Beranda Headline Puisi-Puisi Melki Deni: Peluru Bibir Buka Dusta

Puisi-Puisi Melki Deni: Peluru Bibir Buka Dusta

635 views
0
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Puisi-Puisi Melki Deni *

 

Selagi Berdiri Di Bawah Siang

Dengan lapang hati beria egoisme

Senang sekali berteduh di atas taman maya

Meng-tuan-kan dia.

Tiada lagi pagi mekar tuk dikagumi siang,

Senja hanya berharap dengan keluh tak lelah,

Pada rerumputan yang kaku tertawa.

Anak manusia layu belia, saat embun hendak menjemput.

Di pagi itu sudah telanjang di maya

Poles diri dengan pakaian munafik

Reklame obral murah kian mengitari jagat

Pada bibir para ahli hikayat,

terucap produk gagal di era layar kaca.

 

Penculas Dalam Jejaring

Senja ditendang gaduhnya malam

Tubuh imajinasi ditampar tangan-tangan liar itu

Andai saja seonggok punggung ini bersayap satu

tiada apa-apa darahku?

Tuk terbangkan barisan kata terpenjara waktu

Berjaga saat dikau bertidur dengan lelap

rahasiakanlah penculas ini pada jejaring setia itu.

Pada tubuh nan baring di dalam jejaring bulan,

Tuk tahbiskan meterai rasa pusaka ,

pintu istana telah terpola.

 

Para Tikus Got Kota

“Harapan kita babak belur, pak!”

Panasnya goresan kumal bongkar satire pagi itu,

Suap menyuap kertas pada mulut para tikus got kota.

Moral terbui dalam cantiknya topeng nafsu.

Dan kita hanya berani bertempur dalam rana utopia.

Isak rintih tiada henti siang ini.

Pada mentari yang tak pernah segan berkidung keadilan seluruh.

Selimuti pemburuh jujur yang tengah berlumur,

Kita bisa apa tuk menyapa bangsa,

Boleh kita berutopia,

Datangnya Tuhan tuk menyapu noda pada tubuh para tikus got kota.

 

Mamaku: Jembatan Buatan Tuhan

Bunga-bunga api rintih bermekar ria

Takkan layu seusia bumi berziarah.

Tak pernah absen berpatroli ke rana diri,

Menyusu pada lagu-lagu syaduh,

Jiwaku memazmurkan elegi waktu,

mengasah puitisnya hidup,

bergempa tak  karuan,

Raut semakin tergambar mendung di siang terik,

Uletnya cinta masih amat belia,

Tiadalah upah pun ijazah balas semua.

 

Peluru Bibir Buka Dusta

Bermainlah dengan cermin, tubuh!

Bergairahlah.

Selidiki lukisan buana nan dikutuk menjadi fana

Coba intai impresi peluru-peluru bibir

“Sedikit saja yang jujur ‘kan?”

Dalam daging mengalir arus darah dusta,

“Kapan aku tahu aku ada dirajai waktu?”

Di depan cermin, silakan pel.

Jika masih tercium lalim,

Cungkillah!

 

Silentium

Kamar tidur ini,

Jadi bank keluh dari abadi ke abadi

Terusik dunia bergaduh gelisah

Belum kenal teduh atau tenteram dalamnya.

Bunga-bunga maut kian dekat hendak menjemput,

tubuh kita mau kembali ke debu

“Nun, kapan neraka bisa penuh?”

“Sampai semua rahim dusta mandul, nak!”

 

*)Nama pena dari Melkisedek Deni,  Mahasiswa STFK Ledalero, berasal dari Reo-Manggarai. Penulis lepas di beberapa media cetak dan media online.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here