Guru Pemersatu Bangsa

oleh
Yono Paing, CMF, Penghuni Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: Yono Paing CMF*

Peran dan keberadaan guru amat penting dalam konstelasi pendidikan di wilayah teritorial tertentu. Banyak sejarah dan perubahan yang telah dibidik melalui dunia pendidikan. Kerja keras para pendidik selama ini menunjukkan sesuatu yang membawa kehidupan baik bangsa dan negara kita Indonesia.

Jika kita menilik pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang berbunyi: “Pendidik atau guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.”

Dengan demikian, penulis melihat bahwa peran guru perlu dihayati sungguh-sungguh agar tercapainya sebuah harmonisasi kesejahteraan umum dalam dunia pendidikan dan bangsa.

Situasi perkembangan zaman dan peliknya kebobrokan politik menghadirkan persoalan hitam-putih yang kini merengsek dan mendesak masuk dalam lingkungan sekolah. Misalnya meningkatnya kasus-kasus intoleransi bahkan mulai dari pendidikan dasar, isu radikalisme agama yang membawa payung dan bendera keagamaan, ras dan budaya. Dan intoleran dan sektarian sungguh mencemaskan, tetapi hidup di bawah bayang-bayang paranoid bukan pilihan. Dinamika dan konflik harus disikapi dengan tenang agar polarisasi ini tidak semakin kencang. Suasana ini semakin carut-marut menjelang tahun politik 2019.

Dari persoalan ini penulis mencoba melihat peran guru dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di atas. Oleh karena itu, pertanyaan yang dapat dibuat penulis adalah “sejauh manakah peran dan komitmen para guru terhadap peliknya persoalan serta menjaga kesatuan bangsa Indonesia?”

Guru: Miniatur Bangsa

Dalam UU No.14 Tahun 2005 pasal 20 pemerintah memperbaharui tugas dan kewajiban dari seorang guru atau pendidik, yakni: “perihal profesional, guru berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran, bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik atau latar belakang keluarga dan status sosial, memelihara memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.”

Di sini jelas ada pembaharuan dan tambahan tugas bagi guru. Hal muncul karena adanya kebobrokan sosial yang tidak diharapkan. Pemerintah menilai bahwa salah satu tempat atau lembaga yang dapat menangani persoalan ini adalah lingkungan sekolah melalui para guru.

Kita jangan meragukan loyalitas guru terhadap tugas yang telah dipercayakan kepada mereka. Keterlibatan para pendidik dalam meretas persoalan intoleransi dan radikalisme tidak dapat abaikan begitu saja. Mereka telah menunjukkan suatu nilai kehidupan bangsa yang damai dalam lingkungan sekolah. Akan tetapi kita juga perlu mengakui bahwa tidak semua guru mendedikasikan diri sepenuhnya sesuai yang diharapkan bangsa. Dalam tubuh dan struktur organisasi guru dalam sebuah sekolah masi ada oknum-oknum tertentu yang berlawanan dengan gerak pendidikan di Indonesia.

Guru tidak hanya mengajarkan mata pelajaran yang mereka geluti, akan tetapi mereka juga memberi teladan bagi para murid dalam merangkul perbedaan serta mengajar nilai-nilai yang mengarahkan para murid untuk tidak memiliki mind-set dan action intoleransi dalam lingkungan sekolah.

Globalisasi telah merubah orientasi peserta didik sehingga menuntut perubahan metode sebagai pedagogi dari para pendidik. Proses pendidikan harus membantu peserta didik mampu menentukan sikap dan dirinya, yakni semakin terbuka dengan berbagai alternatif di tengah arus perubahan dan keberagaman sosial-kultural di masyarakat.

Dalam konteks ini, para pendidik atau guru menjadi salah satu senjata dalam memerangi persoalan yang ada. Pengalaman dan keteladanan para guru adalah dua aspek yang dapat ditawarkan kepada para murid di tengah arus globalisasi, intoleransi dan meningkatnya gerakan radikalisme di bangsa Indonesia.

Semangat para guru dalam mendidik para murid adalah keteladanan yang perlu juga dihayati semua warga negara Indonesia. Jika semua orang mengemban semangat ini, maka sikap intoleran dalam negara kita tidak akan pernah terjadi. Memang ini bukanlah sesuatu yang mudah seperti kita melempar batu.

Beban Guru vs Politik 2019

Selain mengajar, para guru juga disibukkan oleh pekerjaan yang bersifat admiinstratif, baik admistratif yang berhubungan langsung dengan pemebelajaran maupun administratif yang dari dinamika pmebelajaran. Pertama, administrasi pembelajaran, seperti KKM, RPP, Penyusunan Silabus, Standar Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti dan Dasar, kisi soal UTS dan UAS, Analisis Hasil Ulangan (AHU) dan Penelitian Alhlaq Siswa (PAS).

Kemudian hal lain yang menyibukan guru adalah administrasi semi pembelajaran seperti Ujian Kompetensi Guru (UKG), Guru Pemebelajar, Gerekan Literasi Sekolah (GSL), Pendalaman Kurikulum 2013, Program Tahunan Guru (PTG), Program Tahunan Semester, Prorgam Ekstakulikuler dan lain sebagainya.

Kedua,kesibukan para pendidik lainnya adalah administrasi non pembelajaran, misalnya Pemberkasan Tunjangan Profesi, Penilaian Kinerja Guru (PKG), Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Penilaian Angka Kredit, Penelitian Tindakan Kelas, Sistem Informasi Manajemen Kepagawaian, Jurnal Kegiatan Guru dan lain sebagainya.

Uraian di atas mau menunjukkan betapa sibuk para pendidik atau guru dalam dunia pendidikan yang mereka alami. Bukan sesuatu yang mudah untuk menjadi seorang guru profesional, namun seseorang butuh komitmen dan totalitas.

Tantangan lain yang tengah dihadapkan para guru atau pendidik adalah semarak pesta politik 2019. Kita telah melewati berbagai pesta politik dan situasinya semakin mengada-ada. Beberapa tahun terakhir bangsa Indonesia harus melewati situasi yang menegangkan akibat politik. Pesta politik yang paling dekat kita hadapi adalah pemilihan Prsiden dan wakil presiden 2019. Tentunya pada masa ini politik menghadirkan wajah ganda demi mendapatkan kekuasan.

“Aroma tak sedap” mulai tercium dalam menyambut tahun politik 2019. Begitu banyak politisasi dan polirisasi agama, konflik akibat politik identitas meruncing, kesukuan dan apa pun yang membuat masyarakat semakin terkotak-kotak. Untuk itulah daya kritis dan reflektif sungguh diperlukan dalam melihat berbagai fenomena yang kini membawa perpecahan dsn mengamcam persatuan.

Adanya ambiguitas dan wajah ganda media sosial dipakai para peternak politik yang ingin membakar emosi kolektif sehingga terprovokasi untuk mendukung berbagai kepentingan politisnya. Setiap hari kita dibombardir oleh aneka informasi (hoaks). Hal ini menjadi “alat” strategis yang dipakai bagi mereka yang ingin menggoyah persatuan dan ideologi bangsa kita, Indonesia.

Persoalan politik tidak hanya dikonsumsi di masyarakat, tetapi sudah menjadi realitas di lingkungan sekolah. Melihat kondisi ini penulis mencoba membuat sebuah pertanyaan motivasi. “Di manakah peran sekolah dan apakah guru masih mempunyai ruang?”

Peran guru amatlah penting dalam kondisi ini, apalagi sesuatu yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Pendidik perlu memperluas jaringan belajar dengan menggunakan berbagai sarana yang ada seperti internet, hp dan lain sebagainya agar para murid tidak terjerumus dalam dunia radikalisme dan politik yang memecah-belahkan bangsa Indonesia. Di sisi lain, para guru mendorong dan mengajarkan betapa pentingnya civil education. Melalui civil education pendidikan akan menciptakan pribadi yang mau berpartisipasi menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai warga negara dan turut berjuang demi kemajuan negara sehingga tidak masuk dalam ruang “politik hitam.”

Para guru adalah salah satu solusi yang dapat menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Penulis mengharapkan para pendidik akan menghadirkan kebaruan yang harmonisasi dan selaras dalam menghadapi pesta politik 2019.

*)Penghuni Wisma Skolatikat/Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta dan Alumni SMAK Frateran Santo Thomas Aquinas Weetebula, Sumba Barat Daya

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *