Beranda Headline Selamat Ulang Tahun Manggarai Timur

Selamat Ulang Tahun Manggarai Timur

592 views
0
Alfred Tuname, Penulis Buku "le politique" (2018) (Foto/Dok. Pribadi)

Oleh Alfred Tuname*

Sebagai kabupaten baru, tanggal 23 November menjadi hari yang “keramat” bagi orang Manggarai Timur (Matim). Itu tanggal terbentuknya Kabupaten Manggarai Timur. Semua cerita perjuangan awal politik, sosial-budaya dan ekonomi mendapat klimaks pada tanggal 23 November 2007.

Semua yang terlibat dalam dialektika pembentukan Manggarai Timur tentu saja kini berbangga. Bahwa Manggarai Timur telah berubah sejak terbentuknya hingga saat ini. Dalam prosesnya, pembangunan itu tidak berhenti, selama kabupaten itu ada.

Secara yuridis, sebelas  tahun sudah Kabupaten Manggarai Timur terbentuk. Di usia pertumbuhannya, usaha meminimalisasi dispartitas terus berlangsung. Dan itu tidak gampang. Semua pihak, baik pemerintah maupun swasta dan media, sedang berjuang menuju balance growth di Matim.

Balance growth yang dimaksud adalah pembangunan infrastruktur (fisik) yang disertai berimbangan akan pertumbuhan ekonomi dan sumber daya manusia. Bahwa sering kali terjadi anomali, pembangunan infrastruktur tidak berdampak pada perubahan kesejahteraan masyarakat setempat. Oleh karena itu, biar balance, kebijakan pembangunan itu mesti terintegrasi di semua sektor.

Sedikitnya, bukti pertumbuhan ekonomi Matim tercatat secara annual. Tahun 2008, APBD Matim hanya sekitar Rp 13 miliar; tahun 2016 APBD  sudah Rp 863 miliar dan tahun 2018 APBD sudah mencapai Rp 1 triliun lebih. Secara statistik (BPS), rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun sekitar 5,39%. Literaly, Itu berarti ada peningkatan kesejahteraan. Maknanya, ada perbaikan pendapatan per kapita masyarakat, kesehatan, pendidikan dan akses informasi.

Semua perubahan itu tentu tidak terjadi secara maraton. Bertahap tetapi berarti. Dasarnya adalah PAD. Tahun 2018, target PAD Matim sekitar RP 50 miliar, khususnya belanja modal. Angka itu tipis untuk mengdongkrak pembangunan daerah. Hanya sekitar 4,84% dari dana perimbangan. Derjat desentralisasi masih sangat kurang. Seperti kabupaten lain di NTT, ketergantunan dana perimbangan (DAU/DAK) masih sangat tinggi.

Oleh karena itu, tugas pemerintah daerah tidak saja berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia. Bahwa pembangunan infrastruktur  diarahkan pada penciptaan lapangan kerja. Fokus pada “value added” akan meningkatkan bargaining position daerah terhadap dana perimbangan.

Dengan begitu, jebakan paradoks desetralisasi terhindarkan. Paradoks yang dimaksudkan itu adalah bahwa pemerintahan desentralisasi sudah berjalan lama tetapi pemerintah pusat masih mengintervensi kebijakan daerah. Persis seperti memegang ular, kepalanya dilepas, tetapi ekornya masih dipegang.

Selebihnya, kebijakan reformasi birokrasi diarahkan pada pelayanan publik yang prima. Dalam sistem presidensial ada istilah “zaken kabinet”, boleh jadi di pemerintahan daerah perlu ada “zaken birokrasi”. Artinya, bukan saja penempatan birokrat disesuaikan dengan kemampuannya tetapi juga rasionalisasi terhadap pegawai-pegawai (THL) yang membebani anggaran daerah. Rekrutmen mesti didahalui dengan analisis beban kerja dan kapabilitas tenaga kerja. Birokrasi yang “gemuk” justru menjadi penghambat pembangunan itu sendiri. Thus  demi keadilan, dimensi kemanusiaan perlu dimasukkan dalam sistem “zaken birokrasi”.

Semuanya itu demi apa yang disebut dengan “good governance”. Konsep itu memang datang dunia asing tetapi  “pemerintahan yang baik” adalah harapan yang universal. Nilai universalitas dari good governance adalah keadilan. Yakni, semua warga wajib mendapatkan perlakuan dan akses yang sama. Tak ada lagi, mengutip filsuf Jacques Raciere, part and non-part. Semua orang masuk dalam “le Partage du sensible”: sama rasa atas kue pembangunan.

Pemerintah Matim sedang bergerak menuju ke sana: pembanguan yang berkeadilan. Konsep “Matim Seber”: Sejahtera, Berdaya dan Berbudaya, menjadi “rotor” pembangunan yang akan datang. Bahwa pembangunan itu mesti menimbulkan kesejahteraan, manusia yang berdaya dan identitas budaya yang kuat.

Ada resprokalitas dalam konsep “Seber” itu. Yaitu, identitas budaya yang baik (rajin, ulet, gotong royong, dll) bisa menjadi “etos” dalam proses pembangunan. Begitu juga kamampuan SDM yang baik akan meningkatkan kesejahteraan. Sistem dan etos kerja yang baik akan menghasil pembangunan Matim yang lebih baik.

Pemimpin terpilih Agas Andreas dan Jaghur Stefanus menjadi pemimpin yang diharapkan masyarakat untuk lima tahun yang akan datang. Mereka baru mulai memimpin Manggarai Timur. Dengan pengalaman sepuluh tahun di pemerintahan Matim, masyarakat pasti yakin, pikiran dan tenaga mereka akan membawa Manggarai Timur ke arah yang baik.

Di Ultah Matim 2018, dari semua bingkisan, kado terbaik masyarakat untuk Manggarai Timur adalah memilih pemimpin terbaik (:ASET); kado terbaik dari pemimpin terpilih untuk masyarakat Matim adalah keberanian untuk berharap lagi (audacity of hope) bahwa Matim akan lebih baik dan adil. Semua itu bisa karena pemerintahnya seber (:rajin) dan rakyatnya  juga seber. “Matim Seber”  karena semua pihak seber (:rajin).

Sembari menanti gebrakan dan kebijakan pemerintah Matim yang pro-growth and pro-people, mari kita rayakan ulang tahun Manggarai Timur dengan syukur. Syukur karena semua persoalan politik (Pilkada 2018) sudah dilewati dengan damai; syukur karena sudah ada pemimpin yang amanah.

Akhir, selamat ulang tahun ke- 11 Kabupaten Manggarai Timur. Seber terus. Cheers!

*)Penulis Buku “le politique” 2018

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here