Polisi Tangkap 2 Penganiaya Pria Gangguan Kejiwaan di Solor Barat

oleh
Kapolres Flotim AKBP Arri Vaviryanto pada saat melakukan konferensi pers bersama wartawan. (Foto: Stanis/Florespost.co)

FLORESPOST.co, Larantuka Kepolisian Resor Flores Timur berhasil menangkap 3 pelaku penganiayaan terhadap orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) di Dusun Tanahedang, Desa Lamaole,  Kecamatan Solor Barat, pada Rabu (22/8).

Tragisnya korban dianiaya dalam keadaan terpasung. Akibat penganiayaan tersebut korban akhirnya meninggal dunia.

Dalam konferensi pers terkait pengungkapan kasus tindak pidana penganiayaan tersebut, Kapolres Flotim AKBP Arri Vaviriyantho, S.I.K., M.Si., dengan  didampingi Kasat Reskrim AKP Joni F.M Sihombing SE., MM., S.I.K, mengatakan kasus tersebut bermula dari laporan Kapolsubsektor Solor Barat kepada Piket SPKT Polres Flotim tentang terjadinya tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia atau pembunuhan, yang bertempat di depan rumah korban, Rabu (22/8/2018) pukul 11.00 wita.

“Korban Markus Maretok Manuk alias Markus (55), Dusun Tanahedang Desa Lamaole Kecamatan Solor Barat. Sedangkan tersangka berinisial AMK (18) dan FLK (24),” ujar Kapolres di hadapan para wartawan, Rabu (13/9/2018).

Kapolres Arri menjelaskan korban tewas setelah dianiaya oleh para tersangka dengan menggunakan kayu dan batu, yang pada awalnya tersangka AMK terlebih dahulu menganiaya setelah itu tersangka FLK, di mana pada saat itu lanjutnya, kaki korban sedang dalam keadaan terpasung karena korban mengalami gangguan kejiwaan.

“Apa yang sudah dilakukan oleh kedua pelaku ini tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia yang beradab, di mana korban yang sudah dipasung kemudian dianiaya hingga meninggal. Dikarenakan permasalahan kejiwaan korban yang tidak diterima omongannya oleh para pelaku,” kata Arri.

Kapolres Arri sesalkan tindakan para pelaku. Seharusnya kata Arri, para pelaku sadar dan memaklumi keadaan dan kondisi korban. Apa yang dilakukan korban dengan kondisi kejiwaan tersebut Ia (korban-red) pasti tidak akan menyadari dan pasti bertindak di luar nalar.

“Kalau terganggu kejiwaannya sudah dasarnya pasti akan meracau bahkan bertindak di luar nalar, namun bukan berarti mereka pantas untuk dianiaya, apalagi sampai meninggal dunia,” ungkapnya.

Arri mengatakan akan membawa kasus tersebut hingga ke pengadilan dengan berharap agar para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Kepada para pelaku, kata Kapolres Arri, akan dikenakan pasal 340 subsider 338 maksimal hukuman mati atau 20 tahun.

Penulis: Stanis

Editor: STO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *