Seingat Saya, Nama Negeri itu adalah Indonesia

oleh
Ilustrasi (Foto: Istimewa/analisadaily.com)

Opini: Efraim Mbomba Reda*

Membaca adalah aktivitas paling puitis dan romantis dari manusia yang ingin bercengkrama dengan ilmu pengetahuan. Sastra menjadikan perasaan kita sehalus sutra, koran menyajikan kita informasi berlimpah dan buku ilmiah menajamkan akal pikiran kita. Dengan membaca nurani kita diasah dan akal kita diolah. Membaca adalah asal muasal lahirnya pencerahan !

Sejarah mencatat bahwa The Founding Father’s seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Alimin dan Darsono adalah tokoh-tokoh yang jika tidak berlebihan menempatkan buku sebagai kekasih pertama, kedua bahkan ketiga. Kekasih mereka sesungguhnya mungkin saja ditempatkan pada posisi keempat. Seorang Bung Karno diusia mudanya menghabiskan waktu untuk mengonsumsi buku-buku milik H.O.S Tjokroaminoto. Tidak terkecuali Bung Hatta, dengan dengan adagium yang paling kita kenal ‘Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas’ menunjukan betapa Bung Hatta sangat mencintai buku. Begitupun Bapak Bangsa lainnya, semuanya memiliki pengalaman intim dengan buku.

Fakta penting lainnya adalah pada Zaman Hindia Belanda, para pelajar di Algemene Middelbere School (AMS) yang setara dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang diwajibkan untuk membaca. Siswa diminta melahap paling tidak 20 – 25 buku karya sastra selama tiga tahun masa studi mereka. Kegiatan membaca biasanya diikuti dengan menulis karangan setiap minggunya.

Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, dan Ali Sosroamidjoyo adalah produk pendidikan tersebut. Sekali lagi secara mencatat akhirnya ada banyak tulisan dasyat dari para tokoh itu yang kemudian mengubah nasib bangsa saat ini. Maka, tak heran jika generasi Soekarno, Hatta dijuluki sebagai generasi emas Indonesia dari sisi intelektualitas yang sangat mumpuni. Yang jelas pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki adalah hasil dari kegemaran untuk hidup bersama buku – buku.

Menurut data survei UNESCO terkait persentase minat baca Indonesia, sebanyak 99 % tidak suka membaca dan 1 % suka membaca. Itu artinya dari 1000 penduduk hanya 1 orang yang gemar membaca buku. Sastrawan Taufik Ismail pernah melakukan riset tentang kewajiban membaca buku sastra di beberapa negara dikalangan pelajar SMU selama tiga tahun masa studi mereka. Hasil riset menunjukkan para pelajar SMU di Jerman wajib membaca 32 buku sastra, di Belanda 30 buku, di Amerika Serikat sebanyak 25 buku, di Jepang 12 buku, di Singapura 6 buku, di Malaysia 6 buku dan di Indonesia nol!

Hal tersebut sudah berlangsung lebih dari 60 tahun dan tidak ada yang panik. Tragedi nol buku! Suatu kemunduran yang mengerikan.

Lalu apa hubungannya dengan situasi bangsa? Apakah kita ingin menjadikan semua anak negeri ini sastrawan? Yang jelas membaca bukan sekedar untuk mengerti arti kata, arti kalimat dan jalan cerita sebuah kisah. Membaca yang benar bukan sekedar kegiatan kognitif. Membaca itu mengolah rasa, mengasah kepekaan serta membangkitkan kesadaran.

Karya sastra jelas adalah tulisan paling paripurna. Di dalamnya ada rasa, penghayatan dan juga fakta kehidupan. Mungkin jika Hatta dulu tidak dijejali karya-karya sastra ia hanya akan menjadi ekonom semata bukan proklamator !

Bangsa yang membaca tentunya akan lebih bijak, karena memiliki banyak jendela untuk memandang masalah dari berbagai sudut. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang melihat ke dalam dan bukan sibuk berteriak menghujat pihak lain sebelum melihat kepada dirinya sendiri.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang terstruktur cara berpikirnya, karena membaca fiksi maupun non fiksi sama – sama menstimulasi kerja otak.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang tenang, tidak grasak grusuk, sontoloyo dan genderuwo! Karena membaca membutuhkan ruang tenang baik di perpustakaan maupun di tempat-tempat yang paling ramai sekalipun.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang memiliki kepekaan dan kesadaran. Kesadaran terhadap dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kepekaan terhadap sekelilingnya. Bangsa yang membaca tidak mudah menyebar hoax ke berbagai media sosial, tidak membuang waktu untuk berdebat tentang hal – hal yang tidak jelas dasarnya. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang besar !

Membaca tidak boleh hanya dijadikan sebagai ajakan atau himbauan, membuat harus menjadi kewajiban. Membangun kecintaan pada membaca bukanlah pekerjaan satu malam dan tanggungjawab sekolah saja. JK Rowling mengatakan ‘Jika kamu belum suka membaca, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat’

Kita semua berharap Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Literasi Bangsa (GLB), serta Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diinisiasi oleh pemerintah dapat dijalankan dengan maximal, apalagi era Jokowi menempatkan gerakan literasi bangsa sebagai prioritas untuk membangun SDM anak bangsa.

Dengan membaca saya yakin julukan generasi emas tidak berhenti di zaman Soekarno, Hatta tetapi akan kembali hidup hari ini jika kita membudayakan kembali semangat membaca. Membaca juga adalah ekspresi cinta pada diri sendiri dan negeri. Namun jika suatu bangsa anti terhadap membaca, bangsa tersebut tidak hanya sedang memunggungi pengetahuan namun telah jatuh pada lembah yang paling dalam. Jelas kita tidak ingin suatu saat orang menceraikan bahwa dulu ada satu negeri yang karena tidak punya budaya membaca akhirnya bubar karena mudah diprovokasi, suka bertengkar satu dengan yang lainnya, saling menghujat, dll. Seingat saya nama negeri itu adalah Indonesia.

*) Novelis dan Esais

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *