Belajar Jurnalisme Humanis Dari DBS

oleh
Alfred Tuname, Penulis Buku "le politique" (2018) (Foto/Dok. Pribadi)

Opini: Alfred Tuname*

Orang media pasti kenal Don Bosco Selamun. Kerennya DBS. Di dunia pertelevisian, dia malang melintang sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Tidak gampang meraih posisi Pemred. Itu prestasi bergengsi. “Chip” sebuah media terletak pada Pemred. Pasang-surut sebuah media tergantung pada kecanggihan sang “chip”.

Pernah sebagai Pemred di beberapa media televisi, DBS sudah paham gejolak volatil media televisi berhadapan dengan pemirsa. Tentang itu, DBS mungkin saja berkata, “locked in my mind”. Semuanya ada di kepadanya.

Selentingan kisah kiprahnya di media televisi ia ceritakan pada acara”Live Chat Behind The News Special HUT Metrotv” (Kamis, 15/11/2018). Pada ada yang spesial itu, ada cara pandang dan prinsip yang spesial yang DBS ungkapkan. Baginya, media itu institusi yang hidup. Karennya, media itu punya “jiwa”. Jiwa itu “digerakkan” oleh seluruh elemen media, mulai dari lapisan bawah hingga atas; dari OB (office boy) hingga piminan redaksi.

Boleh jadi, “jiwa” itu adalah kerja dan kinerja semua elemen media televisi. Kerja dan kinerja yang baik akan menghasilkan sebuah outcome yang baik. Untuk outcome yang baik itu, DBS meletakan standar yang tinggi, baik atas berita maupun pada awak medianya. Ia tak main-main dengan standar berita.

Pagu atas standar berita itu adalah “berimbang, obyektif, jujur, imparsial dan sesuai perintah kode etik pers”. Taat atas nilai-nilai itulah yang membuat sebuah media “dipandang” publik. Greget sebuah media ada pada ketaatan pada nilai-nilai itu. Orang Latin bilang, serva ordinem et ordo servabit te”.

Tetapi media sesungguhnya bukan untuk melayani hasrat “homo economicus”. Bagi DBS, media (televisi berita) itu bukan kejar profit. Jelas saja, media yang profit oriented itu akan membuat seisi “rumah” media menjadi tidak nyaman. Sebab, isi kepala dan tenaga seisi rumah akan dieksploitasi untuk meraih rupiah.

Dalam kondisi seperti itu, tak ada lagi suka-duka bersama. Hanya ada, situ yang senang, sini yang susah. Mereka yang senang akan menikmati pekerjaan, mereka yang susah akan meninggalkan pekerjaan. Setali dengan itu, kualitas pemberitaan rusak tidak karuan. Jika itu terjadi, dalam hitungan waktu, media akan roboh dan ditelan ketidakpercayaan publik.

Membalikan kepercayaan publik kepada media itu susah. Lebih gampangnya adalah mempertahankan standar kualitas media dengan nilai dan idealisme an sich. Profit pun dengan sendirinya datang kalau kualitas media itu terus meningkat, minimal stabil.

Teknisnya, kualitas media itu ada pada nilai berita yang benar dan berimbang, visualnya baik, dan performanya apik. Selebihnya, media harus kreatif dan inovatif serta meminimalisasi kesalahan. Alasannya, publik (pemirsa/pembaca) sudah semakin cerdas menilai media dan memilih media. Preferensi publik terhadap media adalah, selain pragmatis, soal keberpihakan media terhadap kepentingan umum.

Kalau mengutip Jakob Oetama, kepentingan umum itu dilihat dari “komitmen untuk bekerja sama bagi salus populi, bagi kesejahteraan rakyat”.  disitulah letak jurnalisme yang humanis. Bahwa media tidak saja berfungsi pemberi informasi dan hiburan, tetapi juga kontrol dan edukasi. Dengan kontrol terhadap penguasa, kepentingan rakyat diselamatkan; dengan edukasi, rakyat terhindar dari hoax.

Terkait itu, DBS sangat berhati-hati dalam menyikapi semua fenomena yang menjadi obyek berita. Ia menekankan sikap kritis terhadap semua isi pemberitaan. Tidak hanya kreatif, verifikasi itu penting dalam memproses sebuah pemberitaan.

Pekerja media tidak boleh hanya “age quod agis” tetapi juga harus “fiat veritas pereat mundus”.Sebab, “vincit ominia veritas”. Dengan menyajikan kebenaran, media akan memenangkan hati publik. Rating media selalu tinggi jika kebenaran ditahtakan pada tempat (berita) yang pantas.

Dengan meninformasikan kebenaran, publik akan senang, meskipun penguasa atau politisi busuk tak tenang. “You can not make everybody happy”, kata DBS. Tetapi setidaknya, mayoritas masyarakat puas karena hak-hak mereka didapatkan. Right for truth information!

Kalau media kuat mendukung right for truth information itu, media akan semakin mampu membentuk effective and strong civil society. Jika tidak, yang ada hanyalah semakin effective and strong ruler. Akibatnya, media hanya menjadi hamba penguasa. Media pun mirip “deus ex machina” dalam sastra klastik Yunani yang lebih memberi ruang pada informasi irasional tinimbang yang rasional atas semua fenomena yang terjadi.

Nah belajar dari DBS adalah belajar untuk tidak berperan sebagai “deux ex machina” dalam teater kehidupan media. Bahwa media harus berperan sebagai aktor yang membawa terang dalam gua kehidupan. Media yang membawa “terang” akan menyaksikan senyum dan kegembiraan di wajah publik yang menontonnya (atau membacanya). Saat itu, media tak hanya menghibur, tapi juga mencedaskan.

Sebagai “aktor” mencerdaskan, media punya kebebasan (pers) untuk menerobos semua kebobrokan dan manipulasi yang menyengsarakan rakyat. Dengan berkata (memberitakan) jujur dan benar, media telah membebaskan publik dari rantai kebodohan dan kemiskinan. Selebihnya, biarkan publik berbicara dengan bahasa dan pikirannya sendiri.

Dan dengan pikiran dan tangan dingin DBS, semua media yang pernah dipimpinnya berkembang pesat. Sambutan publik pun tak terkira. Nilai kejujuran dan keberpihakkan pada kebenaran menjadi warisan yang melekat sekaligus tradisi yang mengikat pada media. Lalu, ketika profesional itu “rumus identitas” pekerja media, ketercerahan (aufkarung) publik adalah nilai tambah.

Akhirnya, profisiat buat DBS. Sehat selalu. Hidup sudah begini, nikamti saja!

*) Esais, Tinggal di Borong, Manggarai Timur, NTT

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *