Keheningan yang Kudus

oleh
Geraldo Ximenes Leite, Mahasiswa STFK Ledalero (Foto: Dok. Pribadi)

Puisi Geraldo Ximenes Leite*

 

Dalam kebisuan malam,

Aku duduk di atas krikil tajam,

Sambil menatap ke arah bulan tua,

lalu bertanya dalam hati,

Adakah yang lebih indah selain keheningan?

Adakah yang lebih agung dari keheningan?

Tidak ada yang lebih indah dari keheningan,

sebab keheningan memampukan diriku untuk mengenal diri,

Diriku yang  susah untuk dikenal,

Diriku yang merupakan sebuah misteri kehidupan.

Melalui keheningan yang kudus,

Aku dapat masuk ke- kedalaman diriku,

ke ruang absolut yang tak pernah disentuh,

dan melalui keheningan aku sedikit menyentuh

Yang walaupun sulit dikendalikan oleh kekang,

Keliarannya sungguh mengerikan,,

Bahkan tiada makhluk yang menandingi keliarannya.

Dalam keheningan, diriku mendapat kedamaian,

kedamaian yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.

Dalam keheningan yang paling dalam,

telah  mempertemukan diriku dengan Pemilik keheningan.

Namun pertemuan itu bagaikan satu tarikan nafas.

 

Ahh..betapa indahnya hidup,

Jika diriku tinggal lama dalam keheningan itu,

Betapa bahagianya aku,

Jika keheningan itu menjadi milikku.

 

Tetapi betapa malangnya diriku,

jika semasa hidupku tidak merasakan keheningan.

Betapa bodohnya diriku,

jika aku tidak mengunci kecerewetan bibirku.

Betapa rapuhnya kerapuhanku,

jika aku hanya mementingkan keramaian.

Betapa tak bergunanya aku,

jika hidupku hanya mengikuti arus,

Betapa berbahayanya diriku,

jika hidupku bagaikan perahu tanpa kemudi,

 

Ah Adinda,.

marilah kita bertolak ke tempat yang dalam,

dan sejenak mengheningkan diri,

yang walaupun, ada kegelisahan, dan ketakutan,

tapi percayalah,..

bahwa sang pemilik keheningan

selalu ada bersamamu.

(Wairpelit, 28/09/2018)

*)Mahasiswa STFK Ledalero. Sekarang tinggal di Augustinian-wairpelit Maumere.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *