Beranda Headline Era Baru Data Pangan

Era Baru Data Pangan

63
0
Muhammad Amir Ma'ruf, Staf Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Alor. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: Muhammad Amir Ma’ruf*

 Pemerintah melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla baru-baru ini merilis data pangan setelah beberapa waktu terkesan “hati-hati”. Maklum saja, data produksi memang menjadi hal yang sensitif karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat. Selama ini, data pangan dianggap tidak mencerminkan keadaan aktual. Bahkan seringkali dijadikan bola panas di kalangan politisi, khususnya data beras.

Dalam rilis tersebut, luas panen padi tahun 2018 diperkirakan 10,9 juta hektar. Dari hasil luas panen padi tersebut diperoleh produksi padi di Indonesia dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) 56,54 juta ton atau jika dikonversi dalam beras sekitar 32,42 juta ton. Proyeksi ini berbeda dengan angka yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Bahkan selisih data produksi padi mencapai 30 juta ton.

 Metode Baru

Selisih yang cukup besar tersebut dikarenakan adanya perbedaan metode dalam perhitungan data pangan, terutama yang mencakup data luas panen padi dan palawija. Selama ini, perhitungan masih dilakukan dengan metode konvensional melalui daftar isian Statistik Pertanian (SP). Berdasarkan metode tersebut, pengumpulan data luas panen masih didasarkan pada hasil pandangan mata (eye estimate) dari petugas pengumpul data. Meskipun dalam praktiknya penggunaan metode tersebut mudah, namun tingkat akurasi yang rendah dan waktu pengumpulan yang relatif lama menjadi kekurangan metode tersebut. Apalagi, pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya menstimulus ekonomi agar mencapai swasembada pangan melalui program-program yang berhubungan dengan peningkatan kapasitas produksi komoditas pertanian.

Menjadi penting bahwa data pangan yang aktual dan akurat mutlak dibutuhkan. Agar kebijakan-kebijakan yang diambil merupakan kebijakan yang efektif dan efisien untuk menanggulangi masalah pangan. Namun yang terjadi, data pangan yang dihasilkan selama ini dirasa tidak mewakili kondisi lapangan.

“Sejak tahun 1997, telah terjadi angka produksi beras  yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Selama ini, angka produksi beras bertambah terus, padahal sawah berkurang, sedangkan penduduk bertambah. Setelah dievaluasi, BPS butuh waktu tiga tahun untuk memperbaiki angka ini.” Kata Jusuf Kalla.

Oleh karena itu, BPS sebagai lembaga penyedia statistik dasar memandang perlu adanya perubahan metode penghitungan data pangan khususnya terkait data luas panen. Jika sebelumnya hanya mengandalkan intuisi dari pengumpul data yang cenderung subjektif, saat ini penghitungan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi terkini agar lebih objektif.

Dalam melakukan upaya perbaikan tersebut, BPS bersama lembaga lain seperti BPPT, Kementerian ATR-BPN, BIG, dan LAPAN melakukan kerja sama untuk kegiatan pengumpulan data statistik tanaman pangan yang terintegrasi dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Metode ini mengintegrasikan data spasial dan data lapangan menggunakan teknologi komunikasi digital yang objektif. Singkatnya, penggunaan KSA untuk estimasi produksi tanaman pangan (khususnya padi) dilakukan dengan pendekatan pengamatan area tanaman padi berbasis titik pengamatan.

Prinsip dasar pendekatan ini adalah observasi langsung di lapangan terhadap tutupan lahan pada titik–titik pengamatan yang sudah ditentukan di dalam gugus sampel terpilih. KSA menumpangsusunkan (overlay) hasil amatan lapangan menggunakan bantuan perangkat komunikasi android yang menghasilkan sampel segmen dengan peta baku sawah sehingga kondisi lahan dapat diamati. Peta baku sawah ini dihasilkan melalui 2 (dua) tahap yakni melalui citra satelit oleh LAPAN, kemudian diolah oleh BIG mengunakan metode Cylindrical Equal Area (CEA) untuk dilakukan pemilahan dan deliniasi antara lahan baku sawah dan bukan sawah kemudian dihitung oleh kementerin ATR-BPN. Dengan cara seperti ini diharapkan luas panen dapat dihitung secara lebih akurat.

Setelah dilakukan penghitungan luas panen berbasis KSA, BPS menghitung produktivitas per hektar. Dalam tahap ini juga dilakukan penyempuranaan metode, dari sebelumnya menggunakan ubinan berbasis rumah tangga menjadi ubinan berbasis KSA untuk mengurangi resiko lewat panen. Ubinan berbasis rumah tangga dilakukan dengan memilih rumah tangga secara sampling kemudian dalam menentukan titik panen dilakukan dengan bantuan angka random. Sementara ubinan berbasis KSA dibantu teknologi untuk menentukan titik sebagai sampel panen.

Selain menyempurnakan metode penentuan luas panen dan produktivitas, BPS juga melakukan perbaikan pada perhitungan konversi gabah ke beras.  Penghitungan dilakukan dengan mempertimbangkan musim hujan dan kemarau karena diyakini memengaruhi angka konversi karena berkaitan dengan kadar air dalam gabah.

Memunculkan optimisme

Penyempurnaan metode pengumpulan data pangan memunculkan sebuah optimisme mengenai data pangan yang akurat dan tepat waktu. Jika sudah demikian, seharusnya kebijakan-kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan pangan juga seharusnya lebih akurat serta Kebijakan ekspor-impor komoditas pangan menjadi  lebih terukur. Lebih jauh ke depan, swasembada pangan dapat tercapai.

*) Staf Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik BPS Kabupaten Alor

 Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here