Prostitusi di NTT, Qou Vadis?

oleh
Yono Paing, CMF, Penghuni Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: Yono Paing CMF*

Tema aktual akhir-akhir ini di berbagai media  di NTT adalah persoalan prostitusi di kota Kupang. Prostitusi mungkin terasa menyebalkan ketika akan dibahas dalam konteks kita, karena ini digolongkan sebagai penyakit masyarakat yang enggan untuk dibahas, terutama dalam budaya kita NTT. Karena kita masih sangat kental dengan nilai-nilai budaya setempat. Namun pada kenyataannya eksistensi prostitusi di NTT menjadi ajang bisnis yang terus berkembang.

Selain itu, prostitusi di Indonesia dianggap sebagai kejahatan terhadap moral atau kesusilaan. Kegiatan prostitusi adalah sebuah kegiatan yang ilegal dan bersifat melawan hukum. Dalam ratifikasi perundang-undangan RI Nomor 7 Tahun 1984, “perdagangan perempuan dan prostitusi dimasukan sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.” Tumbuh suburnya kegiatan prostitusi di Indonesia merupakan bukti bahwa kegiatan ini masih menjadi momok untuk moral masyarakat tanah air.

Prostitusi merupakan penyakit masyarakat yang tidak bisa diretas begitu saja seperti “membalikkan telapak tangan” dari kehidupan kita. Karena banyak faktor pendukung untuk terjadinya prostitusi, antara lain: pertama, faktor keluarga. Misalnya: broken home. Di mana seseorang yang mengalami masalah ini merasa ingin melakukan segala sesuatu sesuai kehendak hatinya sebagai luapan emosi atau hanya sekadar ingin memuaskan dirinya. Kedua, faktor lingkungan. Di mana lingkungan memegang andil sangat penting dalam pembentukan kepribadian seseorang, walaupun keluarga merupakan faktor pembentuk kepribadian yang utama tetapi tidak menutup kemungkinan lingkungan juga bertindak sama dalam pembentukan kepribadian seseorang. Ketiga, faktor ekonomi. Di mana seorang yang berprostitusi merasa bahwa hanya itu yang bisa dilakukan untuk mendapatkan “sesuap nasi”, dan masih banyak lagi faktor- faktor yang mendukung terjadinya prostitusi atau pelacuran itu tercipta.

Walaupun kecaman dari segala aspek terhadap prostitusi telah cukup untuk memberikan peringatan keras terhadap para pelaku prostitusi, namun nampaknya hal tersebut tidak ada respon sedikitpun dari para pelaku prostitusi; yang ada prostitusi semakin marak dalam kehidupan kita sekarang.

Hal ini bukanlah  sesuatu  yang tabu lagi untuk dibicarakan dan bahkan permasalahan ini menjadi sesuatu yang sangat mendapat perhatian khusus karena munculnya berbagai dampak negatif dalam kehidupan masyarakat. Misalnya: Penyakit HIV/AIDS.

Kecaman Pemkot Kupang akan prevelensi HIV/AIDS memang beralasan. Antara tahun 2000- Juni 2017 terdata 1.129 kasus dengan rincian HIV sebanyak 783 orang dan AIDS 346 orang. Kemudian data terbaru pada bulan Juni 2018 ditemukan meningkat cukup signifikan, yaitu mencapai 1.323 kasus (http://kupang.tribunnews.com/2018/10/25/siapkah-kita-membubarkan-prostitusi-di-kota-kupang). Akan tetapi, apakah hal tersebut bisa menjadikan pelajaran agar para pelaku prostitusi itu jera? Pertanyaan inilah yang menjadi PR kita selaku generasi penerus bangsa.

 Kecintaan akan Nasib Prostitusi

Menurut istilah, prostitusi di artikan sebagai suatu pekerjaan yang menyerahkan atau menjual diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah sesuai dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya. Prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK).

Berlangsungnya perubahan-perubahan sosial yang serba cepat dan perkembangan yang tidak sama dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri dan mengakibatkan timbulnya disharmonisasi dalam masyarakat dan setiap individu. Ekspresi hidup yang tidak tepat terjadi akibat kekalutan kita dalam mengenal dunia yang baik. Salah satunya ekspresinya adalah prostitusi; ada untuk mempertahankan hidup di tengah-tengah hiruk-pikuk kemajuan dunia. Kecintaan akan nasib (amor fati) seperti ini tentunya terus mengiang dalam hati semua orang. Akan tetapi apa boleh buat? Semuanya telah terjadi dan untuk kembali pada sebuah situasi yang kita harapkan adalah sesuatu yang amat sulit.

Dalam kehidupan manusia, ekonomi adalah satu hal penting dalam keberlangsungan hidup, sehingga banyak orang melakukan apapun termasuk melacurkan diri. Padahal kegiatan prostitusi adalah sebuah kegiatan dimana masyarakat memandang hal tersebut melanggar nilai-nilai moral, di sisi lain kegiatan tersebut dapat ditolerir demi nilai ekonomi, karena hampir sebagian besar kegiatan ini bersumber dari kemiskinan. Rendahya pendidikan iman, takwa dan moral bisa dijadikan alasan semakin menjamurnya kegiatan prostitusi. Kita tidak boleh mengamini anggapan umum bahwa persoalan ini hanya terletak pada perempuan, tetapi di lain sisi banyak lelaki yang menfaatkanya.

Beberapa peristiwa sosial penyebab timbulnya pelacuran, antara lain: (a) Tidak adanya UU yang melarang pelacuran. Juga tidak ada larangan yang keras terhadap orang-orang yang melakukan relasi seks sebelum pernikahan. (b) Adanya keinginan dan dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks, khususnya di luar ikatan perkawinan. (c) Komersialisasi dari seks, baik dari pihak wanita maupun oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan pelayanan seks. (d) Dekadensi moral, merosotnya norma-norma susila dan keagamaan pada saat-saat orang mngenyam kesejahteraan hidup dan ada pemutarbalikan nilai- nilai pernikahan sejati. (e) Semakin besarnya penghinaan orang terhadap martabat kaum wanita dan harkat manusia. (f) Kebudayaan eksploitasi pada zaman modern ini, khususnya mengeksploitasi kaum lemah/ wanita untuk tujuan- tujuan komersil.

Di sisi lain, ada beberapa akibat yang di timbulkan oleh pelacuran, antara lain: (a) Menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit yang paling banyak terdapat ialah syphilis dan gonorrhoe (kencing nanah). (b)Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga. (c)Mendemoralisasi atau memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan khususnya para remaja pada masa puber. (e)Merusak sendi-sendi moral, susila, hokum dan agama. (f)Adanya pengeksploitasian manusia oleh manusia lain. (g)Bisa menyebabkan terjadinya disfungsi seksual.

Meretas Eksistensi Prostitusi dengan Kaca Mata Positif

Prostitusi merupakan masalah sosial sejak sejarah kehidupan manusia hingga sekarang. Usaha penanggulangannya sangat sukar sebab harus melalui proses dan waktu yang panjang. Usaha mengatasi tuna susila pada umumnya dilaukan secara preventif dan represif kuratif.

Usaha yang bersifat preventif diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan untuk mencegah terjadinya pelacuran, antara lain: (a)Penyempurnaan undang-undang tentang larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran. (b)Intensifikasi pendidikan keagamaan dan kerohanian, untuk menginsafkan kembali dan memperkuat iman terhadap nilai religius serta norma kesusilaan. (c)Bagi anak puber dan remaja ditingkatkan kegiatan seperti olahraga dan rekreasi, agar mendapatkan kesibukan, sehingga mereka dapat menyalurkan kelebihan energi. (d)Memperluas lapangan kerja bagi kaum wanita disesuaikan dengan kodratnya dan bakatnya, serta memberikan gaji yang memadahi dan dapat untuk membiayai kebutuhan hidup.  (e)Diadakan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga.

Sedangkan usaha-usaha yang bersifat represif kuratif dengan tujuan untuk usaha penyembuhan para wanita tuna susila sehingga kembali pada rel kehidupan yang benar, antara lain: (a)Melakukan kontrol yang ketat terhadap kesehatan dan keamanan para pelacur dilokalisasi. (b)Mengadakan rehabilitasi dan resosialisasi, agar mereka dapat dikembalikan sebagai anggota masyarakat yang susila. Rehabilitasi dan resosialisasi dilakukan melalui pendidikan moral dan agama, latihan kerja, pendidikan ketrampilan dengan tujuan agar mereka menjadi kreatif dan produktif. (c)Pemberian pengobatan pada interval waktu yang tetap untuk menjamin kesehatan dan mencegah penularan penyakit. (d)Menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yangbersedia meninggalkan profesi pelacur dan yang mau memulai hidup susila. (e)Mencarikan pasangan hidup yang permanen (suami) bagi para wanita tuna susila untuk membawa mereka ke jalan yang benar.

Akhir kata penulis mau mengajak para pembaca agar kita memiliki pandangan yang positif dengan prostitusi dan siap menerima kembali mereka dalam lingkungan hidup bersama. Memang ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, jika kita telah mengambil bagian dalam perhatian sosial ini, maka di sana telah ada kerinduan untuk berdamai dengan hidup mereka atau “kecintaan kita akan nasib mereka”, dalam bahasa penulis. Oleh karena itu, persoalan ini adalah PR terbesar bagi kita yang adalah generasi kekinian dan masa depan. Akan ke manakah?

*) Penghuni Wisma Skolastikat/ Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *