Surat Cinta kepada Pak Gub

oleh
Erik Jumpar, Guru SD di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Erik Jumpar*

 

Selamat sore Pak, apa kabar? Baik-baik kan? Semoga saja Bapak dalam keadaan yang baik-baik saja.

Sebelumnya, izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama lengkap saya Aleksius Frederikus Jumpar. Saya seorang pemuda desa dari Timur Manggarai. Sekarang, saya sedang di tanah rantau, tepatnya di Barat Sumatera, nun-jauh dari Nusa Bunga.

Pertama-tama, maafkan kedatangan surat saya, Pak. Saya menduga kedatangan surat saya mengusik gemerlap kemeriahan Bapak bersama tim sukses. Setahu saya Bapak sedang bahagia. Senyum merona hiasi wajah Bapak berdua yang tampaknya sudah mulai keriput.

Sebagai anak yang berbakti kepada kampung halaman, saya turut ucapkan proficiat buat Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bapak Josef Nai Soi yang secara konstitusional pada Rabu, (5/9/2018) dilantik di Istana Negara, Jakarta.

Dalam berbagai foto yang tersebar di lini media sosial, tampak bapak berdua tersenyum bahagia. Saya juga terlibat dalam kebahagiaan yang sama, walaupun saya bukan barisan supporter yang berada di balik kemenangan Bapak, sejujurnya saya mendukung calon yang lain. Maafkan saya, Pak!

Saya bangga kala melihat Bapak dilantik oleh Presiden Joko Widodo. Betapa tidak? Lewat foto yang tersebar luas, Bapak Gubernur yang selanjutnya saya sapa dengan Pak Gub, tampak gagah, kokoh dan kelihatan arif.

Dari tampilan Bapak dengan pakaian kebesaran yang serba putih, saya berasumsi bahwa dalam pikiran Pak Gub terselubung pula niat yang bersih dan suci untuk membangun Bumi Flobamorata. Semoga saja, Pak.

Pak Gub yang saya banggakan, sekali lagi saya ucapkan selamat memimpin NTT. Tidak ada salahnya, jika saya terus-terusan memberikan proficiat. Bukan berarti jika demikian, saya menyindir apalagi menyihir Bapak. Sungguh saya tidak punya niat busuk.

Di persimpangan sana, ada banyak tugas yang menunggu gebrakan dari Pak Gub. Kemiskinan, perdagangan manusia, korupsi, infrastruktur, pendidikan, pengangguran dan kesehatan adalah secuil persoalan yang menanti Pak Gub untuk segera diselesaikan. Sebelum Pak Gub terpilih, fakta tentang kondisi NTT yang memprihatinkan tentu sudah terngiang sampai ke telinga Pak Gub.

Di pundak Pak Gub kami titipkan persoalan NTT yang kian hari kian pelik. Sekitar 4,9 juta jiwa rakyat NTT yang membutuhkan perhatian dari Pak Gub. Dengan jumlah penduduk yang begitu padat kedua di kawasan timur Indonesia, tentu persoalan sosial juga muncul bak jamur di musim hujan. Strategi yang cepat dan tepat dari Pak Gub tentu akan berdampak positif terhadap pembangunan dan perbaikan sumber daya manusia.

Pak Gub yang saya hormati, izinkan saya bercerita sedikit persoalan di NTT. NTT sedang dilanda mafia perdagangan manusia. Hingga kini, berbagai kajian dan analisis hadir setua persoalan perdagangan manusia. Sayangnya, hanya sekedar kajian, implementasi untuk pengentasan sampai ke akar rumput belum jua tuntas dilaksanakan.

Rata-rata setiap tahun kita mendapatkan kado peti mati dari luar negeri. Buruh migran kita banyak yang pergi membawa mimpi, pulang membawa peti.

Pak Gub yang terhormat, sejak 2016 hingga awal tahun ini, sudah 117 orang yang kembali ke kampung halaman dalam kondisi tidak bernyawa. Mimpi mereka lenyap, harapan untuk perbaikan ekonomi pun pupus.

Pada 11 Februari 2018 kali lalu, publik NTT alami duka yang mendalam. Hal ini diakibatkan oleh meninggalnya Adelina, seorang TKI asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timur Tengah Selatan.

Adelina mengalami perlakuan biadab dari majikannya. Hampir sebulan, ia ditempatkan di dalam kandang anjing, sebelum akhirnya ditemukan para tetangga di rumah sang majikan, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bukit Mertajam, Malaysia pada 10 Februari 2018. Sehari setelahnya, Adelina meregang nyawa.

Di masa kepemimpinan Bapak, saya berharap untuk tidak ada lagi cerita-cerita tentang tenaga kerja kita yang meregang nyawa di tanah orang. Intervensi kebijakan yang populis, serta didukung oleh kemampuan aparatur yang mumpuni, hingga bermuara pada perbaikan sistem perekrutan tenaga kerja sangat diperlukan. Karena itu, biarkan sistem yang sesuai prosedur dalam merekrut tenaga kerja yang berjalan secara profesional. Seluruh mafia tenaga kerja perlu untuk dibasmi, termasuk “calo-calo” yang digaji oleh negara.

Pak Gub yang saya hormati, selain saya bangga dengan Pak Gub, saya juga bangga dengan peringkat NTT sebagai salah satu provinsi terkorup ketiga di Indonesia. Saya Bangga. Sungguh teramat bangga.

NTT sudah terlalu banyak label yang disematkan. Kampretnya, tidak ada satu pun yang membuat kita bangga. Sungguh tak ada satu pun. Entahlah, stigma yang lain bercorak apa dan bagaimana, biarkan Pak Gub yang menyimpulkan sendiri.

Jangan heran label untuk negeri tetap tandus ini tetap terberi sampai kapan pun. Selama sistem yang tidak transparan apalagi didukung dengan mental koruptif aparatur yang masih melekat, maka mimpi untuk melawan “stigma” akan sia-sia.

Pak Gub yang saya banggakan, masih terlalu banyak detail persoalan yang perlu dituntaskan. Saya juga tidak menginginkan Pak Gub lelah hanya gara-gara membaca surat saya. Dalam surat ini, baru secuil persoalan yang dijabarkan. Masih banyak yang mengendap dan belum terselesaikan.

Saya percaya di tangan Pak Gub, NTT akan lebih baik. Buktinya, rakyat NTT memberikan kepercayaan kepada Pak Gub untuk menakhodai kapal NTT menuju sejahtera. Mimpi “Kita Bangkit, Kita Sejahtera” sesuai dengan semangat kampanye Pak Gub pun akan terwujudkan, jikalau Pak Gub mengutamakan kepentingan bersama untuk perbaikan NTT yang berintegritas.

Rasa percaya diri saya semakin melambung, ketika spirit yang diemban oleh partai yang membesarkan Pak Gub mengusung restorasi. Restorasi membawa semangat pembaharuan. Spirit baru dalam upaya perbaikan sistem dan mental aparatur sangat urgen untuk perbaikan NTT yang kita cintai. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa pura-pura untuk berjuang dan terlibat dalam upaya perbaikan pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia.

Akhir kata, selama berjuang Pak Gub. Maafkan saya, jika isi surat ini terlalu lancang. Selamat membangun dan selamat memberantas! ***

*) Guru SD di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *