CPNS dan Tantangan Guru Di Abad Milenial

oleh
Erson Bani, CMF (Foto: Dok. Facebook Erson Bani)

Opini: Erson Bani, CMF*

Pembukaan pendaftaran penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di beberapa daerah di Indonesia mendapatkan tanggapan yang baik. Tanggapan ini tentunya berasal dari mereka yang telah menyelesaikan perkuliahan beberapa tahu lalu. Hal ini juga dilakukan oleh para CPNS yang berada di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk propinsi NTT, seleksi CPNS terjadi di 20 titik. Salah satunya adalah Kabupaten Nagekeo.

Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo mengatakan bahwa pembukaan tes CPNS dilakukan mengingat banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pensiun setiap tahun. Untuk tes CPNS tahun ini, Kabupaten Nagekeo membutuhkan 86 tenaga pengajar yang akan mengajar pada tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Peserta yang mendaftar sebanyak 3046 orang.

Jika kita ingin memandang ke belakang dan melihat tingkat pendidikan di Indonesia, posisi NTT berada pada peringkat ketiga dari belakang setelah Propinsi Papua dan Papua Barat. Menanggapi masalah pendidikan ini, Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan) pada tahun 2017 mengatakan bahwa NTT akan mendapat tambahan pengajar dari luar sebanyak 1200 guru dari 6000 guru Sarjana Mengajar Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Lalu, bagaiamana dengan pendidikan di NTT yang sebenarnya harus mendapatkan perhatian yang serius dengan menghadirkan tenaga pengajar yang banyak? Pada saat ini, peserta yang mendaftar (CPNS guru) sangat banyak tetapi yang dibutuhkan sedikit. Tentunya mereka yang mendaftar mempunyai tujuan agar memperbaiki mutu pendidikan kita. Pertanyaannya, kenapa kita tidak menghadirkan tenaga pengajar yang berasal dari daerah sendiri tetapi harus menghadirikan tenaga dari tempat lain? Sebenarnya kriteria tenaga pengajar seperti apakah yang dibutuhkan saat ini?

Kehadiran seorang tenaga pengajar atau guru sangat dibutuhkan agar mampu mencerdaskan anak bangsa. Guru selalu berhadapan langsung dengan pelajar dalam proses pendidikan. Setiap pelajar memiliki watak dan latar belakang yang berbeda-beda. Untuk menanggapi hal ini, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberikan beberapa kriteria yang dibutuhkan oleh seorang guru. Kriteria tersebut meliputi kemampuan untuk merencanakan pembelajaran; kemampuan untuk mengolah proses dan interaksi dalam belajar mengajar; dan kemampuan untuk manafsirkan hasil penelitian yang berguna bagi pengajaran.

Tantangan Guru Di Abad Milenial

Generasi muda saat ini berada pada abad milenial, sehingga sering disebut sebagai generasi milenial. Istilah milenial biasanya dihubungkan dengan orang-orang muda yang hidup pada kisaran tahun 1980-2000an. Jadi, dapat dikatakan bahwa anak muda yang berusia 15-34 tahun termasuk dalam generasi milenial. Abad milenial ditandai dengan perkembangan teknologi yang cepat dan sulit dibendung sehingga berpengaruh pada generasi milenial.

Menjadi seorang guru, sangatlah tidak cukup jika hanya mengetahui bidang studi yang dipelajarinya. Seorang guru harus membuka diri terhadap perkembangan teknologi dan memiliki pengetahuan serta pengalaman yang cukup tentang teknologi. Apalagi saat ini kita hidup pada abad milenial yang membuat setiap orang menjadi melek teknologi. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh dalam proses pendidikan. Dampak dari perkembangan teknologi dapat terjadi pada peserta didik maupun kepada pendidik itu sendiri.

Menurut Setio Wibowo dalam bukunya yang berjudul “Mendidik Pemimpin dan Negarawan”, sempat menyinggung mengenai dampak teknologi dalam dunia pendidikan. Menurutnya, teknologi dapat membuat seseorang berpikir teknis sehingga memperlakukan anak didik seperti hard disc kosong. Guru diumpakan seperti operator komputer yang bertugas mengunduh semua program pendidikan yang disediakan oleh server (Kementrian Pendidikan) dan ditransferkan kepada pelajar.

Hal inilah yang dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam memberikan arti tentang pendidikan. Menurutnya, cara mendidik yang baik bagi seorang guru bukan sekedar mentransferkan apa  yang telah diperoleh tetapi bagaimana mengolah apa yang telah diperoleh sebelum diberikan kepada pelajar. Apabila seorang pendidik melakukan hal ini, ia akan sampai pada kesadaran bahwa apakah yang ia berikan itu bermanfaat atau tidak. Nilai yang terkandung dalam proses pendidikan itu menjadi sangat penting.

Pada abad milenial ini, orang tua cenderung berpikir hal yang sama. Mereka mengira bahwa kekuatan anaknya seperti memory card yang kosong, sehingga harus dipenuhi dengan berbagai program. Program-program tersebut seperti kursus Bahasa Inggris, Matematika, Musik dan kursus lainnya yang sebenarnya belum tiba waktu bagi anak untuk mempelajari itu. Ini dapat dikatakan sebagai sebuah pemaksaan yang dapat berdampak pada mental dan perilaku anak. Anak dipaksa untuk menghafal apa yang ia pelajari. Akibatnya, anak menjadi depresi dan proses semacam ini dapat berdampak pada perkembangannya di masa depan.

Metode mentransferkan pelajaran tanpa terlebih dahulu diolah oleh seorang guru dan metode menghafal sepertinya harus dihindari dalam dunia pendidikan. Hal ini menjadi biasa saja jika seorang pelajar hanya berada dalam budaya pendidikan yang sama. Ini dapat menimbulkan kesulitan jika seorang pelajar berada di budaya yang baru (budaya pendidikan atau paideia). Ini disebabkan oleh sistim budaya pendidikan yang selalu sama setiap tahunnya. Oleh karena itu, ia akan cenderung untuk menghafal karena apa yang diberikan pada tahun-tahun sebelumnya selalu sama. Sehingga ia memiliki hafalan yang baik dan memperoleh prestasi. Tetapi ini akan menjadi kesulitan jika berada dalam budaya pendidikan yang berbeda.

Kecerdasan yang dimiliki tidak lebih dari daya ingat dan kemampuan mengulang. Akibatnya adalah melemahnya sikap kritis akan persolan yang baru. Persoalan baru tidak dikritisi dan yang dilakukan adalah selalu mencari cara yang mudah dalam menyelesaikan persoalan dengan menghafal agar dapat memperoleh hasil yang baik. Inilah yang menjadi tantangan bagi para guru pada era milenial.

Pada abad milenial ini, ada dua tantangan yang harus dihadapi oleh seorang guru. Tantangan yang pertama berkaitan dengan perkembangan teknologi yang berpengaruh pada peserta didik dan kedua berkaitan dirinya sendiri. Tantangan yang berkaitan dengan perkembangan teknologi yang berpengaruh pada peserta didik, guru seharusnya memiliki sikap kritis terhadap perkembangan zaman. Karena dengan bersikap kritis dalam bidang pendidikan, para guru akan menemukan tujuan pendidikan itu sendiri. Bersikap kritis terhadap apa yang diterima dapat memberikan perubahan.

Tantangan yang kedua berkaitan dengan pribadi guru itu sendiri. Untuk dapat memberikan perubahan dalam bidang pendidikan saat ini, guru harus mengatahui esensi keberadaannya sebagai sebuah keterpanggilan. Keterpanggilan yang menuntut sebuah jawaban. Jawaban yang harus diberikan adalah melalui sikap siap sedia (available) dan semangat pengorbanan. Kesiapsediaan untuk menerima penempatan tugas yang baru berarti siap untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) demi sebuah keterpanggilan. Keterpanggilan demi pelayanan yang memberikan perubahan dalam mencerdaskan anak bangsa.

Selamat berjuang untuk menjadi guru yang dapat memberikan perubahan guru di abad milenial.

*) Penghuni Wisma Skolastikat Yogyakarta

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *