Beranda Headline Nadia Murad dan Keberanian Melawan Arus

Nadia Murad dan Keberanian Melawan Arus

577 views
0
Erick Ebot, Mahasiswa STFK Ledalero. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini.

Oleh: Erick Ebot*

 

I was an ISIS slave. I tell my story because it is the best weapon I have

Nadia Murad

Pasar untuk para budak dibuka pada malam hari. Kami mendengar di lantai bawah kegaduhan para gerilyawan yang sedang mendaftar untuk “memakai” kami. Dan ketika seorang gerilyawan masuk ke dalam ruangan, semua perempuan berteriak ketakutan. Pengalaman itu seperti sebuah ledakan besar buat kami. Kami merintih kesakitan dan muntah karena tidak tahan menahan aroma tubuh  gerilyawan yang sangat bau. Tetapi tidak ada yang bisa menghentikan dia. Dia berjalan sekitar ruangan, sementara kami terus berteriak ketakutan dan memohon untuk tidak disakiti. Dia melangkah kepada seorang perempuan yang paling cantik di ruangan itu dan bertanya “Umur berapa dirimu?”sambil menggerakan tangannya memegang rambut dan mulut perempuan. “Mereka perawan?” begitu dia bertanya kembali. Tentu saja! Kata germo bak penjual barang di supermarket yang dengan bangga meyakini sang gerilyawan. Setelahnya sang gerilyawan menyentuh setiap bagian tubuh perempuan itu, meremas payudara dan kakinya, memperlakukan perempuan itu seperti binatang.” (Kesaksian tentang pengalaman Nadia Murad jadi budak seks ISIS diungkapkan dalam Gurdian, Sabtu 6/10/2018)

Inilah narasi pengalaman Nadia Murad, tentang kisahnya menjadi “budak seks” di kamp perang ISIS. Perempuan muda ini meraih Nobel Perdamaian, karena perjuangannya untuk memerangi perempuan korban kekerasan akibat perang. Nadia, aktivis perempuan Yazidi berusia 25 tahun bersama Denis Mukwege, berasal dari Republik Demokrat Kongo sekaligus juga merupakan doktor dalam bidang ginekologis sebuah ilmu yang mempelajari secara khusus penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita (rahim, vagina dan ovarium) menerima Nobel Perdamaian dari komite Nobel Internasional yang berpusat di Swedia ini.

Membaca pengalaman Nadia Murad, penulis menyadari ada banyak kisah yang sama terjadi pada Nadia terjadi pula pada para perempuan hingga saat ini, di negara ini bahkan di lingkungan kita hidup. Ada banyak ekstrimis ISIS dalam bentuk dan cara lain melakukan “kekerasan” terhadap perempuan, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan oleh orang tua terhadap anak, perselingkuhan yang sering kali hanya menyalahkan perempuan, serta Kekerasam Dalam Rumah Tangga.

Di hadapan banyak jenisnya kekerasan ini, para perempuan sering kali diam seribu kata. Mereka takut ditekan, diancam bahkan dibunuh ketika hendak ingin jujur terhadap pengalaman negatif yang mereka alami. Selain itu, masyarakat masih belum peduli dengan isu-isu perempuan seperti ini. Karena itu sadar dengan kenyataan ini dan juga demi mendorong keberanian para perempuan korban kekerasan, penulis ingin mengangkat kisah Nadia Murad sebagai inspirasi bagi kaum perempuan juga untuk kita semua agar lebih peduli terhadap isu-isu yang rentan terjadi dalam masyarakat kita ini, serentak mendesak kita untuk menyuarakannya ke publik.

Sekelumit Kisah tentang Nadia Murad

Nadia Murad Basee Taha, gadis Yazidi asal Sinjar, Irak, harus menelan pil  pahit dalam proses kehidupannya sebagai manusia. Di usianya yang baru beranjak dua puluh tahun ia dijadikan sebagai sabaya atau budak seks oleh kelompok ekstrimis bersenjata ISIS. Ini merupakan pengalaman paling mengerikan dialami seorang perempuan muda yang sedang merajut mimpi masa depan.

Kisah kelam Nadia dimulai medio Agustus 2014 ketika dia diculik  bersama perempuan Yazidi lainnya. Waktu itu kampung halaman Nadia di Sinjair, bagian utara Iraq diserang secara membabi buta oleh tentara ektrismis ISIS. Nadia ditangkap bersama saudari-saudarinya. Dia juga kehilangan 6 saudaranya dalam penyerangan itu, sedangkan ibunya yang dianggap terlalu tua untuk dijadikan budak seks juga dibunuh secara kejam oleh para tentara ISIS.

Di tempat penyekapan, di Mosul, kota disebelah utara Irak, Nadia tidak sendiri. Banyak perempuan hasil “jarahan” tentara ISIS yang ditempatkan di sana dan dijajah untuk menjadi pelacur dan budak seks para gerilyawan ISIS. Para perempuan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi, kekerasan, pelecehan seksual menjadi biasa di tempat itu. Bahkan tidak sedikit perempuan yang harus merenggang nyawa karena nekad kabur dari tempat penyekapan yang sadis itu.

Nadia pada akhirnya menjadi satu dari sekian banyak perempuan yang gagal, berhasil kabur dengan selamat dari Mosul. Dia menyusup lewat Iraq dan di tahun 2015 menuju Jerman sebagai pengungsi.Di tahun yang sama, Dia mulai mengkampanyekan tentang pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap fenomena perdagangan perempuan yang saat itu bahkan hingga kini masih belum menjadi isu bersama di level internasional.

Pada November 2015, satu tahun dan tiga bulan setelah ISIS datang ke Kocho, kota kelahirannya, dia meninggalkan Jerman menuju Swiss untuk berbicara di hadapan forum yang menangani persoalan kaum minoritas di PBB. Dalam kesempatan itu, Nadia menarasikan banyak hal tentang pengalamannya selama menjadi tawanan ISIS. Dimulai dari anak-anak yang dibiarkan meninggal karena dehidrasi, para keluarga yang terjebak di pegunungan yang ketakutan dan lari dari kejaran ISIS,  ribuan perempuan dan anak-anak yang masih menjadi tawanan ISIS, serta tindakan brutal para ekstrimis yang membunuh para lelaki yang melawan mereka. Dari sekian banyak tawanan ISIS lainnya, Nadia merupakan satu-satunya orang yang selamat kemudian dengan keberanian serta kekuatan jiwanya berbicara di hadapan publik fakta kelam yang dialami para tawanan, khususnya perempuan di kamp ISIS.

Kisah pengalaman Nadia mengingatkan kita akan kerasnya dunia tanpa damai. Dunia yang hari-harinya hanya perang. Dunia yang hari-harinya memamerkan kekuasaan dengan cara paling kejam sekalipun dari melukai bahkan  sampai membunuh yang lain. ISIS menjadi simbolisasi bahwa kekerasan dan perang tidak pernah akan menciptakan damai, selain kehancuran material hingga kemanusiaan.

Nadia Mirad dan Keberanian Lawan Arus

Kekerasan terhadap peempuan banal terjadi dikarenakan adanya ketidakadilan gender. Konstruksi sosial-kultural yang dibentuk dan didominasi lelaki menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Karena makna keberadaan perempuan ditentukan oleh nilai, cita-cita dan harapan kaum lelaki, maka kaum perempuan dipandang tidak lebih dari sekadar objek yang dapat diperalat demi kepentingan kaum lelaki. Pola relasi relasi yang tidak sederajat seperti ini memosisikan bahkan menjebak perempuan dalam suatu keadaan rentan mengalami ketidakadilan gender yang ekstrim konkritnya adalah kekerasan dalam segala bentuknya.

Harus diakui memang bahwa Nadia Mirad adalah satu dari sedikit perempuan yang mau bangkit dan  bersuara terhadap pengalaman kekerasan seksual yang pernah dialaminya. Di tengah kuatnya dominasi kaum lelaki serta minimnya akses kekuasaan bagi perempuan untuk menentukan nasibnya, Nadia berani “melanggar batas dan aturan kaum lelaki yang represif dan berbicara mengungkapkan pengalaman kekerasan yang dialami. Dia sadar  dengan buka suara, pengalaman negatif kaum perempuan bisa didengarkan dan diperjuangkan secara bersama-sama. Seorang filosof eksistensialis Prancis Simone Beauvoir menegaskan bahwa upaya memperjuangkan keadilan gender dan menentang kekerasan terhadap perempuan akan berjalan dengan baik jika ada dukungan  masif dari masyarakat sekitar.

Membaca pengalaman Nadia Mirad sebagai budak ISIS dan merenungkan kisahnya yang begitu mencekam. Penulis menyadari betapa kuat dan besarnya jiwa seorang Nadia berhadapan dengan pengalaman traumatis yang kelam dan kejam dialaminya di kamp perang ISIS. Rasa-rasanya sangat sulit untuk pulih dan sembuh dari rasa sakit dan kemarahan, ketika membaca kembali kisah pilu nan menyedihkan diperlakukan sewenang-wenang oleh para gerilyawan ISIS. Apalagi berhadapan dengan stigma dan diskriminasi masyarakat yang masih kuat terhadap perempuan mantan budak seks.

Akan tetapi Nadia buka suara. Dia berani melawan arus pemikiran umum yang melemahkan perjuangan kaum perempuan. Dia sadar betul, sebuah pengalaman negatif yang tidak diungkapkan hanya akan menghantar seorang pada kehancuran dirinya secara perlahan. Depresi dan bunuh diri akibat bungkam terhadap kekerasan yang dialami seseorang tidak akan membawa solusi. Dia yakin untuk keluar dari penderitan dan pengalaman traumatis, seorang harus kembali mengisahkan dan membongkar  semua  pengalaman keji dan kelam itu.

Nadia berujar “saya adalah mantan budak seks ISIS, saya menceritakan semua pengalaman dan kepedihan saya karena hanya itu saja senjata terbaik  untuk memulihkan trauma dan penderitaan saya. Ada banyak perempuan di luar sana yang takut, tertekan dan bungkam dengan pengalaman traumatis akibat kekerasan yang dialaminya, karena itu saya bersuara untuk membantu dan kalau mungkin menginspirasi mereka juga masyarakat  untuk bersama-sama membebaskan diri dan berani untuk buka suara terhadap kekerasan yang dialami perempuan baik dalam ruang privat ataupun publik. Kekuatan, keberanian dan martabat itu ada dalam diri semua manusia, tak terkecuali perempuan.

Tidak ada alasan bagi perempuan dan juga masyarakat untuk diam berhadapan dengan ketidakadilan. Orang tidak boleh diam, karena diam adalah tanda kekalahan, diam adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan kita. Maka untuk para perempuan jangan mau kalah dengan pengalaman negatif yang tak pernah selesai menimpamu, beranilah. Ingat jangan mencari keberanian di luar dirimu, karena itu bisa melemahkanmu, carilah keberanian dalam dirimu, karena keberanian yang paling berani ada dalam dirimu yang paling dalam. ***

*)Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here