Cerpen: Bidadari Malam

oleh
Ilustrasi (Foto: pinterest)

Oleh Lian Kurniawan*

Bagai pertapa ulung, hampir tiap detak waktu dalam sisa hidupnya kini ia habiskan untuk merenung. Mengulang kembali kisah-kisah di masa silam. Berkuyup keringat dalam perang meredamkan bara dendam dalam dada. Bahkan, menimang-nimang semua harapan adalah aktifitas rutin yang setia menemani kesendiriannya kini. Ia merenung, dan terus merenung.

Di tengah masyarakat dengan pola pikir yang masih amat primitif, Melki semacam dituntut untuk menerima segalanya begitu saja.

Ikhlas!

Dan, entah, takaran ke-ikhlasan-nya seperti apa, dogma-dogma yang demikian itu telah menjadi udara yang mesti ia hirup saban waktu. Sementara, pada saat yang sama, sanak keluarga, tetangga atau beberapa warga terang-terangan memintanya untuk segera menikah. Baik lewat candaan maupun berupa nasehat serius. Bahkan tak jarang, dirinya menjadi bahan gunjingan warga seantero kampung. Saat berkumpul, atau ketika ngobrol sambil bekerja di kebun.

Ia lantas kebingungan. Tiang-tiang prinsip yang telah dipegang teguh menjadi goncang!

Pada suatu sisi, ia memang selalu meyakini bahwa kepasrahan adalah satu-satunya cara untuk menghadapi pahit getirnya takdir, sambil melakukan hal-hal yang baik. Sehingga dengan itu, menurutnya, seburuk apapun takdir itu, ia akan menjadi baik dalam keburukannya sendiri.

Kita bisa memesan bir, tetapi kita sama sekali tidak bisa memesan takdir, salah satu kutipan menarik dari salah satu penulis favoritya, Djenar Maesa Ayu terlintas di pikiran.

Namun di sisi lain, ia merasa seolah-olah seperti sedang melakoni drama kehidupan yang di selalu ditonton oleh ratusan warga kampung kecilnya itu. Ia bak hiu di kolam yang kecil.

Sebagai penonton pun, mereka bak juri profesional. Atau, bahkan mereka acapkali hadir sebagai malekat paling sempurna. Seberapa pun upaya Melki untuk menjadi dirinya sendiri, melakukan yang terbaik, dan menerapakan prinsip yang ia pegang, berusaha sedemikian mungkin untuk menjalin relasi baik dengan warga, tetap saja semua itu seolah sia-sia.

Masih saja ada alasan warga untuk mencemoohnya. Yah, masih soal pernikahan.

Ah persetan dengan anggapan orang!

Gumamnya dalam hati. Masih dalam kesendirian. Di beranda rumah peninggalan orangtuanya, ia bergurau dengan gelap dan kesunyian malam.

***

Malam itu telah benar-benar larut. Cahaya bulan dan bintang nampak suram, terhalau oleh kabut. Semua warga kampung telah lelap. Sesekali raung suara burung gagak terdengar, sembari terbang melintasi rumahnya. Amat menyeramkan!

Melki menghela napas panjang, lalu beranjak masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri ke atas ranjang dan kembali bangkit menggapai novel yang hampir selesai ia baca. Tersisa beberapa halaman saja untuk selesai.

Guna menahan kantuk, ia membuat kopi, dan menyulut sebatang rokok, lalu kembali meresapi kata demi kata penjelasan dan percakapan dalam novel yang memang amat menarik hatinya itu.

Yah, novel berjudul Ayat-ayat Cinta. Karangan Habiburrahman El-Shirazy.

***

Beberapa saat berselang, suara segerombolan anjing tetangga terdengar melolong. Dari ufuk utara kampung, pekikan anjing-anjing itu terdengar keras, dalam irama yang kacau dan penuh gairah. Biasanya pertanda bahwa ada yang sedang lewat.

Tetapi siapa gerangan yang berani lewat selarut ini?

Kini suara lolongan semakin mendekat. Menuju rumahnya yang terletak di ujung lain kampung. Paling selatan.

Matanya melotot ke langit-langit rumah. Menyendengkan salah satu telinga ke arah suara. Semakin keras, dan terdengar seperti sedang dekat dengan mangsa mereka. Siap menerkam, tapi mungkin masih ada perlawanan. Sehingga hanya bisa terus menggonggong dari sebuah jarak.

Ia mengernyitkan kening. Menduga-duga. Masih dalam keadaan tengadah.

Tidak mungkin!

Ia menanggapi dugaanya sendiri.

Lalu pikirannya beralih ke kemungkinan lain.

Barangkali ada warga kampung yang sedang pergi memburu mobil di jalan raya sana, hendak ke kota.

Iya, kampungnya amat terpencil. Belum bisa dimasuki kendaraan apapun. Jika hendak ke kota, warga kampung harus berangkat ke jalan raya untuk mendapatkan angkutan umum yang berangkat dari sebuah kampung yang terletak berpapasan dengan kampungnya, tapi agak jauh, terletak di bagian Timur sana.

Untuk bisa berangkat ke kota, mereka harus berjalan kaki sejauh lima kilo meter. Melintasi hutan rimba, dan biasanya angkutan umum memang lewat tengah malam.

Tapi kenapa anjing-anjing-anjing itu semakin mendekat ke sini?

Ia masih menduga-duga. Pikirannya sibuk berdebat dengan dugaan-dugaannya sendiri.

“Wouk….wouk…wouk….!” keras, Megi, anjing peliharaannya ikut menggonggong. Seperti menjemput kawanan anjing yang sedari tadi menggonggong. Mengikuti arah orang, setan atau binatang yang tampak sedang bergerak ke arah rumahnya. Ia tersentak.

Pasti ada ‘ata lako wie(1)’ yang sedang datang menanam guna-guna di seputaran rumahnya.

Ia akhirnya tiba pada satu-satunya kemungkinan yang paling masuk akal!

Di sisi lain, ia ingin mengintip lewat jendela, hendak memastikan. Tetapi ada rasa takut yang seketika menjalari sekujur tubuhnya. Bulu kuduknya berdiri.

“Tok…….tok…..tok…!”

Melki tersentak. Berulang kali, pintu rumahnya diketok. Tapi ia belum menggubris. Matanya kian membelalak. Mendengar dengan saksama.

“Tok……tok…..tok…!”

Kali ke sekian, ketukan pintu itu disusul suara seorang perempuan. Amat ayu, tetapi begitu asing baginya.

Siapa?

Melki lalu melepaskan novel dari tangannya, dan beranjak ke dapur hendak mengambil parang. Dengan sedemikian hati-hati ia merangkak, guna memastikan bahwa sang tamu tidak mendengar derap langkahnya. Dari dapur, suara ketukan pintu samar terdengar. Sekali lagi, dan disusul suara penuh harap bercampur rasa cemas.

Masih dengan kehati-hatian yang sama, ia kembali ke pintu depan. Kini dengan sebilah parang panjang nan tajam di tangan kanan, dan sebuah senter di tangan kiri.

Awas kau kalau darat(2)!’ gerutunya dalam hati. ‘Akan saya cincang kau habis-habis!’

Ia menghela napas dalam-dalam. Menyatukan segala indra dan segenap kekuatan untuk menyerang. Kini ia berdiri tepat di balik pintu. Dari luar, anjing masih memekik dengan nada yang setengah tertahan.

“tok….tok….tok….!”

Satu ketokan keras mengagetkannya.

Anjing!” refleks ia berteriak lantaran kaget.

Mendengar suaranya, sang tamu sontak memperkenalkan diri dari balik pintu sebagai Tasya. Berasal dari Jawa, sedang membutuhkan bantuan, sedang nyasar, tak punya niat buruk, dan takut anjing, dan lain-lain. Semua berbaur dalam nada kepasarahan, sendu, lelah dan rasa takut.

“Siapa keluargamu di sini? Kau jangan berpura-pura!” tegas Melki.

***

Sejenak Melki merenung. Mengingat-ingat pengalamannya sewaktu merantau ke Jakarta dulu. Pada awal perantauannya di sana, ia pernah mengalami getirnya kehidupan tanpa sepeserpun uang, tanpa hunian. Tanpa teman atau keluarga.

Kala itu, ia benar-benar terjebak di tengah pola pikir masyarakat kota yang serba curiga. Di tengah kesemarakan zaman yang kian melahirkan maling-maling cerdik, terorisme dengan berupa-rupa modus, dan terutama, ia pernah merasakan tanda-tanda zaman dengan rasa peri kemanusian yang telah terkubur di balik hiruk-pikuk ekonomi.

Dan kini, bila perempuan itu benar-benar Tasya, pengalaman serupa terjadi secara terbalik. Seorang masyarakat kota maju sedang terjebak di tengah belantara keterpencilan. Di kampungnya yang benar-benar udik, jauh dari jangkauan infrastruktur umum, sebuah kampung tanpa akses jalan beraspal, dan terutama jauh dari jangkauan perhatian pihak berwenang dalam upaya pemerataan pembangunan. Kecuali sebuah sekolah dasar inpres yang telah didirikan tahun delapan puluhan silam, tempat ia mengabdi sebagai guru bahasa Inggris sekarang.

Tapi tidak mungkin. Apa urusan perempuan malang ini di sini?

“Nak, ini uang” kata sang ibu suatu malam dalam pilu, “pergilah engkau ke Jakarta. Cari kerja, sebab, engkau tahu, kami tidak biasa membiayamu untuk kuliah” lirih sang ibu membekali kepergiannya malam itu dalam bahasa Manggarai.

“Mohon maaf, tanpa sepengetahuan kamu” lanjut sang ayah, “kami telah menjual kerbau kita itu!”

Iya. Melki adalah anak semata wayang. Buah cinta sepasang suami-istri yang malang tapi pandai mensyukuri tiap detak waktu kehidupan dan tiap penggal realitas yang ada. Mereka adalah petani yang giat dan memiliki cinta dan kasih sayang luar biasa pada sang buah hati. Mereka tak jarang menyesali semua bakat dan talenta yang dimiliki Melki yang luar biasa. Namun, apa daya, secara ekonomi mereka amat tak mampu.

Siapa peduli?

Selama duduk di bangku Sekolah Dasar, Melki selalu menjadi juara kelas. Ia gemar membaca dan pernah mengaku ingin belajar bahasa Inggris. Buku-buku serta majalah pemberian om-nya yang bekerja di Labuan Bajo selalu lahap ia baca di sela-sela kesibukannya membantu orangtua. Memelihara babi, kerbau dan berkebun.

“Kami hanya bisa berdoa, semoga kamu selamat sampai tujuan!” pesan sang ibu bercampur tangisan panjang.

Niat mereka mengutus Melki berawal dari ajakan Shinta, salah seorang warga kampung yang paling dikagumi lantaran bisa pulang dengan harta berlimpah setelah sekian lama merantau di Jakarta. Kala itu, Shinta sedang berlibur. Dan, tak seorang warga pun yang tahu ihwal pekerjaan Shinta di Jakarta sana.

Acara ‘wuat wai’ pun dihelat malam itu untuk mendoakan dan mengutus perantauan Melki secara adat Manggarai.

“Dasor lalong bakok koe du lakom, lalong rombeng koe du kolem!” sepenggal doa perutusan yang sarat makna terucap. “Semoga engkau pergi dengan tangan kosong, dan nanti bisa pulang dengan sebuah keberhasilan”.

Shinta dan kedua orangtuanya hadir dalam acara tersebut. Kepada semua anggota keluarga yang hadir, ia sempat mengaku senang bisa pergi bersama Melki. Ia juga berjanji untuk membantunya dalam banyak hal selama di Jakarta nanti. Dalam hal apa pun.

Sungguh sebuah pengakuan yang membuat hati kedua orangtua Melki bahagia. Lantas menyatakan ucapan terima kasih yang tulus dan berulang-ulang kepadanya.

Selama dalam perjalanan, hingga beberapa minggu di Jakarta, Shinta menjamin segala kebutuhan Melki. Ia bahkan mengaku, rela melakukan apa saja baginya, sebab telah lama memendam rasa cinta pada lelaki tampan nan malang itu. Kala itu, Melki hanya bisa menjawab betapa besar ia menghargai perasaan Shinta. Akan tetapi, ia butuh waktu untuk membuktikan semuanya. Toh kalau jodoh, keduanya tidak terikat hubungan keluarga yang bisa menghalangi.

Ada mimpi yang harus aku capai sebelum cintamu!

Melki memang ganteng. Lelaki yang perkasa, yang tumbuh dan besar dalam lingkaran keluarga papa. Ia patut dicintai wanita mana pun. Namun, ia hanya ingin, itu bukan satu-satunya alasan Shinta mencintainya. Ia juga tak mau, kekayaan teman SD-nya itu ia jadikan alasan untuk menerima cintanya begitu saja.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai mengetahui banyak hal tentang Shinta. Shinta ternyata bekerja sebagai pelacur. Wanita panggilan, atau pemuas dahaga pebisnis atau pejabat-pejabat kaya. Sebab memang, Shinta adalah wanita yang amat cantik. Namanya juga cukup tenar di Ibu Kota sana.

Melki lantas menjauhinya. Justru pada saat uang sakunya mulai menipis. Kesana-kemari ia melamar kerja, namun gagal. Tidur di emperan toko. Sesekali di kolong jembatan guna menghindari pantauan perampok atau semacamnya.

Hampir dua bulan, ia merasakan pahit getir realitas di sebuah kota metropolitan. Seorang lelaki kampungan nan malang terjebak dalam labirin doa dan harapannya sendiri. Hingga akhirnya ia diterima bekerja di sebuah perusahaan plastik. Entah namanya apa.

***

Hampir dua tahun berlalu. Melki sudah bisa membeli hp sendiri dan telah mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di sebuah universitas swasta. Jurusan Sastra Inggris, kelas Karyawan. Mimpinya perlahan terrajut.

Kerinduannya pada kedua orangtua sudah tak terbendung lagi. Dengan terpaksa ia mendatangi Shinta untuk meminta nomor hp orangtuanya. Sebab, kala itu, hanya orangtua Shinta yang mempunyai handphone. Itupun pemberian gadis kebanggaan mereka itu.

Jaringan pun hanya ada di satu tempat. Nyaris menjadi tempat paling sakral. Bak compang, tempat sinyal itu telah dipagari dengan rapih, dibuatkan tempat khusus sebagai tempat menyimpan hp dan tempat duduk. Kalau ada anak-anak yang bermain-main di situ, pasti mendapat marah dari warga sekitar. Tempat itu menjadi saksi segala doa, curahan hati, pesan dan sekedar cerita dari semua warga kepada anak atau keluarga di seberang sana. Menggunakan hp orangtua Shinta. Dan tempat itu letaknya tepat di depan rumah Melki.

***

Tangisan panjang sang ibu mengisi perbincangan panjang keduanya. Sang ayah yang lebih tegar menahan rindu, hanya bisa mengabari sang anak kalau mereka sedang menuai hasil perjuangan mereka selama bertahun-tahun. Semua tanaman pertanian, seperti cengkeh, kopi, dan lain-lain berbuah melimpah pada saat harga di pasaran juga sedang naik. Dari hasil itu semua, mereka sedang mendirikan rumah baru permanen.

Sebaliknya, Melki juga memberitahu mereka bahwa ia sudah mulai kuliah, sambil kerja. Tak perlu kalian cemaskan, pesannya. Ia mengaku bisa membiayai kuliah dengan hasil kerjanya.

“Bos saya baik sekali, ende” aku Melki, “baiknya seperti ende dan ema!”

Kabar gembira itu justru menyulut tangisan panjang sang ibu, oleh rasa haru.

Sungguh sebuah pertumpahan rasa rindu yang amat menyejukkan kalbu. Namun, dalam hati, Melki sekaligus mencemasi kabar gembira itu. Ia tahu, bahwa di kampungnya terdapat banyak ata mbeko. Termasuk ayah Shinta. Sudah sekian banyak warga ‘yang cukup kaya’ atau sekedar memulai usaha baru, telah tewas dan diduga meninggal karena disontet olehnya.

Benar saja, hanya sebulan berselang, Melki mendengar kabar bahwa sang ayah telah tiada. Mati mendadak. Pada saat minum kopi sore, di kebun. Usai memetik cengkeh. Kala itu, Melki sempat pulang untuk melayat sang ayah.

Ada sekitar satu bulan ia di kampung. Sang ibu tiba-tiba jatuh sakit. Berbagai pengobatan dilakukan. Baik tradisionl maupun medis. Tapi gagal. Sang ibu akhirnya pulang ke pangkuan Sang Kuasa tanpa satu pun riwayat penyakit yang terdeteksi. Semua warga, termasuk dirinya percaya bahwa kedua orangtuanya meninggal akibat disontet ayah Shinta.

Tetap saja. Ia sadar, itu semua hanyalah prasangka yang takan terbukti!

Dengan luka yang teramat dalam, Melki memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Hendak menyelesaikan kuliahnya yang tinggal dua tahun saja. Sekaligus untuk melarikan diri, atas pesan dari pamannya, Stef, agar bisa luput dari target ayah Shinta.

***

Melki pulang ke kampung usai menyelesaikan gelar sarjananya. Sang mantan guru di sekolah dasarnya dulu langsung memanggilnya untuk bekerja di SD tersebut. Ia kini tinggal sendirian di rumah permanen peninggalan kedua orangtuanya.

“Siapa kamu?” tanya Melki tegas sambil menyorotkan lampu senter tepat di wajah wanita asing di balik pintu itu.

Di balik pintu, ia menemukan sesosok wanita yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Dari rona mukanya, Melki bisa pastikan bahwa ia memang seorang keturunan Jawa. Ia mengenakan jilbab hitam, yang ia kombinasikan dengan kemeja merah jambu, dan celana jeans abu-abu.

Ronanya memancarkan aura kedewasaan, kesderhanaan dan kepasrahan sekaligus. Wanita itu menutup wajahnya dengan tangan. Bermaksud menghalau cahaya senter itu.

Lalu Melki menyoroti senternya ke arah kaki. Bermaksud untuk menghitung jumlah jari kaki wanita itu. Sebab ia sempat menduga, bahwa ia adalah darat (bidadari). Kalau benar, berarti jari kaki dan tangannya pasti berjumlah enam. Tetapi, senyata-nyatanya ia menemukan jari wanita itu normal.

“Aku Tasya, mas. Dari Jogja. Akan aku ceritakan semuanya kenapa aku sampai di sini!” wanita itu memohon dengan sungguh agar diperkenankan masuk ke dalam rumah. Ia juga mengaku sedang sangat lapar.

“Tunggu!” tegas Melki, “duduk kamu di sana, sebelum saya memotong lehermu dengan parang ini!”

Wanita itu menurut. Lalu duduk di salah satu kursi panjang di beranda rumah Melki. Ia meletakan ransel kecil yang sedari tadi digendong tepat di ujung kedua kakinya. Sekujur tubuh, dan pakaiannya bersimbah keringat.

Melki menoleh ke kiri dan kanan. Hendak memastikan apakah ada warga yang mendengar teriakannya. Tak satu pun. Malam memang telah benar-benar larut. Semua warga masih tidur lelap.

“Siapa sebenarnya yang kamu cari di kampung seudik ini, huh?” tanyanya pelan.

Wanita itu menjawab dengan isak tangis. Ia menyeka air matanya dengan ujung jilbab. Lalu menjelaskan.

“Mas, sebelumnya aku mohon maaf udah mengganggu. Aku sebenarnya ke sini atas petunjuk almarhumah ibu aku yang telah meninggal tiga tahun silam” lirih Tasya mengaku dalam logat Jawa yang kental, “ibu aku datang lewat mimpi minggu lalu. Ia menyuruh untuk datang ke sebuah kampung bernama “Kakor” di kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat!”

Melki mendengar dengan saksama. Kebingungan. Sembari mengamati rona muka wanita itu. Menikmati lentik bibirnya komat-kamit manja saat menjelaskan, dan terutama barangkali ada tanda-tanda kebohongan yang terungkap lewat gerak kedua matanya.

Melki mengerutkan kening. Menggeleng panjang lalu menanggapai.

“Saya adalah salah seorang yang percaya pada mimpi. Tapi bukan untuk hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini!” pancingnya.

“Andai saya adalah kamu, untuk pertama dan terakhir kali, saya berani mengkhianati ibu saya bila menyuruh saya melakukan hal yang amat menyiksa seperti ini!”

“Toh darimana ibu-mu tahu bahwa ada kampung bernama Kakor di sini?”

Wanita itu tertegun dan sontak menangis sejadi-jadinya. Ingin Melki memeluknya lantaran ikut terharu. Tapi apa daya, kecurigaan kian merundungi hati dan pikirannya saat ini.

Masih dalam isak tangis, wanita asing itu menjelaskan kalau kedua orangtuanya adalah  pengusaha kaya di Jakarta. Dan, mereka adalah mantan bos Melki dahulu sewaktu di Jakarta. Tasya sendiri tidak pernah bertemu dengannya lantaran sejak kecil ia tinggal bersama neneknya di Jogja. Tapi sang ibu dan ayahnya selalu menceritakan ihwal Melki kepadanya lewat telephone. Mulai dari etos kerja, kejujuran, semangat belajar hingga detail-detail terkecil tentang lelaki malang itu.

Melki lantas benar-benar terkejut mendengar pengakuan itu. Sekujur tubuhnya merinding setelah berbagai upaya pembuktian ia lakukan. Lalu, ia melemparkan parang di tangannya jauh-jauh, lalu sujud memohon maaf pada Tasya. Tangisan keduanya pun pecah saat pagi sudah mulai merekah.

Satu per satu warga datang ke rumah Melki. Terutama tetangga dekat yang mendengar tangisan keduanya. Semua orang kaget melihat keduanya berpelukan dalam tangis. Terutama, mereka tidak percaya bahwa seorang gadis cantik, berjilbab nan asing ada di kampung mereka.

Melki sontak mengajak Tasya untuk masuk ke dalam rumah. Warga yang hadir ikut berbondong-bondong masuk lewat pintu depan.

Kepada warga yang hadir, Melki mengatakan bahwa Tasya adalah anak mantan bosnya waktu di Jakarta, sesuai pengakuan Tasya. Cerita panjang tentang perjuangannya di ibu kota dahulu, hingga akhirnya bertemu dan bekerja dengan orang tua Tasya, ia helat di hadapan semua warga yang hadir. Dalam tangis.

Sebagian warga yang hadir juga ikut terharu dan menangis, serta memeluk Tasya. Mereka merasa bangga pada Melki, dan bahagia akan kehadiran Tasya di kampung mereka.

Di salah satu dinding ruang tamu, Melki sejak kembali dari Jakarta memajang beberapa foto. Dua bingkai paling atas ia pajang foto kedua orangtuanya yang berdampingan dengan bingkai foto mantan majikannya itu, orangtua Tasya. Lalu persis di tengah-tengah bagian bawah kedua foto tersebut ia pajang fotonya sendiri.

Love never ends” sebuah tulisan tangan Melki dengan cat tertera melingkari ketiga bingkai itu.

“Bagaimana keadaan ayah dan ibu di Jakarta?” tanya Melki penasaran.

Tatapan Tasya sedari tadi terpaku pada foto-foto yang terpajang. Agak lama, sebelum akhirnya ia menoleh dan sontak menangis. Dengan tersengal-sengal, ia memberitahu Melki untuk kedua kalinya. Ia mengaku, bahwa kira-kira setahun setelah Melki kembali ke kampung, pemukiman kedua orangtuanya diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Mereka dibunuh secara sadis.

“Ga lama setelah itu, aku menjual semua aset milik ayah” jelas Tasya terbata-bata. “Hampir separuh uangnya aku sumbangkan ke beberapa panti asuhan, anak jalanan, yatim piatu, dan sisanya aku pakai buat ongkosku ke sini!”

Haru biru kian menyelimuti seisi rumah Melki. Hampir semua warga, terutama kaum ibu, menangis sejadi-jadinya. Mereka benar-benar tersentuh oleh kisah tragis yang menimpa orangtua kedua anak manusia di hadapan mereka, Melki dan Tasya.

“Terus bagaimana kamu tahu alamat kampung ini?” tanya salah seorang warga penasaran.

Melki lalu menjawab dengan mengulangi pengakuan Tasya kepadanya tadi. Ia juga mengaku, bahwa kepada kedua orangtua Tasya, ia memperkenalkan diri secara jujur dan dengan detail lengkap. Mulai dari kampung, desa, kecamatan, hingga kabupaten asalnya. Ia tidak seperti kebanyakan orang yang pergi merantau ke kota-kota besar, misalnya, hanya bilang ‘berasal dari Flores’, tanpa menyebut nama kampung.

“Dan kalau mau jujur, sebelum ibu dibunuh, ia sempat menelpon aku dan berpesan untuk menikah dengan Melki!”

Sebagian warga tertawa bahagia. Tasya pun tersipu Malu dan Melki sontak memeluknya erat.

***

Sebagian kaum ibu telah sedari tadi sibuk menyiapkan makanan untuk Tasya dan kopi untuk semua warga yang hadir, atas permintaan Melki. Dalam kesempatan yang sama, serta atas persetujuan paman Rikus yang sekaligus sebagai tua golo, ia mengundang semua warga untuk turut hadir dalam acara besar-besaran di rumahnya hari itu juga.

Acara itu dimaksudkan sebagai penyambutan Tasya, ucapan terima kasih, sekaligus sebagai ungkapan perpisahan Melki kepada kedua mantan majikannya itu. Secara simbolis, acara perpisahan itu dinamakan ‘kelas’ dalam adat istiadat Manggarai.

*Penikmat Sastra dan Bekerja Sebagai Tour Guide Di Labuan Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *