Di Situ Letaknya Beda (Narasi Josef Glinka, SVD)

oleh
P. Josef Glinka, SVD (Foto: Istimewa)

Oleh Gerard N Bibang

 

Orang bisa sakit berkepanjangan tanpa kunjung maut menjemputnya. Orang sehat walafiat bisa mendadak dihadang oleh kematian. Tapi tidak demikian untuk bioantropolog atau ahli antropologi ragawi, P. Josef Glinka SVD (baca: Pater Glinka).

Kepergiannya pada Kamis 30 Agustus lalu tidak mengejutkan siapa-siapa kecuali hanya mengikuti akselerasi logis dari sakit demi sakit yang dideritanya bertahun-tahun: pikiran yang memberat, jantung bekerja terlalu keras karena rokok berbungkus-bungkus, ginjal menanggung akibatnya, kemudian berjalan dengan kursi roda dan penyakit-penyakit lain menelusup ke darahnya dan menganiaya jiwanya.

Maka kematiannya hanya mempraksiskan hakekat setiap organisme biologis seperti yang ditesiskan dalam ilmu yang ia sendiri rintis. Bahwa setiap mahluk hidup di bumi adalah pejalan yang bermula dari tiada lalu melakukan perjalanan demi perjalanan hanya untuk menjadi tua dan redup.

Redupkah ia? Tidak! Kaul-kaul kebiaraannya dalam Serikat Sabda Allah (SVD), di mana ia memusatkan hidup dan karyanya pada Sang Sabda, tua dan redup bukan akhir paripurna. Sujud kepada Sang SABDA sebagai KEHIDUPAN adalah satu-satunya hakekat kemakhlukannya. Benar bahwa raga dan jiwa menyatu dalam setiap makhluk. Benar pula bahwa setiap raga pasti berakhir tapi jiwa selalu abadi, yang oleh ilmu dan peradaban takkan sampai. Bahwa kepada asal mula-lah setiap jiwa kembali. Ialah kepada Alfa dan Omega, kepada Sang ADA yang tidak diadakan, kepada Sang SABDA yang tak di-sabdakan. Berada bersama-NYA adalah rindunya sejak lama. Adalah kebahagiaannya. Maka was ist noch mehr? Ada lagikah yang lebih dari itu? Tentu tidak!

Apakah Pater Glinka pergi selama-lamanya? Tidak! Ia tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya melalui hidup imamat, keilmuan dan kebiaraannya. Mungkin Pater Glinka memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik abadi yang ia sudah lama menikmatinya.

Buktinya? Kepada rekan yunior seserikatnya, Pater Frietz, sebelum berangkat dari rumahnya di Soverdi untuk menghadiri launching buku “Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD- Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia” di Hotel Santika Premiere Gubeng Surabaya pada 26 Agustus 2018, yang ditulis oleh Bernada Rurit itu, dari atas kursi rodanya ia berbisik: “Frietz, rupanya selesai peluncuran buku ini, saya pergi.”

Bagi saya, ini pesan terang benderang sekaligus bukti: Pater Glinka sudah melihat keabadiannya. Karena empat hari kemudian, ia pergi tanpa arah kembali.

Mengikuti kisah ini, amatlah beralasan dikatakan bahwa bioantropologi yang telah lama menjadi passion-nya adalah kehidupannya sendiri. Adalah sebuah pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali. Ke mana kalau bukan ke rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya, yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun kecuali hanya mengalami sendiri sinar wajah keabadian itu yang tak terumuskan oleh ilmu fisika dan biologi moderen sekalipun.

Tepatlah bila ia disanjungkan sebagai bioanthropos sejati. Untuk orang-orang sekualitas ini, hari-hari hidupnya hanyalah sebuah sujud dan mulutnya tiap detik hanya mendaraskan apa yang tertulis di dalam buku brevir (baca: buku Doa Gereja) yang dimiliki oleh setiap calon imam dan imam katolik:/ Wahai Tuhanku / jika nanti aku selesai menjalani tugasku/ kuharap lidahku tidak kelu/ ketika mengucap nama-Mu/. 

“Profesor Memang Lain e“

Syukur kepada Tuhan yang memperkenankan saya berjumpa dengan Pater Glinka awal medio 80-an di bukit terpencil permai Ledalero, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi, Flores. NTT. Di zaman itu ketika orang masih mengerti bagaimana menghormati keindahan. Di kurun waktu tatkala manusia mempelajari ilmu sebagai sistem, bukan sebagai penggalan pengetahuan yang berdiri sendiri-sendiri seperti di zaman milenial ini, yang bila sesuatu itu diketahui, syukur kepada Allah dan bila tidak diketahui, yah, bodoh amat.

Di zaman itu, pencarian ilmu adalah kebajikan seseorang menuju pemanusiaannya dan hanya keberanian serta kuriositas satu-satunya jalan menggapainya. Di atas bukit permai ini, sekecil apa pun kuliahnya, setiap dosen pada saat pertama tatap muka pasti menjelaskan standing position dari mata kuliah yang diampunya itu dalam kerangka seluruh perkuliahan filsafat dan teologi. Dari sana ia akan menarik benang merah seberapa besar dan di mana sumbangsih mata kuliah itu terhadap kehidupan nantinya.

Di sinilah secara teknis saya mengenal Pater Glinka. Ia mengampu Antropologi Ragawi. Kuliah kilat, begitu sebutan untuk kuliahnya. Materi satu semester dipadatkan menjadi dua bulan. Sesudah itu langsung ujian. Kuliahnya pun di aula berisi ratusan mahasiswa karena menggabungkan mahasiswa dari dua tingkat berbeda. Saya di Ledalero dan ia tinggal di Ritapiret, rumah pendidikan calon imam diosesan. Maka, pengenalan saya, yah, sejauh-jauhnya dalam interaksi selama dua bulan itu.

Tapi nama Josef Glinka sendiri diperdengarkan pertama kali ke telinga saya dan teman-teman angkatan saya, waktu awal perkuliahan tahun ajaran baru 1983, di saat tradisi di sekolah ini diadakan yaitu sebuah lectio brevis, yang biasanya disampaikan oleh direktur sekolah, Pater Paul Ngganggung SVD.

Dalam lectio brevis itu, direktur sekolah selalu menginformasikan perencanaan dan informasi relevan tentang sekolah, siapa dosen tamu yang datang dan pergi. Di saat itulah ia menyebut profesor Josef Glinka SVD. Wouww. Kami kagum. Baru dengar istilah profesor.

“Akhirnya baru semester ganjil ini kita beruntung karena mendapat kuliah dari profesor Josef Glinka SVD,” kata Pater Paul.

“Judul kuliahnya rumit, sulit saya hafal, tapi intinya tentang kehidupan di dunia.” Kami tertawa! “ Yah, tentang tubuh manusia dan makhluk hidup. Dan kalau kamu mau tahu tentang tempurung kepala orang Palue sana, silahkan tanya langsung ke Prof Glinka.”

“Boleh tanya apa saja karena dia bergelar profesor habil, di atasnya gelar doktor, di atas itu tidak ada lagi, nah, coba bayangkan, pintar luar biasa orang ini,’ lanjut Pater Paul.

Tibalah hari pertama kuliah. Segera terasa ada yang ‘lain’ yang tidak biasanya. Orangnya tinggi dan bongsor, berpakaian rapih dengan sepatu bata hak keras dengan bunyi hentakan berirama ketika ia sedang berjalan.

Selain itu, untuk pertama kalinya, kami mahasiswa disapa ‘saudara!” Sedikit sedikit, ‘saudara!” Dosen yang lain biasanya memulai doa sebelum kuliah tapi profesor ini, tidak. Doa di akhir kuliah. Dan isi doanya selalu sama: “ Dahuluilah pikiran kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami dapat memulai sesuatu menurut kehendak-Mu.” Nah, di sini letak lain-nya. Apa yang bagi kami disebut ‘akhir’, bagi Pater Glinka justru sebagai awal untuk kegiatan berikutnya.

Ini yang lebih ‘lain’ lagi. Ia tidak menjelaskan posisi ilmunya dalam kerangka studi filsafat dan teologi. Juga tidak menyinggung motivasi kenapa harus belajar barang ini. Celakanya, hingga akhir kuliah, ia tidak pernah menyebut judul kuliahnya. Barulah pada resume hari terakhir kuliah, ia bertanya, ‘kalau begitu, saudara bisa katakan apa tentang materi yang kita pelajari selama dua bulan ini?’

Jawaban mahasiswa yang aneh-aneh, tak pernah sedikit pun ia cela dan bantah, ia tampung di kedalaman hatinya, sampai ia sendiri berkata: ilmu kita ialah tentang kehidupan atau organisme biologis, terserah saudara mau katakan organisme kehidupan atau manusia yang hidup, sama saja.” Pernyataannya ini kami sambut dengan tepuk tangan meriah.

Dan ini satu lagi ‘lain’-nya yang istimewa dan mencengangkan. Ialah bahasa Indonesianya. Luar biasa. Sempurna, sistematis, baik dan benar. Dengan lantunan suara bariton datar pula. Ibarat orkestra, kuliah itu adalah pentas musik komplit berkelas dunia. Ada pun lucu-lucu yang membuat kami tertawa bukan karena bahasa Indonesianya yang ngawur tetapi karena begitu jernih dan indah bahasanya dalam menjelaskan unsur-unsur hidup pada setiap makhluk, yang selalu diakhiri dengan pernyataan: “ iyah, dia juga saudara kita!”

Karena banyak unsur ‘lain’-nya, maka setiap hari selama seminggu itu, di antara kami setiap kali ketemu, selalu sebut sebagai sapaan: ‘‘profesor memang lain e.” Begitu mendengar tuktaktuktak bunyi sepatunya dari jauh, langsung kami bilang: “oeh… profesor memang lain e.” Begitu ia jelaskan jenis ikan tertentu yang pertumbuhannya dimulai dari ujung sayap kiri, langsung kami tertawa dan bilang: “Profesor memang lain e…” Begitu ia bicara sambil mengelus-elus jenggot tebalnya,  kami berbisik: “profesor memang lain e…”

Rupa-rupanya suatu waktu kedengaran juga di telinganya sampai-sampai pada suatu saat ia berhenti: ‘Apa profesor…’ Kami tertawa.

Frater Frietz (dari deretan belakang): “Profesor memang lain, Pater. Penjelasan sangat sistematis dan lengkap!” Kami tertawa.  Karena kami tahu Frietz ini hanya ingin mengangkat-angkat Pater Glinka.

Dengan suara datar, ia jawab: “Ah tidak ada yang lain. Sekarang kita omong tentang kau punya saudara: katak.” Kami tertawa sekencang-kencangnya sementara ia terus menjelaskan materinya tanpa banyak terpengaruh.

Nah, ujian pun tiba. Setelah tiga tahun bersenang-senang dan bereuforia dengan analisa filosofis dan teologis dan berbangga-bangga dengan termonologi berikut segala penjelasan-penjelasan filosofis, tiba-tiba ujian antropologi ragawi datang dengan pilihan ganda. Semua kaget. Ini ujian atau tebak-tebakan? Kalau ini pertanyaan, mengapa tersedia jawabannya. Macam-macam protes sekaligus keluhan kami. Tapi akhirnya bermuara pada gelak tawa: “profesor memang lain e!”

Di Situ Letaknya Beda

Tapi frase ‘profesor memang lain e” ini hanya berumur seminggu. Minggu kedua lain lagi ceritanya. Dalam kuliah seminggu itu, kami dengar satu frase yang ia ucapkan setiap kali selesai menjelaskan awal mula tumbuhnya kehidupan pada satu makhluk. Frase itu berbunyi: ‘di situ letaknya beda!’

Kadang kami cekikikan sendiri jika mengingat ia menyebut binatang-binatang seperti ikan bandeng atau tokek dan bila mengingat setiap kalimat penutup dari penjelasannya, selalu dengan frase, “ Di situ letaknya beda dengan manusia.” Karena begitu banyak makhluk yang dijelaskan, untuk singkatnya ia hanya berkata: “Di situ letaknya beda!”, yang untuk penangkapan kami, yah, beda dengan manusia.

Tanpa terkecuali, entah binatang sekecil apa pun dijelaskan, selalu diakhiri: “di situ letaknya beda.” Yang paling menghibur dan masih saya ingat ialah ketika ia menjelaskan tentang monyet. Seperti biasa, selalu dimulai dengan: “Saudara, mari kita lihat saudara dekatmu, monyet!” Semua kami tertawa…

“Yah, saudara tertawa tapi secara anatomis dan organis, saudara dan monyet tidak ada bedanya,” sambungnya. Tiba-tiba  dari deretan bangku tengah, Frater Pit dari Ritapiret: “ Kalau begitu, kita sama, Pater.” Kami tertawa.

Antara lain dikatakannya, monyet itu bertubuh kecil sedang; dengan panjang kepala dan tubuh 400-470 mm, ekor 500–600 mm, dan kaki belakang (tumit hingga ujung jari) 140 mm. Berat monyet betina 3-4 kg, jantan dewasa mencapai 5–7 kg.

Warna rambut di tubuhnya cokelat abu-abu; sisi bawah selalu lebih pucat. Jambang pipi sering mencolok. Bayi-bayinya berwarna kehitaman. Tapi isi kepalanya? Yah, unsur-unsur otak biasa.

Ia belum selesai, langsung seluruh kelas sebut secara chorus: “Di situ letaknya beda!’ Kali ini baru saya lihat ia sendiri terpingkal-pingkal dengan guncangan hebat perut besarnya.

Boleh dikatakan, topik tentang saudara monyet adalah puncak kuliah itu. Karena ketika ia menjelaskan binatang-binatang lain, perhatian kami sekenanya saja sambil menanti akhir penjelasannya dengan jeda untuk penyebutan frase: “di situ letaknya beda!”

Mencengangkan kami semua, karena tentang manusia koq tidak pernah diulas. Selalu tentang hewan-hewan lain, yang namanya asing dan tak pernah kami tahu tapi selalu diakhiri: “di situ letaknya beda!”

Barulah di hari terakhir kuliah, ia dengan segala otoritasnya berdiri di depan, membuat skema dan menjelaskan tentang organisme biologis manusia berikut segala kekhasannya.

Kami kagum. Diam seribubahasa. Riang gembira dengan frase “di situ letaknya beda’ lenyap entah ke mana. Barulah kami sadar di mana kontribusi kuliah ini bagi pemanusiaan.

Saya masih ingat, ia sebut tiga hal. Pertama, untuk segala organisme biologis, dunia para makhluk hidup, mereka diciptakan dalam hukum keseimbangan. Seekor ikan tuna hanya boleh tumbuh dan besar di suatu kawasan laut tertentu dan jika ia menyeberng ke Lautan Teduh maka ia akan dimakan oleh ikan jenis lain dan jika ikan pemakan tadi menyeberang ke Lautan Hindia, di sana, ia akan disantap habis oleh binatang lain, dan seterusnya. Jadi, santap menyantap di antara makhluk hidup adalah bentuk lain dari keberimbangan.

Kedua, segala yang hidup bertumbuh, berkembang lalu mati. Tetapi hidup mereka sedemikian rupa sehingga keseluruhanya seperti telah diarahkan ke suatu titik. Titik itu, untuk sementara kita sebut kematian.

Suasana kembali geger karena Frater Boni Selu langsung tanya: “Pater, memang ada kematian sementara?”

“Saudara, untuk sementara, kita sebut kematian karena teologi dan filsafat kemudian menemukan bahwa dalam diri makhluk hidup itu ada roh atau jiwa pada manusia, yang dari dirinya sendiri terarah kepada keabadian, yang kita sebut: hidup kekal.”

Ketiga, khusus untuk manusia. Mempelajari yang hidup (bioantropologi), supaya kita menyadari kebinatangan kita, dengan demikian mengagumi ketidak-binatangan kita. Sebab jika binatang saja maka semua yang lebih menonjol pada saudara adalah tanda-tanda kehewanan.

Waktu itu, pernyataan pernyataan ini enak didengar dan mudah dihafal. Tapi kebenarannya diamini setelah 30 tahun kemudian saya meninggalkan Ledalero, tatkala saya terjebak dalam kurungan peradaban di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan kekuasaan dan uang, mempertahankan harta benda, bersimpuh pada kemenangan serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka sebagai keunggulan.

Yah, sebuah peradaban yang menjalankan salah sangka yang luar biasa terhadap keindahan yang adalah puncak kebenaran dan kebaikan. Karena dalam salah sangka luar biasa itu, memang kehewanan-lah yang mengemuka dan jika ia yang mendominan maka yang lebih rajin muncul adalah indikator kebinatangan, politik keserakahan, mobilisasi pelampiasan, ekonomi keborosan, globalisasi pemusnahan kemanusiaan dan peruntuhan nilai-nilai batin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *