/AIDS, Kamis (26/7/2018).

Kegiatan sosialisasi yang dilangsungkan di aula kantor Desa Benteng Kuwu tersebut mengusung tema “Peningkatkan Pengetahuan Generasi Muda dan Masyarakat Guna Membangun Daya Tangkal Terhadap Bahaya HIV / Aids dan Narkoba”.

Hadir dalam kegiatan sosialisasi ini, Sekretaris Camat Ruteng, Kasubag Kesos, Donatus Saka, Kepala Desa Benteng Kuwu, Hermanus Tambu dan segenap aparat Desa Benteng Kuwu, Kepala Puskesmas Wae Mbeleng dan jajarannya, masyarakat Desa Benteng Kuwu, dan ketiga narasumber yang terdiri dari Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Manggarai, Boni Mardianus, Kasat Narkoba Polres Manggarai, dan juga Pendamping Komunitas Dukungan Sebaya, Bonard.

Masyarakat Desa Benteng Kuwu yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut terlihat begitu antusias mengikuti jalannya kegiatan sosialisasi tersebut hingga usai. Selain itu, kegiatan sosialisasi inipun juga diisi dengan kegiatan pengecekkan darah secara gratis yang secara langsung ditangani oleh para petugas kesehatan dari Puskesmas Wae Mbeleng.

Sekretaris Camat Ruteng, dalam sambutannya saat membuka kegiatan sosialisasi tersebut menegaskan, kehadiran kita sekalian dalam sosialisasi ini kiranya menjadi jembatan informasi bagi saudara dan saudari kita yang tidak sempat menghadiri kegiatan sosialisasi pada hari ini.

“Kehadiran kita kiranya bisa menjadi jembatan informasi bagi saudara dan saudari kita yang tidak sempat menghadiri kegiatan sosialisasi ini,” tegasnya.

Bonar, pendamping Komunitas Dukungan Sebaya, sedang membagi kisah tentang HIV kepada warga Desa Benteng Kuwu. (Foto: Jivansi Helmut)

Sementara itu, Donatus Saka, dalam sambutannya saat pembukaaan kegiatan sosialisasi tersebut menegaskan, kendati usia negara RI sebentar lagi memasuki usia ke-73, namun masih ada urusan yang mesti kita perangi secara bersama, khususnya persoalan yang berkaitan dengan HIV/AIDS dan Narkoba. Dan persoalan tersebut juga menjadi salah satu misi pemerintah Kabupaten Manggarai yakni peningkatkan kesehatan masyarakat, baik jasmani maupun rohani.

Kesehatan manusia, kata Donatus Saka, sangat ditentukan oleh tiga faktor. Pertama, faktor lingkungan. Dulu, faktor yang sangat penting dalam kehidupan masyakat adalah lingkungan. Jika lingkungan tidak ditata dengan baik maka bisa menimbulkan adanya pelbagai macam penyakit. Akibat lanjutnya adalah aktivitas kita untuk mencari makanan pun menjadi terhambat. Kedua, faktor keturunan. Dan ketiga adalah faktor perilaku. Faktor ini sangat penting karena berkaitan juga dengan cara berpikir kita.

Terjadinya faktor ini, lanjutnya, dapat dicegah dengan dua pola penting, yakni pola penyembuhan dan juga pola pencegahan.

“Dua pola penting untuk mencegah adanya faktor tersebut adalah pola penyembuhan dan juga pola pencegahan,” kata Donatus Saka.

Sementara itu, pembicara I Boni Mardianus, selaku Ketua Komisi Penanggulan AIDS Kabupaten Manggarai dalam materinya menjelaskan, masalah yang berkaitan dengan HIV dan AIDS adalah masalah yang sangat serius. Dulu, kita mempersalahkan pekerja seksual. Namun sekarang, HIV/ AIDS sudah masuk di tengah masyarakat hingga ibu rumah tangga. Dan bahkan, persoalan tersebut  sungguh mengancam para remaja yang produktif.

“Angka kasus kita sudah sangat tinggi. Di Kabupaten Manggarai angka kasusnya sudah mencapai 169 kasus. Sekarang tugas kita adalah untuk membongkar kasus tersebut,” tegasnya.

Para petugas kesehatan dari Puskesmas Wae Mbeleng sedang mengambil dan mengecek darah warga Desa Benteng Kuwu yang menghadiri kegiatan sosialisasi tersebut. (Foto: Jivansi Helmut).

Lebih lanjut, Boni mengatakan, saat ini ada juga masyarakat kita yang tidak berani terbuka. Di samping itu, ada juga orang yang diduga terinveksi kemudian didiskriminasi atau diasingkan. Hal inipun membuat penderita HIV AIDS tidak berani terbuka.

“Orang yang terinfeksi di Kabupaten Manggarai ada yang tidak berani  untuk mengungkapkan penyakitnya karena takut didiskriminasi. Hal itu membuat pemerintah Kabupaten Manggarai gencar untuk memerangi hal tersebut dengan mengadakan pelbagai kegiatan guna menghindari faktor tersebut,” kata Boni Mardianus.

Lebih lanjut, Boni Mardianus menjelaskan, HIV itu adalah Virus yang menyerang kekebalan tubuh kita.

Orang yang terinfeksi HIV akan menderita penyakit yang menyerupai flu dan lainnya. Namun, kata Boni, ada beberapa gejala umum seperti tenggorokan sakit, demam, penurunan berat badan. Biasanya gejala ini akan bertahan selama sebulan. Artinya sistem kekebalan tubuh kita sedang melawan Virus. Namun perlu diingat bahwa tidak semua gejala tersebut juga divonis HIV karena mungkin juga pengaruh cuaca.

Meskipun tanpa gejala, lanjut Boni, namun bisa menyebar kepada pihak lain yang meskipun orang yang bersangkutan tampak sehat-sehat saja.

Lebih lanjut, Boni Mardianus menjelaskan, AIDS merupakan infeksi terakhir dari gejala HIV. Lebih dari itu, AIDS juga dipahami sebagai kumpulan dari pelbagai aneka jenis penyakit yang masuk ke sistem kekebalan tubuh kita. Biasanya, ditandai dengan diare yang parah dan berkelanjutan dll. AIDS ini biasanya terjadi karena sistem kekebalan tubuh kita tidak bisa lagi melawan virus tersebut.

Berbeda dengan HIV, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Dan hanya hidup di tubuh manusia dan bukannya binatang. Namun, kita tidak perlu terlalu takut dengan orang penderita ini. Apalagi menjauhinya.

“Tidak apa-apa kita tinggal serumah dengannya atau cipika-cipiki dengannya. Karena penularannya terbatas,” kata Boni Mardianus.

Hal ini, lanjutnya, sangatlah penting karena pola pikir kita  kadang terbatas dan seringkali membuat kita mudah untuk mendiskriminasi penderita tersebut sampai yang bersangkutan tersebut meninggal

“Seringkali orang tidak melayat atau cemas menyentuhnya. Jadi, sebetulnya, virus tersebut penyebarannya terbatas.

HIV tidak hanya bisa dipastikan dari kondisi fisik semata. Namun, cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan mengadakan tes lengkap. Lalu, bagaimana mencegahnya?

Menurutnya, cara pencegahannya bisa dilalui dengan cara tidak melakukan hubungan seks beresiko, setia pada pasangan dan menggunakan kondom,” lanjut Boni Mardianus.

Mengakhiri materinya, Boni mengatakan, kalau sistem kekebalan tubuh kita baik, maka kita tidak akan gampang sakit.

Dan bagi orang yang terkena virus HIV, mereka akan mengkonsumsi obat yang namanya anti retretro viral seumur hidup pada jam atau waktu yang sama.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Narkoba, Videlis Doni, dalam pemaparannya menjelaskan, hari ini masih banyak masyarakat kita yang berani menjual atau melakukan kegiatan yang sebetulnya sudah dilarang untuk tidak mengkonsumsi barang-barang tertentu dalam jumlah yang besar, seperti halnya rokok dan minuman keras.

“Rokok meski sudah dilarang namun kita masih mengkonsumsinya. Demikian halnya dengan minuman keras. Minuman keras meski sudah dilarang namun masih ada yang menjualnya secara besar-besaran. Hal ini sebetulnya bisa membahayakan atau mencelakakan diri kita sendiri,” tegas Videlis Doni.

Para petugas kesehatan dari Puskesmas Wae Mbeleng sedang mengambil dan mengecek darah warga Desa Benteng Kuwu yang menghadiri kegiatan sosialisasi tersebut. (Foto: Jivansi Helmut).

Di Kecamatan Ruteng, kata Videlis, ada yang berani menjual miras secara besar-besaran. Dan kita pun menanganinya. Karena itu, jangan bangga kalau ada orang tua yang anaknya punya bakat minum-minum.

Lebih lanjut, Videlis Doni mengatakan, di ruteng juga ada ganja. Ganja yang bentukya kecil biasanya diguling dengan kertas. Dan harganya seratus ribu. Bahkan kasus baru-baru di Labuan Bajo ada yang tanam ganja di Labuan Bajo. Dan hukumannya adalah penjara seumur hidup.

Di akhir pemaparannya, Fidelis Doni mengajak masyarakat Desa Benteng Kuwu agar menjaga dan mengingatkan anak anaknya yang sedang menjalankan pendidikannya di Ruteng agar tidak mudah terjerumus dan kemudian menjadi aktor di balik barang-barang tersebut.

“Karena itu, kita juga perlu menjaga anak anak kita yang sedang menjalankan pendidikannya di Ruteng agar tidak mudah terjerumus dan mengkomsumsi barang barang seperti itu. Jangan hanya karena melihat uang seratus ribu, anak-anak kita begitu mudah terjerumus dan ikut mengkomsumsi barang barang tersebut. Karena itu kita punya kewajiban untuk mengingat anak-anak kita,” kata Fidelis Doni.

Senada dengan sebelumnya, Bonard, selaku Pendamping Komunitas Dukungan Sebaya, dalam isi sosialisasinya mengajak masyarakat Desa Benteng Kuwu agar tidak menstigma atau mendiskriminasi teman-teman ODHA.

“Saya mengajak masyarakat Desa Benteng Kuwu agar tidak menstigma atau mendisktiminasi teman-teman ODHA,” ungkapnya.

Kegiatan sosialisasi ini juga diisi dengan pengecekan darah secara gratis yang ditangani langsung oleh para petugas kesehatan dari Puskesmas Wae Mbeleng. ***

Jurnalisme Warga: Berita dikirimkan oleh Jivansi Helmut, Tinggal di Wae Mbeleng, Desa Benteng Kuwu, Kecamatan Ruteng.

Editor: Fransiskus Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *