Filsafat dan Teologi sebagai Orientasi Etis

oleh
Dr. Otto Gusti Madung, SVD, Ketua STFK Ledalero 2018-2022. (Foto: Istimewa)

Oleh Dr. Otto Gusti Madung, SVD*

(Pidato Pengukuhan sebagai Ketua STFK Ledalero 2018-2022)

 

Pada tahun 1845, dari tempat pengasingan di Brussel, Karl Marx dan Friedrich Engels merumuskan arti dari komunisme atau masyarakat tanpa kelas.

Menurut keduanya, komunisme adalah sebuah masyarakat yang membuka ruang bagi setiap orang untuk bekerja apa saja sesuai keinginannya seperti berburu binatang liar di pagi hari, menjadi nelayan di siang hari, menjalankan profesi sebagai gembala hewan di sore hari dan kritikus sastra atau filsuf setelah makan malam (Bdk. Richard David Precht, Jäger, Hirten und Kritiker: Eine Utopie für eine digitale Gesellschaft, München: Goldmann Verlag, 2018, hlm. 8).

Itulah gambaran sebuah masyarakat tanpa spesialisasi, tanpa kelas. Orang boleh bekerja apa saja sesuai dengan keinginan dan minatnya.

Belasan tahun silam kondisi yang sama juga masih dialami oleh para tamatan atau alumni STFK Ledalero. Ketika tamat dari sini mereka dengan mudah dapat bekerja apa saja, entah sebagai imam, guru, dosen, jurnalis, penulis buku, sastrawan, peneliti, politisi, penasihat presiden, manager perusahan, diplomat, polisi, tentara, petani, dll.

Bahkan konon pada tahun 1932 ketika proses pendidikan filsafat dimulai di Mataloko yang menjadi cikal bakal STFK sekarang, Pater Mollinar mengajar semua mata kuliah baik filsafat pun teologi dan ilmu-ilmu sosial.

Tantangan: Spesialisasi dan Digitalisasi

Pada masa itu bursa pasar kerja belum menuntut spesialisasi yang ketat. Para filsuf dan teolog yang biasa mendapat julukan “ilmuwan yang tahu banyak tentang sedikit” dengan mudah menembus segala ruang pasar kerja.

Akan tetapi era bagi para generalis, waktu bagi para cendikiawan yang tahu banyak tentang sedikit sudah berlalu. Dunia kerja yang semakin kompetitif menuntut spesialisasi dari calon tenaga kerja. Bahkan, prototipe ideal seorang ilmuwan dewasa ini adalah “Fachidiot” – orang yang ahli sekali di bidangnya namun tidak tahu apa apa tentang ranah kehidupan yang lainnya.

Tantangan spesialisasi ini menjadi lebih rumit lagi ketika dikombinasikan dengan perkembangan dunia ekonomi yang ditandai dengan proses “digitalisasi”. Di kebanyakan negara industri maju, tenaga kerja manusia perlahan-lahan mulai diambil alih oleh apa yang dikenal dengan nama “artificial intelligence” atau kecerdasan buatan seperti robot, computer, dll.

Proses digitalisasi pasar kerja dan dunia ekonomi ini telah memproduksi angka pengangguran yang sangat masif. Angka pengangguran yang tinggi berdampak pada sejumlah persoalan sosio-politik seperti menguatnya gerakan anti orang asing dan populisme kanan di sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat. Di Indonesia gejala ini tampak dalam tendensi kapitalisasi agama dalam kontestasi politik elektoral.

Di Mana Filsafat dan Teologi

Berhadapan dengan tantangan spesialisasi di pasar kerja di satu sisi dan perkembangan digitalisasi ekonomi di sisi lain, pertanyaan muncul: di manakah posisi disiplin ilmu filsafat dan teologi? Apakah masih relevan belajar filsafat dan teologi?

Saya berasumsi bahwa filsafat dan teologi tetap penting dengan  tiga alasan berikut:

Pertama, Filsafat dan teologi perlu sebagai sebuah strategi budaya. Perkembangan teknologi dan ekonomi tanpa strategi budaya akan menciptakan masyarakat yang inhuman, masyarakat barbar yang bekerja berdasarkan logika hukum rimba. Budaya di sini dimengerti sebagai orientasi dan visi dasar yang menata sebuah masyarakat agar menjadi  lebih bermakna bagi hidup para warganya.

Karena itu filsafat dan teologi kontekstual hendaknya terus dikembangkan dalam dialog dengan ilmu-ilmu lain agar lebih peka dalam menjawabi tantangan zaman dan menawarkan makna bagi pertanyaan-pertanyaan dasar manusia dewasa ini.

Hal ini hanya dapat diwujudkan jika para dosen dan mahasiswa siap bekerja keras dan tekun menjalankan riset dan mempublikasikan hasil riset tersebut untuk kepentingan pencerahan masyarakat luas. Dengan demikian ikut mengambil bagian dalam misi perutusan Gereja.

Kedua, dari aspek filosofis, filsafat adalah metode berpikir kritis dan mandiri. Tantangan dan perubahan zaman hanya dapat dihadapi secara kreatif oleh seorang pribadi yang mandiri, kritis dan terbuka terhadap peluang-peluang baru. Di sini filsafat dapat memberikan kontribusi yang berarti.

Seorang filsuf muda asal Jerman yang sedang naik daun sekarang, Richard David Precht menulis: “Die Zukunkft kommt nicht! Die Zukunft wird von uns gemacht! Und die Frage ist nicht: Wie werden wir leben? Sondern: Wie wollen wir leben?”(= “Masa depan itu bukan nasib yang datang dengan sendirinya, kitalah yang merancangnya. Maka pertanyaannya bukan bagaimana kita akan hidup, melainkan bagaimana kita mau merancang kehidupan.”)

Peran filsafat sebagai sebuah metode berpikir mandiri sangat penting agar masa depan hidup manusia dan tatanan sosial tidak diserahkan pada kekuasaan nasib atau takdir minus tanggung jawab manusia.

Ketiga, sebagai perwujudan salah satu poin dari tridarma perguruan tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat, disiplin filsafat dan teologi dapat memberikan kualitas baru dalam berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Lembaga ini hendaknya terus berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa yakni: kekayaan alam tak membawa kemakmuran, kelimpahan penduduk tak memperkuat daya saing, kemajemukan kebangsaan tak memperkuat ketahanan budaya, dan keberagamaan tak mendorong keinsafan berbudi.

Agar peran ini dapat dijalankan dengan baik, maka sejumlah tantangan sekaligus rencana aksi perlu dijalankan:

Pertama, pengembangan program studi baru guna menjawabi sejumlah kebutuhan dan tantangan zaman.

Kedua, peningkatan mutu penelitian dengan cara mendorong dosen dan mahasiswa untuk mengakses dana-dana penelitian kompetitif yang disediakan oleh Kementerian Ristek Dikti serta lembaga-lembaga publik lainnya. Para dosen juga didorong dan diberi insentif untuk mempublikasikan hasil penelitian di jurnal-jurnal nasional dan internasional.

Ketiga, penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris yang baik oleh para mahasiswa/i dan untuk memastikan hal tersebut perlu dibangun sistem dan regulasinya.

Terima Kasih dan Harapan

Terima kasih berlimpah saya haturkan untuk Ketua STFK yang lama bersama staf  yang telah meletakkan sejumlah pilar kokoh dan menginisiasi pembaharuan mendasar untuk perjalanan STFK ke depan seperti di bagian keuangan, administrasi dan managemen STFK.

Terima kasih berlimpah juga untuk Badan Pengurus YASSPA, rekan-rekan dosen, tenaga kependidikan, para pimpinan konvik, adik-adik mahasiswa/i serta segenap civitas academica STFK Ledalero untuk kepercayaan yang diberikan kepada kami untuk mengemban tugas ini 4 tahun ke depan.

Kami tetap mengharapkan dukungan dan kerja sama dari Anda sekalian dalam menjalankan tugas ini. Juga dukungan dari Gereja lokal, pemerintah dan masyarakat sipil Kabupaten Sikka sangat kami harapkan agar STFK Ledalero tetap mengemban misinya memancarkan cahaya penunjuk jalan bagi Gereja dan masyarakat. ***

*) Ketua STFK Ledalero 2018-2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *