Cerpen Hilarius Darson: Bahagia Di Ujung Tahun

oleh
Ilustrasi (Foto:Istimewa)

Oleh Hilarius Darson*

Semua rumah telah dihiasi kerlap-kerlip lampu natal. Lantunan lagu natal pun terdengar dari rumah tetangga kami. Di perempatan jalan masuk kampung ini, tempat biasa perkumpulan orang-orang sudah dibuatkan kandang natal yang beratapkan alang-alang. Kampung kecil kami ini telah menebarkan pesona natal yang nyalar dinantikan oleh semua orang. Ingin rasanya natal tahun ini kami rayakan bersama dia yang selalu dirindukan. Tetapi apalah daya sampai sekarang tak ada kabar tentangnya.

“Semoga kakakmu menelpon kita nanti di hari Natal nak”. Kalimat inilah yang keluar dari mulut ibu.

“Ia bu, aku sangat mengharapkan hal itu terjadi”. Itu Jawabanku terhadap pembicaraan ibu di kala itu.

Ibu berkata demikian, mungkin karena selama ini ibu mendengar banyak perantau yang sudah kembali untuk merayakan natal di kampung. Sehingga ibu jadi ingat pada kakaku.

Memang perantau selain kakakku di kampung ini, selalu seperti itu. Mereka selalu menyempatkan diri untuk merayakan natal bersama keluarga, untuk melepas rindu mereka yang sudah tersimpan lama.

Kami sekeluarga sangat merindukan dia. Sosok seseorang yang ada dalam foto yang masih tergantung di dinding ruangan tamu. Dia adalah kakakku satu-satunya. Ia sudah lama merantau ke negri asing.

“Mengapa kakak tidak seperti kakak Tian, pulang seiap tahun dan bahkan dua kali setahun?”. Aku bengong dan menopang dagu  memikirkan itu di tempat dudukku.

Aku, ayah dan ibu sekarang sangat merindukan natal bersama kakakku. Sudah lima belas tahun ia di sana. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Aku tidak tahu seperti apa dia sekarang. Dia juga tidak tahu seperti apa keadaan orang tua  kami yang sudah memasuki usia senja. Dan seperti apa aku yang dia tinggalkan sejak aku berusia lima tahun.  Ia jarang memberi kabar kepada kami.  Kabar yang kami terima tentang dia sudah  dua tahun yang lalu.  Aku, ayah dan ibu sangat merindukannya. Lebih dari itu juga, kami sangat kwatir karena selama ini kami sering mendengar berita tentang orang yang meninggal  di tanah rantau.  Kami takut akan  hal itu terjadi padanya.

Setiap malam ayah dan ibu selalu berdoa Supaya Tuhan menuntun kakakku itu untuk berhenti tinggal di negri asing. Kalau pun dia tidak berhenti tinggal di sana, setidaknya ia memberikan kabar tentang dirinya. Inilah yang selalu kami harapkan kepadanya.

“Nak, semoga dia menelpon kita nanti di waktu natal” kalimat inilah yang dilontarkan oleh ayah dengan harapan yang pasti. Natal di tahun-tahun sebelumnya, kakakku memang selalu menelpon kami. Mungkin karena pengalaman itu ayah pun berharap demikian. Aku menjawab, “iya ayah, semoga doa dan harapan kita selama ini terwujud di penghujung tahun ini! Kita tetap selalu mendoakannya”. Ibu pun menyambung pembicaraan itu dengan berkata, “Iya nak”. Ibu meneteskan air mata. “Semoga  Tuhan mendengarkan doa dan harapan kita untuk kepulangan kakakmu”.  Lanjut pembicaraannya.  Melihat ibuku yang  sudah berkulit keriput itu menangis,  hatiku terasa sangat perih. Aku tidak ingin melihat ibuku yang sudah tua, menangis seperti anak kecil. Aku jadinya ikut menangis.

Sang mentari tidak bersinar lagi di kampung kami. Lantunan lagu natal dari rumah tetangga kami tidak terdengar lagi.  Handphone-ku yang kulepaskan di meja ruangan tamu berdering. Ayahku yang  sedang duduk di dekat handeponeku itu tidak menerima telpon itu. (Maklum ayahku gaptek). Ayah memanggilku yang sedang berada di dapur untuk menerima telpon itu. Di meja itu signalnya tidak lancar. Aku membawa Handeponeku ke salah satu tempat di rumah kami yang signalnya lumayan bagus. “Siapa yang menelponku?”. Dalam hatiku. Aku melihat, nomor panggilan masuk itu nomor baru. Aku langsung menerima telpon itu”

“Halo”,  aku menyapanya dalam telpon itu.

“iya halo, maaf, ini dengan siapa?  Dengan suara yang lantang dan hendak memastikan apakah itu aku atau bukan.

“Ini dengan Arman Pak”. Aku menjawab pertanyaannya!

“Terima kasih banyak Tuhan, ternyata benar ini Adikku”. Mendengar ucapannya itu. Aku bertanya padanya, dengan harapan yang besar dalam hati. “Apakah ini dengan kakak Anton?”. “Iya adikku sayang, aku sangat merindukan kalian”. Ia sangat senang karena yang menerima telpon adalah aku adiknya. Aku juga tentunya sangat senang.

Mendengar aku menyebut nama kakak Anton, ayah yang sedang duduk di kursi empuknya bergegas mendekatiku yang sedang berbicara dan sambil mencari signal yang lebih bagus. Maklum di kampung kami mencari signal itu setengah mati seperti mencari jarum yang sudah patah.

Ternyata ibu juga yang sedang mengurus makanan babi  di dapur mendengar aku yang menyebut nama kakakku itu. Ibuku segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas ke arah aku dan ayah yang sedang berbicara.

Aku sangat senang. “Ternyata Tuhan mendengarkan doa kami selama ini kak”  Inilah yang aku lontarkan kepadanya.

Ayahku hendak mengambil Hp itu untuk segera berbicara dengan kak Anton. Tetapi aku berkata “Jangan  ayah, di sini yang signalnya bagus”. Ayah pun berpindah tempat. Ia memegang HP dan berbicara tanpa mengubah posisi berdirinya. Supaya signalnya tidak hilang. Ibu dan ayah pun berbicara seakan-akan saling berebutan.

Kami tidak pernah menduga. Ternyata malam itu membawa kabar bahagia bagi kami sekeluarga. Bukan hanya kabar tentang kelahiran Tuhan Yesus keeesokan malamnya. Kelahiran Tuhan Yesus besok malam itu sudah terpikirkan sebelumnya. Tetapi yang tidak pernah kami pikirkan adalah kabar tentang orang yang kami rindukan selama ini yaitu orang yang menelponku itu. Bahwa Besok sore Ia akan tiba di kampung.

Kebahagiaan Kami malam itu hampir saja melupakan makan malam. Ibu yang selalu menyediakan makanan bagi kami. Seakan-akan merasa kenyang dengan mendengarkan kabar yang membahagiakan itu.

“Ternyata Tuhan mendengarkan doa-doa kita selama ini. Tuhan memberikan lebih dari apa yang kita harapkan”. Harapan besar ayah dan ibu selama ini, sebatas kakaku menelpon kami di hari natal. Ternyata Tuhan memberikan lebih dari itu. Tuhan menuntun Ia untuk bersamaku dan menemani usia senja ibu dan ayah.

Sambil memeluk bantal gulingku di tempat tidur, aku berpikir “apakah kakak anton besok langsung mengenalku?” Aku penasaran sekali dengan dia. “Seperti apakah tampang orang yang sangat kami rindukan itu?” pertanyaan ini sudah muncul dalam pikiranku. “Besok semua pertanyaan orang-orang di kampung ini tentang kakakku akan terjawab. Mereka semua pasti kaget melihatnya”. Yang aku pikirkan malam itu.

Betapa bahagia atas kepulangan orang yang sangat kami rindukan. Rindu yang kami simpan selama belasan tahun  terobati tanpa terduga di ujung tahun ini. Pesta natal yang dinanti- nantikan kini dirayakan bersama dengan kakaku. Natal tahun ini akan bergaung beda dengan natal sebelumnya. Natal yang melahirkan kenangan baru bagi kami sekeluarga.

*)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra di STKIP St. Paulus, Ruteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *