Beranda Headline Cerpen: Menjaga Hati

Cerpen: Menjaga Hati

382 views
0
Ilustrasi (foto:istimewa/lukisanku.id)

Oleh: Marselinus Koka, RCJ*

Hujan belum rendah saat Thomas, lelaki tua itu meninggalkan rumahnya. Payung yang sedikit sobek itu seakan sudah cukup menutup tubuhnya dari guyuran hujan sore itu. Dia tahu betul kalau menunggu hujan sampe benar-benar berhenti akan membuatnya terlambat tiba di Gereja. Dia memang tak pernah bermain-main dengan yang namanya waktu. Waktu adalah rahmat, waktu pun adalah Tuhan. Itu saja yang ia tahu. Terlambat dan atau keterlabatan tak lain adalah sebuah kesia-siaan. Baginya doa, waktu dan Tuhan adalah keharusan. Titik. Kadang tak canggung-canggung ia akan sangat marah jika didapati anggota keluarganya tidak menyapa Tuhan dalam sehari. Barangkali ketaatan inilah yang mendatangkan berkat dalam hidupnya. Yopi, anak seminaris yang juga anaknya itu adalah berkat terindah yang dia miliki hingga saat ini.

Thomas hidup di tengah komunitas sosial yang memang sedikit menantang dan mungkin lebih pas memprihatinkan. Sebagian dari sesama warganya pesismis pula apatis dengan yang namanya kehidupan iman. Mereka seakan sudah lelah menjadi orang beragama. Katanya dipicu oleh beragam hal, seperti kecewa sama pemimpin gembala, gereja banyak tagihan, doa yang bertele-tele, khotbah yang tidak membumi, dan lain-lain. Pokoknya macam-macam. Tak heran bila urusan iman menjadi hal yang kesekian bagi mereka. Thomas menjadi satu-satunya insan yang sedang mencoba membendung badai sekularisasi yang mulai mengganas di tengah komunitasnya. Baginya menolak dan apalagi meniadakan Tuhan adalah awal dari sebuah kemalangan tetapi memilih bertahan dan memeluk iman adalah doa yang paling mengetarkan.  Dia yakin Yopi anaknya itu adalah bukti nyata bahwa Tuhan sanggup melakukan semua yang dianggap tidak mungkin oleh ciptaan-Nya. Yopi adalah sepotong doa yang nyata telah berwujud.

Kira-kira begitulah kilas balik Thomas lelaki tua yang juga adalah ayahku, saat umurku masih setinggi fajar tiga puluh  tahun yang lalu.

***

Tiga belas tahun sudah Yopi diriku ini menjalani hidup sebagai seorang yang dipanggil atau tepatnya biarawan. Annibale Maria Di Francia Seorang kudus ternama pernah bilang demikian: “panggilan itu lahir karena doa, panggilan itu bertahan karena doa”. Ayahku memang tidak sekuat dulu, namun doanya akan selalu tetap kuat. Umurnya memang sudah uzur namun aku yakin ia tak akan pernah uzur menjalani kebiasaannya itu. Doa, Gereja dan Kitab Suci itu adalah hidupnya. Dulu, pernah di satu waktu, saat aku dan dirinya pulang dari Gereja itu, persis di ditengah jalan sambil memegang pundakku dia bilang begini: “Nak! Kebenaran itu hanya di miliki oleh orang yang terus mencarinya, Tuhan dan panggilan juga demikian, kamu akan tetap bertahan kalau kamu tidak lelah mencari Tuhan. Panggilanmu juga akan tetap menjadi milikmu jika kamu belum berhenti mencintai Tuhanmu. Nak, jangan pernah main-main dengan Tuhan juga panggilanmu. Ingat itu Nak! Nasihat ayah sambil mengajaku berjalan. Namun setelah beberapa langkah, dia kembali memandangku dengan sorotan mata yang sungguh mengharapkan lalu dia bilang begini: “Nak, di dunia ini kamu akan menjumpai seribu satu cinta, dan kamu pun bisa terperangkap dalam cinta yang kelewatan. Dahulu aku pun demikian Nak, sebelum hatiku dan hati ibumu melebur menjadi satu, aku seakan tak bisa membendung seribu cinta yang bertubi-tubi datang menghampiriku, tetapi aku memutuskan untuk mencintai satu hati dan membiarkan yang lain pergi dengan bebas tanpa melukainya. Ku selip semua kenangan itu di langit sana lalu pelan-pelan awan menghapus pergi semuanya. Nak, mencintai itu pantas dan wajar, tapi kamu harus ingat Nak, kamu harus cukup bertahan pada satu cinta yakni cinta. Dia itu adalah Tuhanmu”. Kamu harus pandai menjaga hati Nak!

Pernah di kesempatan lain saat aku dan ayahku duduk bersama sambil menyeduh kopi di teras rumahku, dia memberikan sebuah saran yang sampai kini masih segar kuingat. Persis saat gelas kopiku sudah setengah, dia bertutur begini: “Nak, jika kamu menemukan hati mulai bercabang dan sudah melukai sekian hati, kamu harus berhenti dan dengan rendah hati harus berani menulis kata-kata maafmu. Menjaga satu hati itu bearti kamu tidak diizinkan tuk meladeni lain hati semaumu. Ingat itu nak!”

Aku tersadar tiba-tiba setelah semua kata-katanya itu menyerang isi kepalaku. Ah, kamu tega ayah. Bukankah cinta universal dan menembus batas. Bukankah mencintai itu wajar dan mencintai itu milik semua orang? Protesku sembarangan. Oh tidak. Tidak. Aku sudah salah ayah, mencintai itu bebas tetapi menjaga satu hati itu, harus! Terimah kasih ayah atas nasihat agungmu. Gumamku tegas.

Gerimis berjatuhan begitu cepat. Bertalu-talu menciumi atap rumahku. Sebagian lobang-lobang kecil sudah terisi air dan mulai menggenang. “Nak, kamu harus menulis maafmu pada cinta sejatimu”! Nasihat itu terus membuntutiku. Oleh karena itu bersama malam yang hampir hening, jemariku mulai menari-nari di atas catatan kecilku. Cacatan itu dirangkum kira-kira begini:

“Cinta, sejak pertama kali kita berjumpa, aku jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta begitu dalam. Mungkin kamu pun demikian. Bahkan aku yakin kamu sudah lebih awal mengenalku dan mencitaiku. Itu pasti. Namun maafkan jika aku sudah sedkit berlebihan. Tahukah kamu jika sesaat setelah kita adu padang di Gereja itu, dengan jujur aku utarakan pada orang tuaku kalau aku telah terlarut cinta padamu? Cintaku padamu melebihi segala rasa yang pernah ada. Sebagai bentuk kesungguhanku padamu, dan setelah sekian lama aku bergulat dengan semua rasaku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu di seminari. Dari subuh sampai senja aku selalu berusaha merebut seluruh perhatiaanmu. Aku menggodaimu lewat buku-buku kuliah, lewat buku-buku doa dan sejumlah kegiatan rohani lainnya. Itu semua kulakukan hanya ingin menunjukkan bahwa cintaku itu nyata bukan abu-abu. Cintaku hidup bukan mati. Aku benar-benar tak main-main mencintaimu.

Cinta, aku sadari betul bahwa kedewasaanku saat itu masih terlalu gamang, namun aku rela menjauh diri dari keluarga dan mengabaikan semua hasrat akan keindahan dunia agar aku makin dekat dan fokus mencumbuimu. Tetapi itu semua selalu tidak cukup. Cinta, tahukah kamu jika hal terberat dalam hidupku adalah mencintaimu? Aku sering menjumpai malam-malamku meredup begitu dalam. Langit juga sama. Muram, dan tak berbintang. Dewi malam yang sering kulihat mudah tersenyum, kadang menjadi jarang. Sesekali dia tersenyum namun berat. Dia mengerti betul apa kurasa saat itu. Namun kusimpan rapat itu semua dalam lemari hatiku. Itu akan abadi. Aku tahu bahwa cara terbaik mencintaimu adalah mencintaimu sampai aku bodoh. Itu saja.

Butiran waktu menetes dan menetes begitu cepat. Siang berganti malam. Hari berganti minggu. Bulan berganti tahun. Terus dan terus berlalu. Kini kutemuhkan diriku belasan tahun kulalui bersamamu. Mencintaimu memang tak pernah mudah seperti yang kuduga sebelumnya. Semakin kuberjuang mencintaimu semakin pula kurasa kau menjauhiku. Jenuh dan sepi kadang kurasa bagai teman hati. Gurun, kerikil dan duri hadir dengan mudah tanpa kubendung. Kau sering biarkan hatiku sendirian sampai tersesat berhari-hari bahkan hingga bertahun-tahun. Cinta,   sejujurnya, aku tahu kalau aku adalah orang tak pandai menjaga hati namun dari waktu ke waktu aku berjuang menjaga damai dihatiku. Walau suaramu seringkali samar kudengar namun setelah sekian jauh langkahku menjauh tak ragu-ragu aku mengatakan Ya selamanya pada-Mu. Kekal dan tergantikan. Sejak janji itu terucap, kuabdikan diri dan ragaku seutuhnya untukmu. Aku tahu hari tak selalu sama. Akan ada badai dan taufan. Akan ada tawa dan tangis. Tapi itu semua adalah jalan menuju hatimu.

Cinta, maafkan aku yang sering bermain di lain hati. Maafkan jika otak dan seluruh denyutku sempat berhenti mencumbuimu. Namun satu hal yang pasti Cinta, aku masih dan akan tetap sama, seperti kali pertama aku mencintaimu. Aku akan selalu setia menjaga hati, yakni cintaku padamu.”

Jemariku berhenti pada kalimat ini: “Cinta, di sini aku akan selalu setia menjaga hati, yakni cintaku pada-Mu”.

Air mataku jatuh tak terbendung. Semua tentang ayahku hadir dengan mudah di hadapanku. Thomas, ayahku itu memang orang sederhana yang mungkin tak dikenali sejarah namun aku yakin kata-katanya melampaui sejarah. Kata-katanya tetap beranak pinak selamanya. Aku termasuk orang yang sedikit beruntung karena punya ayah yang selalu melambungkan doa siang malam. Punya seorang ayah yang telah menelurkan nasihat-nasihat bijak di hari-hari hidupku. Aku bisa saja berada di persimpangan dan mencintai secara salah jika ayahku gagal menenun kata-katanya di hatiku belasan tahun silam. Ayah, engkau adalah masa lalu, saat ini dan masa depan hidupku. Terima kasih untuk kata-kata bijakmu.

Di luar bintang mulai tampak dan dewi malam melotot dengan gagah. Kudapati malam mulai terlelap dalam tidurnya. Aku sudah mulai ngantuk. Kupeluk malam dengan sebaris doa. Tak lupa kudoakan semua hati yang pernah kusinggahi termasuk mereka yang lagi meneguk baris demi barisa catatan kumal ini. Sambil tersenyum, aku menarik selimut usangku lalu terlelap bersama mimpi.

*) Asal dari Rio-Riung Barat, Bajawa-Flores NTT, dan sekarang tinggal di Rogatinist-Paranaque-Manilla-Filipina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here