Penetapan VD sebagai Tersangka Dinilai Masih Premature

oleh
Kasat Reskrim Polres Manggarai, AKP Wira Yudha Satria, saat memberikan keterangan keterangan kepada media usai sidang praperadilan di PN Ruteng, Selasa (14/8/2018). (Foto: Adi Nembok/Florespost.co)

FLORESPOST.co, Ruteng Aparat Kepolisian Resor Manggarai telah menetapkan VD sebagai tersangka dalam kasus penembakan terhadap Ferdi Taruk, warga Karot, Kecamatan Langke Rembong, beberapa waktu lalu.

VD juga sudah ditahan sejak 2 Agustus 2018 lalu.

Namun penangkapan, penetapan tersangka dan penahanan terhadap VD yang juga salah satu personil polisi di Polres Manggarai itu dinilai terlalu premature.

“Ada fakta-fakta yang tidak digali maksimal oleh Termohon,” kata Toding Manggasa, Penasihat Hukum Pemohon VD usai sidang praperadilan terhadap Polres Manggarai, Selasa (14/8/2018) di Pengadilan Negeri Ruteng.

Dalam sidang dengan agenda Replik Pemohon atas jawaban Termohon pada sidang sebelumnya, Toding menyampaikan beberapa alasan yakni: Pertama, fakta adanya kegiatan eliminasi anjing rabies yang dalam pelaksanaannya terjadi pada malam hari yang juga menggunakan senjata. Namun dalam jawaban termohon tidak diuraikan apakah petugas juga menggunakan senjata.

Kedua, jarak tempat Pemohon bertugas dengan lokasi tempat korban terkena tembakan berdasarkan perhitungan google map sejauh 1,61 km.

Ketiga, senjata api yang dikuasai Pemohon adalah jenis V2 yang digunakan Sabhara Polres Manggarai yang berdasarkan spesifikasi pabrik pembuatnya yaitu PT. Pindad memiliki amunisi caliber 5,56×45 mm (bukan 7,62×45 mm) dengan efektif range 300 meter.

Secara ekonomis amunisi caliber 7,62×45 mm lebih mahal daripada amunisi caliber 5,56×45 mm karena dengan caliber lebih besar maka bubuk mesiunya lebih banyak yang menghasilkan daya jangkau lebih panjang. Amunisi peluru 7,62×45 mm juga tidak memiliki daya jangkau lebih dari 1 km.

Keempat, terdapat perbedaan ketinggian tempat Pemohon melaksanakan PAM dengan lokasi tempat korban terkena tembakan. Tempat Pemohon bertugas lebih rendah 11 meter. Dengan perbedaan ketinggian ini maka secara logika dan nalar sehat, Pemohon harus melakukan tembakan model salvo, sehingga jika benar peluru yang ditembakan Pemohon yang mengenai korban, maka semestinya luka tembakan pada dahi korban tidaklah lurus dari depan ke belakang melainkan dari atas ke bawah.

Kelima, kondisi lapangan antara tempat Pemohon bertugas dengan lokasi tempat korban terkena tembakan bukanlah tanah rata atau lapangan bebas halangan, melainkan terdapat pepohonan dan rumah-rumah.

Keenam, jika termohon benar-benar memaksimalkan pengolahan data lapangan sebagaimana disampaikan Pemohon, maka dua alat bukti yang menunjukkan kebersalahan Pemohon belum ditemukan. Tindakan polisional dari Termohon adalah tidak sah.

Menanggapi Replik Penasihat Hukum VD, Kasat Reskrim Polres Manggarai AKP Wira Yudha Satria kepada wartawan usai sidang mengatakan, yang menyatakan peluru itu sesuai atau tidak bukan kita (Reskrim) melainkan hasil uji Labfor dan berdasarkan keterangan Labfor peluru tersebut identik dengan senjata yang saat malam kejadian dikuasai tersangka.

Begitupun menyangkut jarak dan jangkauan yang menentukan adalah ahli.

“Yang menentukan sampai atau tidaknya dari jarak kurang 1,1 km ahli. Dan ahli juga mengatakan, jangankan 1,1 km jarak 3 km untuk peluru jenis laras panjang sampai cuman dengan perhitungan sudut tertentu,” urai Wira Yudha.

Sementara menyangkut pengakuan tersangka yang mengatakan dia (Tsk) melakukan penembakan pada piket malam berikutnya, menurut Wira Yudha itu adalah pengakuan tersangka. Sedangkan dua orang saksi yang sudah dimintai keterangannya hasilnya sangat sinkron di mana  pada malam kejadian tersangka melakukan penembakan.

Penulis: Adi Nembok

Editor: AN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *