Beranda Profil Kisah Pengembaraan Hidup Seorang Ayah

Kisah Pengembaraan Hidup Seorang Ayah

366 views
0
Ilustrasi (Sumber foto: Aren Indonesia – WordPress.com)

Oleh : Kamsudin Ridwan, M.Pd*

Di sebuah kampung terpencil, kampung yang tandus dan gersang, penuh batu karang, di rumah peot sederhana yang beratapkan daun alang-alang dan berdinding daun lontar. Di sinilah tempat sang ayah dilahirkan dan dibesarkan, di sinilah tempat sang ayah dibaringkan, di sinilah sang ayah hidup dan mempertahankan kehidupannya bersama seorang nenek tua yang adalah ibu kandungnya.

Kampung itu bernama kampung Kerak Belowa (Kukuwerang). Ayah yang semenjak kecil sudah menjadi yatim, kira-kira berusia tiga tahun, yaitu pada tahun 1956 sudah ditinggal mati ayah kandungnya. Meski harus merasakan hidup hanya dengan belaian kasih sayang seorang ibu, sang ayah tetap tegar dan kuat menghadapi kenyataan ini, ayah tumbuh dan berkembang menjadi orang yang mandiri, ulet dan pekerja keras.

Semenjak kecil, pekerjaan sehari-hari sang ayah adalah pekerja kebun dan hodda tuak (naik pohon lontar untuk buat arak manis). Ayah dengan tekun melakukan pekerjaan hariannya itu demi untuk menghidupkan kebutuhan bersama sang ibunya.

Sampailah pada tahun 1960, saat itu ayah telah berusia tujuh tahun. Ayah mulai mengenyam pendidikan, ayah mendaftar dan masuk sekolah di Madrasah Wajib Belajar (MWB), yang sekarang dikenal dengan sebutan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di kampung Bererin Kukuwerang, yang letaknya kurang lebih kira-kira dua kilometer dari tempat tinggal ayah.

Sehari-hari, setiap pagi ayah harus bangun pagi-pagi, sebelum berangkat ke sekolah, ayah harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan bersama ibunya. Ayah berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Setelah pulang sekolah, ayah harus bergegas dan segera pulang ke rumah untuk menemani sang ibu. Waktu terus berberjalan, sampailah pada tahun 1966 sang ayah menamatkan sekolahnya di Madrasah Wajib Belajar (MWB).

Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Wajib Belajar (MWB), sang Ayah tidak langsung melanjutkan pendidikannya, namun sang Ayah harus tertahan/berhenti empat tahun lamanya baru sang Ayah memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Guru Agama (PGA) Lamakera. Saat itu tahun 1970, sehari-hari Ayah dan teman-temannya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki kurang lebih tiga sampai empat kilometer, di PGA inilah Ayah belajar kira-kira dua tahun lamanya, pada tahun 1972 sang Ayah memutuskan harus berhenti dari sekolahnya. Ayah berhenti bukan karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolahnya namun karena pada tahun 1972 itu, sang nenek tercinta (ibu kandung sang ayah) jatuh dan sakit.

Sementara itu, teman-teman ayah mereka terus melanjutkan sekolahnya sampai tamat PGA empat tahun di Lamakera dan selanjutnya mereka memutuskan melanjutkan pendidikan mereka di PGA lain, ada yang ke Kupang, dan ada pula ke tempat yang lain. Mereka rata-rata sukses; ada yang yang menjadi guru, ada yang menjadi pegawai tata usaha.

Pada tahun 1975, Ayah memutuskan untuk menikah dengan kekasih pujaan hati pilihan sang ibunya yang bernama Uba Geroda yang berasal dari suku Apelame Be’la dari kampung Kiwangebang. Dari pernikahan itu lahirlah empat orang putra. Putra pertama lahir pada tahun 1976 dan hanya bertahan dalam usia satu bulan saja kemudian meninggal dunia. Selang tiga tahun kemudian, lahirlah putra kedua yang bernama Muhajir Ridwan, lahir pada tahun 1979 tepatnya di kampung Kiwangebang. Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1982 lahirlah putra yang ketiga yang diberi nama Kamsudin Ridwan. Menyusul tiga tahun kemudian, tahun 1985 lahirlah putra keempat yang merupakan putra bungsu yang diberi nama Jumat Ridwan.

Semenjak tahun 1985 Ayah sering pulang pergi Solor – Adonara (dua pulau kecil yang berdekatan). Tujuan Ayah ke pulau Adonara adalah tiada lain untuk mencari kehidupan. Saat itu ayah ke Adonara Barat, tepatnya di desa Wewit. Di sanalah tempat Ayah mulai mencari mata pencaharian. Sehari-hari pekerjaan ayah adalah panjat kelapa (petik kelapa) milik masyarakat setempat, hampir setiap hari masyarakat di sekitar itu datang ke rumah meminta ayah untuk memetik kelapanya. Dari hasil petik kelapa inilah ayah diberi upah berupa uang.

Pada tahun 1996 ayah memutuskan untuk menetap di pulau Adonara, tepatnya di kampung Koke desa Wewit Kecamatan Adonara Barat. Dengan berbekal sebidang tanah yang diberikan warga setempat untuk dihuni sementara, ayah membangun sebuah pondok kecil berdinding bambu. Saat itu saya bersama kakak saya (Muhajir) berangkat ke pulau Lombok (Pancor) Propinsi Nusa Tenggara Barat untuk melanjutkan sekolah setelah menamatkan pendidikan saya di SDN Tanah Werang Kecamatan Solor Timur. Di gubuk kecil itu, tinggalah seorang adik bungsuku (Jumat) bersama ayah dan ibu.

Sehari-hari ayah terus menikmati pekerjaan rutinnya dengan ditemani sang istri tercinta. Mereka berdua tak mengenal letih dan lelah sedikit pun. Dari raut wajah mereka berdua terpancar naiatan nan tulus untuk terus bekerja dalam mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ayah terkenal sebagai sosok laki-laki pekerja keras dan ulet. Saya masih teringat dengan prinsip atau motto yang sering ayah perdengarkan kepada kami ketika saat hendak memberikan nasihat kepada kami, “jadilah petani, petani yang berilmu dan jadilah kuli, kuli yang berakal”. Motto inilah kemudian menjadi spirit bagi sang ayah untuk terus bekerja dan meningkatkan kapasitasnya.

Pengalaman ayah dalam pengembaraannya di pulau Adonara, terutama dalam hal panjat-memanjat kelapa dan mengolahnya menjadi kopra patut diacungkan jempol. Ayah cukup mahir dalam melakukan pekerjaan tersebut. Mengapa demikian? Kenapa tidak? Karena kalau dihitung sejak tahun 1985 sampai dengan tahun 2016, maka pengembaraan ayah dalam melakukan panjat kelapa dan mengolah kopra kurang lebih selama 31 tahun.

Tak terasa kini usia ayah semakin menua. Ayah yang dulu berbadan kekar dan bertubuh kuat itu, kini keriput dan lemah. Tidak seperti dulu di saat mudanya, ayah begitu gesit dan lincah dalam urusan panjat-memanjat kelapa dan mengolah kopra. Dalam satu hari ayah bisa panjat kelapa mencapai seratus pohon. Saat ini ayah tidak sanggup lagi melakukan hal itu. Saat ini ayah menikmati masa-masa tuanya di kampung. Sejak tahun 2016 lalu ayah memutuskan  untuk kembali ke kampung dan menetap di sana, kampung dimana tempat ayah dilahirkan dan dibesarkan.

Berbekal sebuah rumah sederhana yang dibangun oleh putranya maka kini ayah dan ibu menetap di kampung halaman (kampung Solor), kampung yang dikenal dengan tanahnya yang tandus dan gersang. Namun di sinilah kami semua dilahirkan dan dibesarkan. Di sinilah masa-masa kecil kami, masa-masa kami bermain ketika saat pulang sekolah, dan di sinilah masa-masa kecil kami, kami habiskan untuk berkebun bersama orang tua. Teringat kembali masa-masa lalu kami, ingin rasanya waktu itu terulang kembali namun semua itu telah berlalu. Kini tinggalah kenangan yang hanya untuk diingat kembali.

Ayah telah banyak memberikan pengalaman berharga kepada kami, ayah telah banyak mengajarkan kami arti sebuah kehidupan. Pahit dan manisnya perjalanan hidup bersama sang ayah telah kami lalui. Semua itu menjadi pembelajaran untuk menata masa depan yang lebih baik. Masa depan yang penuh misteri dan tantangan. Ada  satu prinsip yang sering ayah sampaikan kepada kami saat  memberikan nasihatnya, ”ciptakan generasi yang berlainan dengan zamanmu”. Ungkapan ini mengandung maksud bahwa perkembangan zaman terus mengalami perubahan, maka untuk menghadapi zaman yang berlainan itu, diperlukan generasi penerus yang mampu bertahan hidup di zamannya.

Kini sehari-hari ayah melepaskan masa tuanya dengan bekerja kebun. Kebun kecil itu berada persis di belakang rumah dan mengelilingi rumah. Di kebun itu ditanami jagung. Ayah yang dari dulu terkenal ulet dan pekerja keras itu, bagi ayah tidak ada waktu untuk berdiam diri walau usia semakin tua namun semangat ayah untuk bekerja terus berkobar. Pekerjaan ayah sehari-hari adalah hanya bersihkan rumput dan tidak lupa salat lima waktu sehari semalam sebagai amal, bekal untuk menghadapi Sang Khaliq di akhirat kelak.

Sungguh begitu banyak jasa yang telah ayah  torehkan buat keluarga. Semua perjuangan dan pengorbanan ayah patut menjadi contoh dan teladan bagi orang tua lainnya. Sebagai seorang anak, saya patut berterima kasih kepada sang ayah yang telah berjuang dengan bercucuran keringat demi kebahagiaan masa depan anak-anaknya. Saya tidak akan bisa membalas semua jasa yang telah ayah torehkan, hanya rangkaian bait-bait do’a yang kami panjatkan, semoga ayah dan ibunda tercinta diberikan kesehatan dan panjang umur oleh Yang Kuasa. Amin Yaa Rabbal A’lamin.

Kamsudin Ridwan

*) Wakil  Ketua  IGI  Flotim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here