Beranda Headline Pemilu: Tidak Hanya Hasrat Mendapatkan Jabatan dan Kekuasaan

Pemilu: Tidak Hanya Hasrat Mendapatkan Jabatan dan Kekuasaan

311 views
0
Dionisius Ngeta (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: Dionisius Ngeta*

Kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang dihelat setarikan nafas dengan Pemilihan Calon Legislator (Pileg) sudah  menyita perhatian dan energi kita. Tanggal  17 April 2019 bukan hanya saat yang dinanti untuk memilah dan memilih Presiden, wakil presiden dan calon legislator tapi merupakan momentum sejarah untuk memastikan kualitas, marwah dan keadaban politik dan demokrasi, calon pemimpin dan legislator. Pemilu sebagai perhelatan akbar demokrasi Indonesia dimaknai sebagai keseluruhan pola pikir, tindakan dan kerangka nilai yang berorientasi pada kedaulatan rakyat, demikian Paul Budi Klenden (VOX Edisi II, 2008).

Ajang akbar tersebut adalah peluang bagi masyarakat untuk menentukan siapa calon presiden dan legislator yang memiliki totalitas pemikiran, visi dan strategi yang sungguh didambakan masyarakat. Presiden dan legislator terpilih harus mampu menorehkan sejarah dan menghasilkan prestasi fenomenal lalu tercatat sebagai pribadi dan lembaga  yang patut dikenang. Polarisasi dukungan masyarakat yang terbelah sebagai konsekwensi Pemilu harus bisa dikelola. Menjaga kebersamaan, sprotifitas dan kejujuran adalah imperatif moral demi keadaban politik dan demokrasi serta demi keutuhan NKRI.

Adu Visi dan Strategi

“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader” (John Quincy Adams). Seorang pemimpin akan selalu menginspirasi orang yang dipimpinnya untuk bermimpi lebih besar, belajar lebih banyak, bekerja lebih keras, dan ingin masyarakatnya menjadi lebih baik/lebih sukses. Dan ini hanya dipunyai oleh pemimpin yang memiliki visi, yang selalu memancarkan harapan masa depan yang lebih baik kepada rakyat yang dipimpinnya. Ken Blanchard mengatakan; “Leadership begins with a clear vision”. Seorang pemimpin yang tidak mempunyai visi yang jelas hanya menjadi seorang yang penuh kebimbangan dalam melangkah. Ia juga tidak bisa memfokuskan sepenuhnya daya dan upaya ke arah yang benar untuk meraih yang terbaik bagi kepentingan masyarakat.

Selain memilik visi, seorang pemimpin juga harus memiliki strategi. “Dengan strategi yang tepat di tangan, anda menjadi lebih percaya diri” (pepata klasik). Strategi sangat menentukan kualitas seorang pemimpin dalam menunjukkan arah dan jalan bersama rakyat ke tempat yang menjanjikan, yang lebih baik dari sebelumnya. Siasat, skema, grand formula atau cara yang di dalamnya berisi taktis, skala prioritas dan operasional adalah jalan untuk mencapai tujuan.  Khonghucu, ketika ditanya apa yang ia inginkan dalam timnya. Ia menjawab: “Saya tidak ingin mempunyai orang yang bisa bertarung melawan Harimau dengan tangan kosong, dan tidak ingin membawa orang yang katanya bisa menyeberangi sungai tanpa menggunakan perahu. Saya ingin membawa orang yang bisa bertindak dengan hati-hati dan bisa menggunakan strategi dengan tapat dan meraih sukses”.  Strategi itu ibarat sebuah kendaraan yang tepat dan mampu menghantar masyarakat ke tempat tujuan yakni kadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Selain menjadi jembatan yang menghubungkan dan menjadikan visi terealisir, strategi juga merupakan sarana untuk membantu melihat dan menangkap setiap kesempatan agar tidak kehilangan momentum emasnya.

Meperkuat  Kebersamaan

Kebersamaan adalah rahim yang mengandung dan melahirkan eksistensi dan aktivitas/praksis politik. Politik lahir dari sejarah dan keseharian hidup manusia. Karena itu politik merupakan aktivitas manusia, terjadi dalam kehidupan bersama dengan manusia dan memiliki tujuan untuk kepentingan manusia, demikian Aristoteles. Dalam kebersamaan itu, manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk sosial dan makluk polis (zoon politikon). Kodratnya sebagai makhluk sosial dan makhluk polis diungkapkan dalam kebersamaan (communio) dan dalam kebersamaan itu pula tujuan politik bisa tercapai.

Pemilu merupakan aktivitas kebersamaan. Sebuah aktivitas yang melibatkan manusia, dengan tujuan untuk kepentingan manusia yakni kebaikan bersama. Dalam konteks ini, Pemilu bukan sebuah pertandingan para elit politik dan partai untuk sebuah kemenangan tetapi sebuah kontestasi bersama untuk  sebuah kepentingan bersama. Bagaimana dan apapun selebrasi politiknya,  nilai dan kultur kebersamaan harus tetap dijaga agar tidak tercabik-cabik oleh nafsu untuk memperoleh kemenangan dan kekuasaan. Kemenangan bukan tujuan dari sebuah kontestasi politik tetapi hasil dari sebuah perjuangan dalam kebersaman sebagai makhluk sosial dan makhluk polis. Semua kontestan tentu sudah berjuang maksimal. Apapun hasilnya, setiap partai, kandidat dan tim pemenangan/relawan tentu memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa untuk menerima dan siap menang atau kalah. Karena kalah-menang tidak ada yang abadi.Kalah menang bisa datang dan kemudian pergi. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, (pepata klasik). Siapapun atau kandidat mana pun yang menjadikan kalah atau menang sebagai tujuan maka ia sedang menjalani hidup yang palsu. Sejatinya, Pemilu bahkan hidup ini bukanlah soal kalah atau menang. Pemilu dan hidup ini adalah sebuah pertandingan yang membutuhkan kebesaran hati dan kekuatan  jiwa demi bonum commune. Tak perlu takut saat kalah tapi tak perlu sombong saat menang. Kita tidak bisa menang, kecuali jika kita belajar bagaimana untuk kalah.

Meningkatkan Sportivitas

Dalam Piala Dunia tahun 2014, Kroasia memang akhirnya kalah. Namun dunia mencatat  bahwa mereka memiliki sportivitas yang tinggi. Kroasia meraih kemenangan moral, kemenangan tertinggi dalam persaingan! Sportivitas memang pahit karena ia mengharuskan kita untuk lebih menjunjung etika dan moral daripada hasil kemenangan. Muara sportivitas adalah keluhuran nilai. Etika dan moral mengorientasikan manusia pada proses menemukan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kepantasan. Dalam persaingan, etika dan moral menuntut kita untuk mengutamakan martabat dalam meraih kemenangan. Karena itu, orangtua kita mengatakan, “Untuk apa menang, sukses, dan kaya raya jika kamu tidak terhormat?”

Filsuf peraih hadiah Nobel, Albert Camus, menyebut sportivitas sebagai nilai yang membangun karakter manusia, tak ada hubungan secara langsung dengan kekalahan dan kemenangan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan. Sportivitas mengutamakan proses, mengajarkan manusia untuk menemukan nilai-nilai ideal berupa keadilan yang bermuara pada martabat. Saling menghormati lawan menjadi keniscayaan dalam membangun demokrasi yang bermartabat.

Mewujudkan Kejujuran

Kejujuran dalam politik adalah peradaban baru yang mesti diwujudkan. Kejujuran dapat memberikan keselamatan bagi semua. Kemenangan yang diraih dengan kejujuran akan lebih memberi ketenangan. Tidak semestinya rakyat ditipu lagi oleh fatamorgana yang tidak pasti sehingga mereka salah memilih pemimpinnya sendiri.

Memang tidak mudah menghadirkan kejujuran dalam politik karena kita hari ini umumnya telah terlanjur memahami politik sebagai wilayah abu-abu. Wilayah yang penuh ketidakjelasan. Kebenaran sejati tidak mungkin ditemukan. Oleh karenanya politisi yang bersih dan peduli mestinya bertekad untuk melakukan perubahan terutama menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, sporitivitas dan kejujuran sebagai kultur dan peradaban baru dalam berpolitik. Basis persaingan harus dikembalikan pada visi, misi, dan strategi. Elite politik mestinya menjadi agen kebudayaan, bukan sekadar menjadi pemburu kemenangan dan kekuasaan yang mengorbankan kebersamaan, sportivitas dan kejujuran.

*) Staf YASBIDA Maumere

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here