Ketikaku

oleh
Ilustrasi (Foto: InspiredImages)

Puisi.

Oleh: Martinus Pancarianus Setu*

 

KETIKAKU

Aku membaca lembaran waktuku di bias pertama embun pagi

Memetik sepucuk surat di beranda kenangan kita

Cukup untuk kecupan pagi di dedaunan sunyi

Kukuncup kembali belati di dalam kain putih

Selepas pagi kumemeluk kembali pagi ini

Dan kutinggalkan sepucuk diriku untuk surat terakhirku kepadaNya. *

 

KESAL

Sunyi itu mati

Sebelum kupeluk lelapku. *

 

PUISI

Kataku mati di amukkan masa

Berhamburan di seulas senyum pagi….,

 

Kepada pemujaku

“Terimalah diriku..”

Sebait puisi kutitipkan teruntuk sepenggal kataku

Doa. ***

Martinus Pancarianus Setu. (Foto: Dok. Pribadi)

*) Penulis asal Ende, Sekarang menetap di unit Mikhael Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere, tingkat 1.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *