Beranda Headline VA dan Maria Zaitun: Mencari 80 Juta Cinta

VA dan Maria Zaitun: Mencari 80 Juta Cinta

516 views
0
Albert K. Efendi. (Foto/dok/pribadi)

Oleh: Albert K. Efendi

……

Maria Zaitun namaku,
pelacur yang sengsara
kurang cantik dan agak tua…

Penggalan Puisi buah cipta WS Rendra di atas mengingatkan ku akan seseorang… dan hebatnya seseorang itu adalah artis cantik nan rupawan. Hmmm. Apa pasal? Ini dia!

Hampir seantero Nusantara digemparkan oleh berita penanangkapan seorang artis berinisial VA di sebuah hotel di Surabaya beberapa hari yang lalu. Artis tersebut diduga terlibat bisnis prostitusi online, sebuah varian digital dari bisnis tertua yang pernah ada di muka bumi, bahasa jalanannya ‘bisnis lendir’. Berita ini sontak menjadi viral dan melahirkan aneka reaksi dan aksi kreatif jagad dunia maya.

Mayoritas reaksi adalah hujatan, hinaan dan cercaan dengan berbagai gaya. Di sisi lain, peristiwa ini juga merahimi begitu banyak aksi kreatif, mulai dari munculnya meme-meme lucu tentang VA, candaan ‘bernilai’ 80 juta, tentang daleman ungu yang ditahan dan membiarkan pemiliknya melengos cantik tanpa celana dalam dan aneka karya kreatif lainnya yang kebanyakan mengundang gelak. Ahayyy…

Lalu, saya mau apa dengan kisah ini? Ikut menghakimi? Ikut membuat meme baru? Atau terinspirasi mencari 80 juta juga?? Tidak ada dari antara pilihan di atas yang saya embat, soalnya saya tidak memiliki keahlian-keahlian itu. Rasa-rasanya saya hanya bisa menjadikan kisah Non VA ini sebagai bahan refleksi saja, mumpung yang ini tidak akan mengundang kontroversi.

Dan…saya membuka kembali ingatan saya tentang seorang perempuan pelacur bernama Maria Zaitun yang menjadi ‘tokoh kitanya’ puisi Nyanyian Angsa karya WS Rendra. Sebuah kisah kehidupan besar dan unik tersembunyi indah di baliknya. Alkisah, seorang wanita, Maria Zaitun, pelacur yang sudah agak tua memulai petualangan baru dalam hidupnya.

Maria dihadapkan pada keyataan bahwa ‘karirnya’ mesti diakhiri. Segala yang ia punya sebagai modalnya untuk bekerja telah habis. Ia terkena hukum alam yang mengatakan: ‘neraka bagi wanita yang hanya mengandalkan kecantikan fisik adalah hari tua.” Ia terpaksa pergi dari dunia yang pernah memberinya nafkah hidup. Namun, masalah yang muncul adalah ia tidak tahu apakah ada orang yang masih mau menerimanya. Seorang mantan pelacur yang sampai kapanpun akan dipandang sebagai orang berdosa. Dunia sudah menghukumnya tanpa pengadilan.

Sipilis membakar tubuhnya. Penuh borok di tubuhnya….
Sakit jantungnya kambuh pula.

Ia pegi ke beberapa tempat dengan harapan diterima di sana. Mula-mula Ia Ke Dokter lalu menghadap Pastor. Apa lacur, di dua tempat ini ia mendapat perlakuan yang tidak ia harapkan. Lagi-lagi ia ditolak. Ia dianggap telah berdosa dan hampir tidak ada kesempatan lagi untuk kembali seperti kehidupannya yang dulu. Kenyataan bahwa ia menjadi pelacur karena terdesak kemiskinan dan gagal mencari kerja tidak dipedulikan orang. Maria Zaitun makin merana.

Ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana untuk mencari sedikit saja kedamaian. Dokter fisik dan rohani semua menolaknya. Maria Zaitun lesu tak berdaya. Ia tidak bisa lagi menangis, tak bisa bersuara. Lapar, haus, sakit dan banyak rasa lain yang bercampur menjadi satu. Ia melangkah gontai ke luar kota, persis sang Putra yang memanggul salib menjemput kematian yang menungguNya di luar kota Yerusalem.

Dalam situasi seperti ini, Maria Zaitun memilih pasrah. Ia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada diri dan hidupnya. Ia hanya membayangkan lagi masa-masa indah saat ia masih remaja di kampungnya ketika dunia pelacuran belum merenggut kebahagiannya.

Dan terjadilah apa yang tidak ia duga.

Seorang lelaki datang dari seberang kali. Ia berseru, “Maria Zaitun, engkaukah itu?
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan. Lelaki itu menyeberang kali. Ia tegap dan elok wajahnya. Rambutnya ikal dan matanya lebar. Maria Zaitun berdebar hatinya. Ia seperti pernah kenal lelaki itu. Entah di mana.
…..
Lelaki itu membungkuk dan menciumnya….
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandanga kepadanya. Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar. “siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya. “mempelai,” jawabnya. “lihatlah. Engkau melucu.”

Dan sambil berkata begitu Maria Zaitun menciumi lelaki itu.
Tiba-tiba ia berhenti. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri. Di dua tapak tangan. Di dua tapak kaki.

Maria Zaitun pelan berkata: “Aku tahu siapa Kamu.” Lalu menebak lelaki itu dengan pandangan matanya. Lelaki itu menganggukan kepala: “Betul. Ya.”

Kisah Maria Zaitun happy ending. Kepasrahan pada Tuhan pemilik kehidupan telah menghantarnya kepada pemilik damai itu. Ia menemukan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya meski orang-orang di sekitarnya menolak, memusuhi bahkan membuangnya. Ia tetap berharga di mata Tuhan meskipun ia adalah seorang pelacur tua yang sakit dan hampir mati (tetapi sudah BERTOBAT!).

Lalu, total serupakah kisah Maria Zaitun dan VA?? Tentu saja tidak. Tokoh Mariaku adalah seorang pelacur yang tercebur dalam di dunia yang sebenarnya bukan impian masa kecilnya. Sementara itu, yang saya tahu sementara ini, VA jusru menceburkan diri ke dunia yang gelap menurut penilaian orang banyak tetapi ‘enak’ menurut dia dan jutaan lain di bawah kolong langit ini. Hanya VA dan Tuhan dan mungkin setan yang tahu bagaimana ceritanya sampai ia terjebak di dunia ‘bisnis nikmat’ itu.

Namun, ada banyak yang sama dari kisah kedua anak hawa ini. Keduanya sama-sama dihukum tanpa pengadilan oleh dunia nyata maupun maya. Di hadapan keduanya, banyak orang langsung memposisikan diri sebagai hakim, orang yang ‘tidak berdosa’, orang yang layak mencerca, orang yang pantas ‘melemparkan batu’ kepada wanita yang kedapatan berzinah kurang lebih 2000 tahun silam di dalam kisah Kitab Suci.

Banyak orang begitu mudah menghakimi. Nuansa dibaliknya adalah rasa paling benar dan paling baik, dan keinginan cepat untuk menjadikan orang lain sebagai terdakwa tanpa peduli mungkin ada kisah dan pergumulan yang menyakitkan dibalik keputusan orang terjun ke dunia yang gelap itu. Lebih parah lagi, dosa ‘wanita-wanita pesakitan’ itu diumbar dan dijadikan bahan lelucon di pelataran maya. Dunia digital memang kejam Dab!!

Satu tanya di sudut pikirku, sempatkan kisah ‘wanita-wanita berdosa’ itu kita jadikan pelajaran? Sempatkah kita jadikan kisah viral itu bahan refleksi untuk kita setidaknya kalau tidak lebih baik tetapi tidak menjadi seperti mereka? Jangan-jangan banyak di antara kita juga pemain peran yang sama, hanya tidak ketahuan dan tidak viral. Kalaupun ketahuan tidak akan viral karena kita bukan tokoh publik.

Entahlah….yang pasti, saya juga tidak lantas membenarkan ‘sepak terjang’ Maria Zaitun ataupun VA. Mereka tetaplah telah melakukan kesalahan di masa lalu hidupnya. Untuk saya, dan semoga untuk anda juga, ada pelajaran yang kita petik dari kisah viral itu. Kita boleh kritis dan sinis dengan kesalahan (dosa), namun tidak hanya berusaha membesarkan (memviralkan) kesalahan orang dengan mengabaikan kekurangan diri.

Introspeksi diri penting di atas segalanya dan memperbaiki diri agar kapanpun itu kita tidak akan pernah menjadi bagian dari lingkaran ‘masa lalu Maria Zaitun dan VA’. STOP HANYA LIRIK DOSA ORANG, MARI PERBAIKI DIRI!! Stop tipu tapu!!!!

Akhirnya, saya kembali ingat Maria Zaitun dulu menutup kisahnya dengan bahagia.

Aku tak takut lagi. Sepi dan duka telah sirna. Sambil menari kumasuki taman firdaus dan kumakan apel sepuasku. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantinnya adalah saya.

***

Penulis: Staf Bawaslu Kabupaten Manggarai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here