Pilpres 2019, Mencari Pemimpin Berkualitas

oleh
Ilustrasi: Pemilu 2019 (Foto: KPU)

Opini.

Oleh Mario Cole Malok, CMF*

 

Sebentar lagi, tepatnya Agustus 2018, pendaftaran capres-cawapres dibuka. Beberapa nama capres yang muncul ke permukaan tengah pusing-pusingnya mencari pendamping. Mencari yang punya popularitas atau kualitas?

Sejumlah lembaga survei sepakat bahwa nama Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo Subianto adalah dua nama yang paling pasti siap berlaga di Pilpres 2019. Keduanya pun dengan mantap selalu berada di urutan pertama untuk Jokowi, dan urutan kedua untuk Prabowo.

Jokowi, misalnya, sudah pasti maju dalam panggung pilpres setelah PDI-P dan partai-partai yang berkoalisi dengannya mengajukan namanya sebagai calon presiden (capres). Pun dengan Prabowo, yang baru-baru ini menyambangi kediaman Susilo Bambang Yudhoyono hendak membicarakan tentang koalisi Gerindra-Demokrat dalam pilpres nantinya.

Akan tetapi, permasalahan muncul. Ini soal pendamping, yakni siapa yang layak menjadi calon wakil presiden bagi masing-masing capres. Nama-nama seperti Jusuf Kalla, Moeldoko, hingga Mahfud MD dan Sri Mulyani dikait-kaitkan dengan sosok Jokowi. Sedang nama-nama seperti Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, didekatkan dengan Prabowo.

Jika nama-nama tadi dipasangkan satu per satu dengan nama capres, tentu elektabilitas akan banyak berpengaruh. Rupanya mencari calon pendamping bukanlah perkara mudah. Jokowi sendiri justru sedang dilema polularitas atau kualitas. Hal ini menunjukkan bahwa nama-nama calon pendamping adalah kebutuhan yang urgen, yang juga turut mempengaruhi hasil akhir pilpres mendatang.

Idealnya tentu pendamping yang berkualitas. Namun, penantang dari kubu lain membuat perhitungan matematis justru cendrung mengalir ke popularitas. Mencari nama yang populer dibuat dengan maksud semakin menaikan rasa percaya diri dalam menghadapi Pilpres 2019.

Hemat saya, di sinilah letak permasalahannya. Demokrasi berada di ujung tanduk. Demokrasi tidak dapat ditikung untuk kepentingan pribadi/sekelompok orang agar bisa terpilih. Tidak bisa mencari calon pemimpin secara serampangan. Bila mendapat pemimpin yang bertujuan uang, sudah pasti kita akan dihadapkan dengan kepemimpinan berbasis tirani-koruptif.

Reza A. A. Wattimena dalam bukunya Menjadi Pemimpin Sejati (2012) mengemukakan dua ciri pemimpin di Indonesia saat ini (hal. 184-185). Pertama, bermental permisif, yaitu sikap yang tidak berani mengambil keputusan sendiri. Keputusan yang diambil tidaklah populer, namun cenderung menjaga popularitasnya sebagai pemimpin.

Selain itu, masih Wattimena, pemimpin yang bermental permisif ini juga disandingkan dengan mental selebritis yang pada akhirnya hanya menjadi penghibur dan lupa akan tugasnya sebagai pemimpin. Pemimpin dengan ciri seperti ini, menurut Wattimena, lahir dari proses instan.

Kedua, miskin integritas. Pemimpin berciri seperti ini lebih suka berpikir pragmatis, dan hanya berpikir soal keuntungannya sendiri, cenderung mempertahankan posisi, menjatuhkan saingan, dan melebarkan popularitas. Hal ini, bagi Wattimena, menunjukkan betapa miskinnya proses yang dijalani para pemimpin Indonesia.

Oleh karena itu, pencarian sosok pemimpin via demokrasi adalah upaya menemukan pribadi berkualitas, yang mampu membawa warga masyarakat pada ruang kesejahteraan. Dia tidak bermental permisif dan tidak miskin integritas. Maka, Pilpres 2019 harus betul-betul menjadi filter mencari siapa yang pantas menjadi pemimpin.

Dalam sejarah filsafat klasik, Plato memberikan tiga partisi kelas dalam masyarakat berdasarkan struktur jiwa masing-masing. Orang yang jiwanya dituntun oleh nafsu adalah orang yang cocok menjadi pedagang; orang yang jiwanya penuh semangat gagah perkasa lebih cocok masuk dalam skuat ksatria; dan orang yang hidupnya dpimpin oleh kerja akal budi dan pencarian akan esensi kehidupan dan forma yang baik, lebih tepat menjadi pemimpin (Robertus Robet, 2011:34-35).

Bertolak dari pemikiran Plato tersebut, pencarian akan esensi kehidupan dan forma yang baik tentu harus dilandasi oleh visi yang jelas. Adanya visi menjadi syarat utama bagi seseorang untuk duduk dalam tampuk kepemimpinan. Oleh karena itu, pencarian akan pemimpin adalah yang memiliki visi. Orang yang berjiwa visioner pasti tahu ke mana ia harus melangkah, dan ke mana dia membawa banyak orang berlangkah.

Sejalan dengan Herman Musakabe, seorang pemimpin harus memiliki visi yang memberi arah dan pandangan jauh ke depan serta harapan-harapan kepada pengikutnya agar mereka termotivasi untuk menjalankan yang dikehendaki pemimpin (2009:17). Dengan visi berarti dia memiliki pemahaman yang luas jauh ke depan yang mampu menggerakan banyak orang kepada suatu tujuan tertentu, yang kita sebut sejahtera itu.

Nama-nama kandidat capres yang muncul belakangan ini, dalam banyak hal, menunjukkan keunikan, kekuatan dan kualitasnya masing-masing. Maka tentu harus mencari pendamping yang berkualitas pula. Demokrasi yang bersih tidak hanya soal tiadanya money politics atau tiadanya black campaign. Demokrasi bersih adalah juga soal mencari pemimpin yang berkualitas.

Arah bangsa ini berjalan bukan seberapa populernya seseorang, melainkan kerena punya kualitas. Prinsipnya, yang berkualitas boleh memimpin. ***

*)Penghuni Wisma Skolastikat Claretian, Yogyakarta.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *