Keluarga Masih Sangsi VD, Penembak Fredy Taruk

oleh
Ferdinandus Taruk, korban penembakan di Ruteng Selasa 27 Maret 2018 (Foto: Ist)

FLORESPOST.co, Ruteng – Kepolisian Resort Manggarai, Flores, NTT telah menetapkan VD sebagai tersangka penembakan Ferdinandus atau Fredy Taruk. VD, yang merupakan personil kepolisian setempat menjadi tersangka dan ditahan sejak 2 Agustus lalu.

Publik baru mengetahui penetapan VD sebagai tersangka, setelah VD melakukan praperadilan dan proses sidangnya sudah mulai berlangsung di Pengadilan Negeri Ruteng, Senin (13/8).

VD tidak terima dengan penetapan dirinya sebagai tersangka. Sebab, menurutnya saat malam kejadian pada 27 Maret lalu, ia sedang berjaga di sebuah perusahaan di Redong, Kelurahan Wali. Sementara tempat kejadian perkara di Sondeng, Kelurahan Karot.

Keluarga korban juga menyangsikan VD sebagai pelaku. Fransiskus Y.A Syukur, perwakilan keluarga mengatakan  keluarga korban terkejut dengan penetapan VD sebagai tersangka.

Menurutnya, penetapan tersangka terhadap VD oleh Polres Manggarai berdasarkan hasil uji balistik di mana peluru yang diangkat dari kepala korban cocok dengan senjata yang digunakan tersangka pada saat berdinas di PT Inti Harum Sentosa atau dikenal dengan sebutan PT Wings di Redong, Kelurahan Wali.

“Kami sebagai keluarga korban belum percaya jika VD adalah pelaku penembakan Fredy,” ujar pria yang biasa dipanggil Yos ini, dalam pesan tertulis, Senin (13/8).

Menurut Yos, berdasarkan informasi yang diperolehnya, pada malam kejadian VD berdinas di PT Inti Harum Sentosa dan ada dua satpam yang menemaninya. Dan, menurut VD dia tidak pernah melepaskan tembakan malam itu.

VD mengakui bahwa dia hanya melepaskan tembakan pada tanggal 2 April 2018 dan senjata dikumpulkan pada tanggal 17 April 2018.

“Nah, kalau tembakan berasal dari Redong, mengapa para saksi di TKP lari berhamburan menyelamatkan diri pada saat korban terjatuh. Ini membuktikan tembakan dari arah seputar TKP. Apalagi beberapa saksi mengakui bahwa mendengar bunyi tembakan dari seputar TKP sehingga mereka berlarian menyelamatkan diri. Masa tembakan dari Redong, namun bunyi tembakannya lebih besar di Karot, kan aneh,” ujarnya.

Yos mengatakan, menurut informasi hasil uji balistik tembakan datar. Namun, dalam penjelasan pihak Polres ketika ditembakan dari Redong peluru itu bergerak dengan gaya hiperbola sampai di kepala korban.

“Kalau hiberbola kan berarti peluru masuk ke kepala korban melalui ubun-ubun. Sementara yang terjadi adalah peluru mengenai dahi korban,” ujarnya.

Yos juga mengatakan pada saat kejadian ada informarsi warga  seputar TKP yang menyebutkan bahwa ketika malam kejadian ada yang berlari ke arah kebun warga.

“Ada lebih dari satu orang lari ke perkebunan warga dan informasi ini sudah sampai di Polres,” tandasnya. (PTD/PTD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *