Helena

oleh
Ilustrasi (Foto: MariaPavlou)

Puisi Bataona Noce*

 

Helena

Mengenang puan itu tak seperti mengenang

siapapun dalam hidupku. Mengenang tatap

mata tajamnya, mengenang senyum

manisnya, dan bahkan bibir lembutnya.

 

Hingga tiba hari ini… dalam suatu

perjalanan panjangku. Seorang sepi duduk

di sisi. Tanpa mata yang indah, tanpa

senyum yang memadu, dan bahkan tanpa

lipstik pada bibirnya yang kering kusam.

 

Namanya Helena. Dia hanya berbekal ‘hati’

yang hanya duduk sebentar di sisiku. Bukan

menitipkan hatinya, bukan

juga memberikan separuh hatinya.

 

Aku melihat hatinya… dia biasa saja. Dan

aku kewalahan membagi tidur malamku.

Sebagian untuk Puan dan (jujur) sebagian

untuk Helena.

 

Hingga pagi hampir tiba di perjalanan itu,

aku berkisah hanya pada Helena… “ini

bukan soal hati yang selingkuh, tapi soal hati

yang tak pernah menipu….

(Banyumas, Juli 2018). *

 

Puan

Singkat cerita, aku menghilang dari Helena.

Aku menunggu undanganmu…” katanya

setelah itu. Aku tak peduli. Toh Puan tetap

punya Tuan.

 

Dan kepada kalian aku ingin berkisah

singkat. Kamis awal bulan ini aku menerima

pesan singkat dari Puan, “Senin nanti aku

akan menikah….

 

Dan kepada kalian aku ingin berkisah

singkat. Bertahun sudah aku tak bertemu

Puan. Aku seolah merelakan, meski yakin,

toh Puan tetap punya Tuan.

 

Di sebuah negara yang jauh (negara apa?

Rahasia), aku hanya menatap langit gelap

dan mendung senada menggenggam

‘gelang kea’* pemberian Puan banyak tahun

yang lalu.

 

Dan kepada kalian aku ingin berkisah

singkat. Kuremukkan gelang itu dengan

sebelah tanganku sambil tersenyum puas.

Menelannya, dan entahlah… mungkin dia

tinggal di hati. Mungkin dia tinggal di

Uzbekistan. Mungkin dia tinggal di Sumba.

 

Mengubah ‘Rinduku Pada Sumba’

menjadi ‘Rinduku Pada Puan’.

Jakarta, September 2018

(*gelang kea = gelang yang terbuat dari kulit penyu.)

*)Bataona Noce, merupakan seorang penikmat sastra yang sering menulis artikel, cerpen dan puisi. Setelah bertapa, jauh dari keramaian, Helena dan Puan adalah dua puisi pertamanya di tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *