Beranda Headline Jokowi Dua Periode?

Jokowi Dua Periode?

755 views
0
Dionisius Ngeta, S.Fil., Asal Nangaroro-Nagekeo, Tinggal di Maumere. (Foto: DOK.Pribadi)

Opini: Dionisius Ngeta*

 

Genderang tanda dimulainya secara resmi kampanye politik Pilpres 2019 yang dihelat bersamaan dengan Pileg sudah ditabuhkan. Jauh sebelum konstelasi itu dimulai, publik Indonesia sudah diperhadapkan dengan pilihan politik. Perang tagar: #2019Jokowi2Periode dan #2019GantiPresiden sudah ramai dan makin kencang diperbincangkan.

Kelompok oposisi terus menggalang dukungan dengan berbagai cara bahkan hoax laris dijual untuk menyudutkan pemerintah. Dalam konteks politik dan demokrasi, kondisi dan situasi tersebut adalah wajar dan pilihan-pilihan itu adalah konstitusional dan perlu dihormati. Semua kita tentu menghargai pilihan, hak politik dan kebebasan  setiap orang dalam berekspresi.

Pilihan politik dan ekspresi kebebasan masing-masing kubu yang berlandaskan pada hak dan kebebasan diharapkan memiliki alasan rasional, faktual, obyektif dan konstitusional. Ketika diperhadapkan pada pilihan-pilihan tersebut di atas, sebagai pemilih yang memiliki hak politik, tentu sudah mengancang-ancang bahkan telah memastikan pilihan: Apakah 2019 Jokowi 2 Periode atau 2019 Ganti Presiden? Siapapun tentu perlu menghargai pilihan orang lain, ketika mempercayai bahwa demokrasi adalah yang terbaik sebagai  pilihan sistim pemerintahan dan negara kita.

Ketika diperhadapkan dengan pilihan itu, terutama setelah calon presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 disahkan oleh KPU, sebagai pribadi yang memiliki hak politik, saya lebih memandatkan suara dan kedaulatan dan memastikan Jokowi dua (2) Periode. Kendatipun ia bukan superman dan jagoan Rambo, paling kurang ada beberapa pertimbangan rasional dan obyektif berdasarkan pengalaman dan kenyataan yang dialami rakyat Indoensia terutama masyarakat yang berada di wilayah-wilayah terluar, terdepan dan di desa-desa sebagai efek dari filosofi pembangunan mulai dari desa, daerah terdepan dan terluar.

Jokowi sungguh merasakan ketertinggalan dan ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di daerah-daerah tersebut sebagai akibat dari pembangunan dan perhatian pemerintah pusat yang sangat sentralistrik selama ini. Jokowi mampu membuka konektivitas antara daerah seperti pembangunan jalan Trans Papua, Trans Kalimantan, Trans Sumatra dan Trans Jawa. Pembangunan itu dikerjakan hanya dalam waktu kurang lebih 4 tahun.

Jokowi membuktikan diri sebagai presiden yang sungguh-sungguh pro-rakyat. Hal ini bisa terjadi bila seorang pemimpin memiliki hati, kemauan politik dan ketegasan sikap yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Dalam jangka waktu  4 tahun tersebut Jokowi juga mampu membangun 300 bendungan baru, 180 Bandara baru, 897 tol baru, 363 kapal pencuri ikan dan hasil laut lainnya dibom dan masih banyak hasil spektakuler lainnya.

Pertanyaan: Bagaimana jika 10 tahun Jokowi memimpin negeri ini! Tentu ada banyak perubahan yang akan terjadi. Jokowi bukan hanya memiliki filosofi kerja, kerja dan kerja tetapi juga kemampuan-kemampuan ini:

Pertama,  Always listening, always understanding. Beliau tidak sok tau dalam menyusun program. Tapi disesuaikan dengan kebutuhan riil dan mendengarkan masyarakat. Untuk itu blusukan  menjadi strategi dan popular di tangannya. Dilansir dari Tempo, Jokowi masuk kategori tokoh Challenger (tokoh dengan gebrakan baru) dalam daftar “The Leading Global Thinkers of 2013”, versi Washington Post berkat aksi blusukan-nya.

Jokowi adalah Presiden yang paling sering dan selalu merasa senang turun ke daerah, bertemu dan berdialog dengan masyarakat. Jokowi hadir, ada dan duduk bersama rakyat di tenda-tenda pengungsian dan di sawah, bermain bersama anak-anak di istana adalah symbol kedekatannya dengan rakyat. Bahkan istana yang selama ini menakutkan ditransformasikan menjadi rumah rakyat . Banyak masyarakat, kelompok masyarakat dari berbagai kalangan dan tingkatan usia datang bertemu dengannya dan melakukan kegiatan di Istana.

Kedua, karakteristik kepemimpinan yang santun dengan integritas moral yang mumpun, bebas korupsi dan kolusi menjadikan Presiden Jokowi sebagai  salah satu tokoh hebat dunia mengalahkan Obama. Bangsa ini  butuh pemimpin yang berkarakter, bukan yang banyak duit dan merasa punya “pengalaman”/pencitraan.

Jokowi bukan saja politisi tetapi juga negarawan sejati, memiliki segudang pengalaman dan sederetan rekam jejak dengan kesuksesan di bidang kepemerintahan.  Ia bukan politisi dan pemimpin instan yang terkenal karena uang dan berkuasa karena pemilik dan pimpinan oraganisasi politik. Ia hanya petugas/pelayan parpol dan masyarakat yang terkenal dan dikenang warga masyarakat Indonesia kerena alam menyaksikan dan bumi mewartakan kerja keras dan kerja cerdasnya dengan spiritualitas melayani rakyat dan membangun negara mulai dari sebagai wali kota Solo, Gubernur DKI dan kemudian Presiden RI.

Jokowi adalah politisi dan negarawan sejati yang lahir secara  alami. Kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual menjadikannya sadar bahwa negara ini tidak saja dibangun dengan kekuatan otot dan otak tetapi dengan kerendahan hati tanpa pamrih dan kesederhanaan jiwa tanpa pencitraan agar bisa dekat dan melayani rakyat.

Ketiga, kepemimpinan yang melayani. Kepemimpinan Jokowi cenderung mengarah ke Servant Leadership. Servant Leadership merupakan kerangka kerja teoritis yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat sebagai motivasi kunci (Robert Kiefner Greenleaf, 1904-1990). Servant Leadership menekankan pendekatan holistik kepada pekerjaan, kepekaan terhadap kepentingan masyarakat, dan pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan (Larry Spears, 1966).

Karena itu lagi-lagi blusukan menjadi strategi. Dengan berpakaian dan bersepatu seadanya, Jokowi bisa membaur dan tidak ada jarak antara dirinya dan masyarakat. Penampilan sederhana juga representasi adanya sifat rendah hati dan melayani. Ketika terus diserang, dituduh dan dihina, Jokowi tidak marah. Ia menghadapi semuanya dengan tenang. Ia tidak ingin membalas pembunuhan karakter terhadap dirinya dengan melakukan pembunuhan karakter pada orang lain. Malah yang membelanya adalah para netizen. Ini luar biasa, ‘kan!.

Kehebatan dan popularitasnya itu, akhirnya Jokowi dibuatkan patung lilin di Museum Madame Tussauds di Hong Kong. Nama Jokowi mendunia. Bahkan dalam sebuah survei yang digelar oleh pengelola Madame Tussauds di Hong Kong, popularitas Pak Jokowi mengalahkan calon Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton, dan Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump. Survei dilakukan kepada seluruh pengunjung museum lilin selama setahun. Di dalam lembar surveinya, terdapat sebuah pertanyaan tentang siapa yang ingin mereka lihat di museum tersebut. Para pengunjung tidak diberikan pilihan nama, namun mereka diharuskan menulis sendiri tokoh yang diharapkan ada untuk melengkapi koleksi patung lilin di sana.

Tidak hanya Clinton dan Trump, Pak Jokowi juga mengalahkan popularitas pesepak Lionel Messi dalam survei itu. Messi berada tepat satu peringkat di bawah Pak Jokowi. Dilansir dari Jakarta Post, General Manager Madame Tussauds Hong Kong, Jenny You, mengatakan Pak Jokowi terpilih berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Madame Tussauds.

Hasil survei itu menunjukkan Pak Jokowi adalah salah satu pemimpin dunia yang populer dan ingin disaksikan pengunjung museum. Patung lilin Pak Jokowi menjadi tokoh Indonesia kedua setelah presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno yang mengisi koleksi di Madame Tussauds. Makin bangga, ‘kan dan makin yakin ‘kan 2019 Jokowi 2 periode!!

*) Putra Nangaroro-Nagekeo,Tinggal Di Maumere

 Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here