Serba-Serbi Politik Zaman Now

oleh
Ilustrasi (Sumber foto: Pixabay.com)

Opini.

Oleh: Yono Paing CMF*

 

Ketika berbicara tentang politik, ada dua pendapat yang berlawan. Pertama, politik diartikan sebagai konflik karena ada klaim kepemilikan individu atau sekelompok orang tertentu. Kehadiran mereka mendominasi arena politik sehingga perannya hanya mempertahankan hak-hak istimewa kaum elite. Pandangan ini mendominasi pemikiran modern sehingga politik dilihat hanya sebatas kekuasaan, regulasi dan hukum.

Sedangkan pandangan kedua, politik merupakan upaya menciptakan ketertiban dan kedilan untuk menjamin kedamaian. Politik dilihat sebagai sarana untuk menciptakan bonum commune bagi warga negara. Politik berkaitan erat dengan semua aspek kehidupan manusia di sebuah negara. Cakupan politik tidak hanya aktivitas politis tetapi juga semua area kehidupan sosial lainnya. Dengan demikian pengertian ini mengacu pada arti politik abad Yunani Kuno yang diasosiasikan dengan polis atau negara kota.

Berkaitan dengan pengertian politik zaman klasik, maka partisipasi politik berarti mengambil bagian dalam kehidupan publik atau kehidupan polis secara keseluruhan. Partisipasi politik dimaknai sebagai keikutsertaan masyarakat pada aktivitas politik dengan basis partisipasinya dapat secara individual maupun kolektif. Selain itu, bidang partisipasi (arena kegiatan) bisa politik dan pemerintahan, tetapi juga non-politik dan non-pemerintahan.

Di sini, semua partisipasi politik tidak memedulikan berhasil atau tidaknya tindakan politis, dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung, dan tindakan itu otonom atau dikendalikan. Intinya adalah semua tindakan ini mempengaruhi proses politik. Dengan demikian, segala tindakan yang dilakukan secara personal maupun kolektif, sengaja atau tidak sengaja, otonom atau dimobilisasi, direncanakan atau tidak, semuanya dapat dikategorikan sebagai partisipasi politik sebab mempengaruhi proses politik.

Partisipasi masyarakat dalam aktivitas politik dapat terwujud dalam sikap dan tindakannya sebagai bentuk reaksi terhadap produk-produk politik. Reaksi ini lahir dari keputusan seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), ketika hendak mengambil suatu tindakan politik.

Dengan demikian, keputusan yang diambil, antara lain, pertama, memutuskan untuk bertindak atau tidak; kedua, memutuskan arah tindakan; ketiga, memutuskan mengenai intensitas dan durasi tindakan politis tersebut. Eksekusi keputusan ini berkaitan erat dengan presepsi dan orientasi politik dari individu atau masyarakat yang bersangkutan.

Individu atau masyarakat dari berbagai kategori pada umumnya memiliki presepsi tersendiri terhadap  politik. Begitupun dengan kalangan milenial. Mereka memiliki presepsi yang optimistis terhadap kondisi politik di Indonesia. Data survei dari Kompas Gramedia menunjukkan bahwa 53,5% bersikap optimistis dan hanya sedikit yang pesimistis (26,9%).

Generasi milenial juga bersikap optimistis terhadap supremasi hukum di Indonesia (56,5%). Begitu pun terhadap prospek demokratisasi (64,9%).

Secara umum, generasi milenial yakin akan prospek stabilitas geopolitik Indonesia ke depan. Dengan demikian kondusifnya proses demokratisasi dan kehidupan bernegara setidaknya diukur dari beberapa aspek, antara lain, kondisi politik, supremasi hukum, dan implementasi nilai-nilai demokratisasi.

Orientasi Politik: Pilihan terhadap Partai Politik

Orientasi politik kaum milenial di Indonesia dapat dilihat dari pilihan terhadap partai politik. Ada dua jenis survei yang dipakai untuk melihat dan mengukur bagaimana orientasi politik kaum milenial Indonesia berdasarkan pilihan terhadap partai politik ini. Pertama berdasarkan survei Alvara Reserch Center dan survei Nasional CSIS (Centre for Strategic and International Studies).

Berdasarkan survei Alvara Researh Center, pada tahun 2017 terdapat 13 partai yang berpotensi untuk tampil dalam konser politik 2019. Ada empat tingkatan untuk mengukur tingkat popularitas suatu partai politik pada pandangan pemilihnya. Pertama adalah TOM (top of mind), yaitu ingatan yang paling melekat di kepala pemilih, dalam hal ini adalah partai politik yang paling diingat oleh pemilih. Makin tinggi nilai TOM, partai politik tersebut makin berpotensi untuk dipilih saat pemilu.

Kedua adalah spontaneous, yakni partai politik yang disebut kedua hingga tidak mampu menyebut lagi. Tingkatan ketiga adalah prompted, yakni partai politik yang diingat dengan cara perlu diingatkan terlebih dahulu dengan bantuan. Yang ke empat adalah un-ware, yakni partai politik yang sama sekali tidak diingat oleh konstituen meskipun dengan bantuan.

Awareness generasi milenial terhadap terhadap partai politik hanya dilihat melalui dua kategori, yaitu TOM dan other awareness. Dari sudut pandang TOM, PDIP merupakan partai yang paling diingat (26,9 %), diikuti dengan partai Demokrat (21,6%), tetapi jika dilihat dari total awareness, partai yang paling diingat adalah Partai Demokrat (81,5%), lalu partai Golkar (80,8%), PDIP (77,2%) dan partai GERINDRA (65,6%). Sedangkan, partai-partai lain tidak banyak diketahui.

Berdasarkan survei nasional CSIS (Centre for Strategic and International Studies)  tentang orientasi sosial, ekonomi dan politik generasi milenial periode 23-30 Agustus 2017, terlebih khusus tentang perbandingan tingkat popularitas partai politk kaum milenial (17-29 tahun) dengan non-milenial (di atas 30 tahun). Dalam survey ini, partai politik PDIP (94,2%), Demokrat (91,8%), Golkar (92,7%) dan GERINDRA (90,2). Dalam survei CSIS, empat partai politik akbar ini berhasil merebut perhatian kaum milenial dibandingkan partai-partai lainnya.

Partisipasi Digital: Media Sosial sebagai Ruang Publik

Dalam setiap negara yang mengacu pada demokrasi deliberatif, media sosial berperan sebagai pendorong partisipasi masyarakat sipil dalam gerakan sosial. Persoalannya adalah munculnya berbagai anggapan pesimis, “dapatkah suatu partisipasi masyarakat sipil lewat media sosial berujung pada gerakan nyata?”

Menurut Lim ada tiga faktor yang menyebabkan aktivitas media sosial kurang berpengaruh dalam dunia sekarang ini. Pertama, informasi yang beredar dengan cepat memiliki kecendrungan untuk menyederhanakan isu.

Kedua, isu yang beredar masih sangat bergantung pada produksi informasi dari media massa konvensional.

Ketiga, keterbatasan akses-akses teknologi. Kendati tidak dapat dibenarkan seluruhnya, namun paling tidak hambatan tersebut dapat dijadikan sebagai pertimbangan. ***

Yono Paing, CMF (Foto: Dok. Pribadi)

*)Penulis adalah Penghuni Wisma Skolastikat/Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *