Jalur Hukum Pilihan Terakhir, Rensi Ambang Tetap Berupaya Diselesaikan Secara Kekeluargaan

oleh
Kuasa Hukum Rensi Ambang Plasidus Asis de Ornay (Tengah) didampingi isteri Rensi Ambang (kiri berkaca mata) dan saudari kandung Rensi Ambang, Ani Ambang (kanan), saat menggelar konfrensi pers, Selasa (25/9/2018) di Ruteng. (Foto: Adi Nembok/Flores Post)

FLORESPOST.co, Ruteng Kasus penganiayaan terhadap Melkior Marseden atau Eki yang disiarkan secara langsung melalui jejaring sosial Facebook dan WhatsApp milik Rensi Ambang berbuntut panjang.

Eki melalui kuasa hukumnya telah mempolisikan Rensi karena merasa video tersebut merugikannya. Polisi kini memproses lebih lanjut laporan Eki tersebut

Rensi menyadari video yang diunggahnya itu adalah sebuah kekeliruan dan sangat disesalinya.

“Sebetulnya video call untuk memberitahukan kepada teman-teman yang telah membantu guna menginformasikan bahwa orang yang dicari sudah ditemukan. Ternyata itu bukan video call tapi langsung publik,” kata Rensi Ambang melalui Kuasa Hukumnya Plasius Asis de Ornay saat menggelar jumpa pers di Ruteng, Selasa (25/9/2018) sore.

Terkait video kekerasan itu, Asis mengakui kebenarannya

“Video itu memang benar adanya. Tapi sesungguhnya kekerasan (pemukulan) sebagaimana dalam video itu bukan spontan dilakukan Rensi melainkan atas permintaan Eki. Sebab, saat Eki mendatangi rumah kliennya (Rensi) di Waso untuk mengakui kesalahannya terkait statusnya di FB, ada dua opsi yang ditawarkan kepada Eki yakni diproses secara hukum atau didenda secara adat. Dua opsi itu tidak disanggupi Eki. Eki memilih untuk dipukul dan terjadilah peristiwa sebagai dalam video itu,” jelas Asis.

Upaya penyelesaian di luar hukum atau secara adat Manggarai telah ditempuh Rensi dan keluarganya dengan cara mendatangi keluarga Eki di Kempo Kabupaten Manggarai Barat. Dalam penyelesaian secara adat ini, keluarga Rensi juga membawa 1 botol bir, 1 bungkus rokok dan uang sebagaimana lasimnya adat Manggarai.

“Apa yang dibawa keluarga Rensi juga sudah sudah diterima keluarga Eki. Proses penyelesaian secara adat ini tulus dari hati Rensi dan keluarganya. Bahkan Eki sendiri juga mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan,” urai Asis.

Karena penyelesaian di luar hukum  tidak ada  titik terang, lanjut Asis, maka penyelesaian melalui jalur hukum menjadi pilihan terakhir.

“Kami tetap berupaya untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan,” harap Asis.

Penulis: Adi Nembok

Editor: AN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *